Batik Selundupan Masuk dari Batam

Impor Tekstil Ilegal

Senin, 13/05/2013

NERACA

Jakarta - Staf Khusus Menteri Perindustrian yang juga Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pertesktilan Indonesia (API), Benny Sutrisno mengatakan, banyaknya batik selundupan impor masuk dari pelabuhan Batam, Kepulauan Riau, yang mana tidak termasuk ke dalam pelabuhan yang diizinkan untuk importasi tekstil.

"Saya melihatnya itu kebanyakan selundupan. Karena masuknya dari Riau, kalau tekstil itu masuknya hanya boleh ke beberapa pelabuhan dan bandara," kata Benny saat ditemui selepas acara Penutupan Pameran Industri Hijau, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, akhir pekan lalu.

Dikatakan Benny, 5 pelabuhan yang saat ini memiliki izin untuk importasi tekstil ialah Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Belawan Medan, Makassar, dan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. "Kalau udaranya Cengkareng (Soetta), Bali (Ngurah Rai), dan Surabaya (Djuanda)," katanya.

Kalaupun ada batik-batik yang masuk ke pasaran Indonesia secara resmi, Benny menegaskan itu bukanlah batik asli, karena batik asli hanyalah buatan Indonesia, dan negara-negara lain banyak yang mencoba meniru produk yang telah diakui UNESCO sebagai produk asli Indonesia ini.

"Saya ngelihatnya itu bukan batik. Itu printing. Orang pasti tahu batik. Seharusnya sekarang teman-teman mulai mematenkan batiknya. Dan pemerintah melakukan pengawasan barang beredar," tutur Benny.

Impor Batik China

Seperti diketahui, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), selama tiga bulan pertama tahun 2013, terdapat 159 ton batik China yang diimpor senilai US$ 4,6 juta atau setara Rp 43,7 miliar. Langkah pemerintah yang membuka kran impor batik asal Cina, dinilai membuat perajin batik lokal ketar ketir. Ahmadi, seorang perajin yang juga pengelola koperasi batik di Desa Klampar, Kecamatan Propo, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengakui kalau masuknya batik impor asal Cina merupakan ancaman.

Wajar Ahmadi gundah, pasalnya, kain batik Cina merupakan batik printing, sehingga mampu diproduksi dalam jumlah besar dengan cepat. Sementara batik dalam negeri, masih menggunakan batik tulis dan batik cap, yang prosesnya memakan waktu lama. "Ironisnya lagi, harga kain bercorak batik impor itu sangat murah," sesal Ahmadi.

Kekhawatiran Ahmadi akan gempuran batik impor juga bukan isapan jempol saja. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) selama tahun 2012, terekam lubernya kain batik asal Cina. Tercatat ada 1.037 ton produk batik asal Cina masuk ke Indonesia. Dengan nilai US$ 30 juta, atau sekitar Rp 285 miliar.

Dengan Impor terbesar berupa kain tenun dicetak batik sebanyak 677,4 ton, dengan nilai US$ 23,3 juta. Dan kain tenun yang dicetak dengan proses batik sebanyak 199,2 ton dengan nilai US$ 1,8 juta. Melihat itu, Ahmadi menyarankan, daripada membuka kran impor, pemerintah lebih baik mengupayakan peningkatan kemampuan produksi pebatik nasional dulu. Semisal, memberi bantuan modal dan program pemberdayaan di bidang usaha. Sehingga perajin batik lokal mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tanpa perlu mengimpor.

Pasalnya, beber Ahmadi, selain karena keterbatasan soal teknologi, salah satu penyebab minimnya produksi batik lokal juga lantaran perajinnya kedodoran di modal. Akibatnya, mereka harus meminjam uang untuk modal ke bank atau lembaga keuangan lainnya.

Dengan berbagai keterbatasan itu, ujar Ahmadi, para perajin batik lokal harus menghadapi derasnya batik asal Cina yang berharga jauh lebih murah dan perlahan menguasai pasar lokal. Padahal, ujarnya, batik merupakan buah karya anak bangsa yang wajib diproteksi.

Dan mestinya, kata Ahmadi, Indonesia-lah yang menjual kain batik tulis dan cap ke luar negeri, dan bukan malah sebaliknya mengimpor dari Cina. Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah menutup kran impor batik. "Jika tak ingin tradisi peninggalan nenek moyang hilang dari negeri sendiri," saran Ahmadi.

Dia yakin, jika pemerintah bisa membantu mengatasi masalah teknologi dan bantuan modal, volume produksi kain batik nasional akan meningkat dengan harga yang lebih terjangkau, atau malah bisa ekspor ke negeri jiran.

Tingkatkan Pengawasan

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pihaknya terus melakukan pelestarian dan perlindungan terhadap batik Indonesia dari pembajakan. Salah satunya dengan membuat logo Batikmark. Untuk diketahui, batik diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Unesco sejak 2009.

Logo ini merupakan pembeda batik buatan Indonesia dengan produk negara lain, sehingga memudahkan negara lain untuk mengenal batik Indonesia,” kata dia saat membuka pameran batikmark batik berkualitas.

Untuk memasyarakatkan itu, kata dia, pihaknya sudah mengeluarkan pearturan menteri perindustrian No 74 tahun 2007 tentang penggunaan batikmark. Menurutnya, penggunaan logo tersebut untuk menghadapi kompetisi produk atau yang mirip dijual di pasaran untuk menghadapi ancaman pembajakan batik asal indonesia oleh produsen tekstil luar negeri.

Lebih lanjut, dia mengatakan, saat ini Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik telah mengeluarkan 106 sertifkat batikmark dan terus mengalami peningkatan. Kendati begitu, kata dia, masih memerlukan sosialisasi.