Industri Pertimbangkan Produk Asuransi Mikro

NERACA

Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pernah bilang bahwa pihaknya bersama industri asuransi tengah membahas produk asuransi mikro (micro insurance product) seperti apa yang tepat untuk dijual ke pasar kelas bawah. Tak mengherankan, hingga kini, bentuk produk asuransi mikro yang dimaksud belum ada detail rinciannya.

“Saya yang kebetulan menangani proyekmicro insurancedi AAJI. Belum ada keputusan apa pun dan (saya) belum bisa memberikan informasi saat ini,” ujar Handojo Kusuma, Deputy CEO & Chief Distribution OfficerAllianzLife Indonesia kepada Neraca, pekan lalu. Handojo mengatakan, asuransi mikro merupakan sektor yang potensial.

Pasalnya, untuk menyasar sektor ini, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan perusahaan pembiayaan mikro seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan koperasi. AllianzLife Indonesia, tutur Handojo, akan semakin mengarahkan unit usaha syariah mereka untuk bermain di sektor mikro sebagai salah satu bentuk investasi jangka panjang untuk meningkatkan pendapatan premi perusahaan.

“Mikro ini bukan untuk pencarian profit, namun untuk membantu memasyarakatkan asuransi,” ungkapnya. Memang, premi unit usaha syariah Allianz Life Indonesia di sektor mikro, per Desember 2012, sudah mencapai Rp3,2 miliar, meningkat daripada perolehan di 2011 yang sebesar Rp690 juta.

Sementara Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim, menerangkan bahwa pihaknya tertarik mengembangkan asuransi mikro setelah mengikuti seminar dari Bank Dunia yang berfokus kepada produk tersebut.

“AAJI melihat itu akan bisa menjadi produk asuransi yang menarik. Tapi sampai saat ini memang belum besar (pendapatan premi dari asuransi mikro), karena tidak semua perusahaan asuransi jiwa masuk ke produk ini. Dalam laporan (keuangan perusahaan) belum kita pisahkan premi dari sisi mikro, tapi nanti di akhir 2013 diharapkan sudah (terpisah),” terang Hendrisman.

Dia lalu mencontohkan produk asuransi mikro ini adalah seperti produk Tabunganku di perbankan. AAJI masih menjajaki dan membahas produk tunggal yang bisa dijual semua perusahaan itu. “Kita sekarang sedang penjajakan (dengan industri asuransi), juga sedang meminta masukan dari OJK. Untuk pemasaran, kita bekerja sama dengan koperasi-koperasi, yayasan-yayasan, arisan ibu-ibu, dan lain-lain, supaya kita bisa lebih menjangkau orang-orang yang selama ini belum terjangkau asuransi jiwa,” jelasnya.

Belum ada standard

Dengan demikian, lanjut dia, sudah ada beberapa perusahaan asuransi jiwa yang sudah bergerak di asuransi mikro, seperti Allianz, Jiwasraya, Bumiputera, dan Avrist. Namun dirinya mengakui bahwa AAJI dan industri asuransi belum memiliki definisi standard mengenai asuransi mikro.

“Makanya kita meminta petunjuk OJK, atau malah kalau bisa dibuat regulasinya kira-kira asuransi mikro seperti apa supaya kita nyambung dengan mereka (regulator). Jadi sampai sekarang ada definisi yang berbeda. Tapi definisi yang termudah yakni asuransi mikro adalah asuransi bagi orang-orang yangunbankable. Cuma besarannya berapa, distribusinya lewat mana itukanbelum standard,” ucapnya.

AAJI, kata Hendrisman, ingin produk ini secepatnya diluncurkan, bahkan kalau bisa di tahun ini bisa terwujud. Namun, memang masih ada kendala pembahasan, yakni karena tidak mudah harus membuat satu produk yang bisa dijual oleh semua perusahaan asuransi jiwa.

“Semua perusahaan inikanpunyachanneldistribusi, karakteristik, dan kebijakan yang berbeda2. Jadi menyatukannya juga tidak mudah. Contoh untuk pembayaran premi, jadi asuransi mikro itu bukan cuma harganya saja yang murah, tapi juga harus memperhatikan bagaimana distribusi, penjualan, pengumpulan premi, kalau ada klaim siapa yang handle, jadi cukup banyak yang harus dipertimbangkan di situ,” papar dia.

Dia juga menambahkan, premi dari asuransi mikro itu memang bisa dibayarkan per bulan, per minggu, atau bahkan bisa saja sekali bayar. “Ini masih kita jajaki juga. Juga kita sedang pemantapan sertaencourageperusahaan bahwa akan ada produk asuransi mikro tersebut yang sama-sama kita cobacreate. Sehingga kita masih agak sulit menargetkan angka, karena (produk asuransi mikro) ini baru mulai,” pungkasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif Terus Dipacu

Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry untuk sektor otomotif. Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

Pers di Era Digital: Idealisme Versus Industri

Pers di Indonesia lahir dari idealisme para pendiri bangsa guna menyuarakan semangat memperjuangkan kemerdekaan kepada masyarakat luas, sejak zaman penjajahan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Mandiri Kembangkan Peran Ekonomi Pesantren

  NERACA Surabaya - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus memperkuat peran ekonomi pondok pesantren untuk menumbuhkan usaha mikro kecil dan…

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…