BEI Restui Apexindo Kembali Melantai - Dinilai Kinerja Keuangan Positif

NERACA

Jakarta-PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan membukakan jalan bagi PT Apexindo Pratama Duta untuk kembali mencatatkan sahamnya di lantai bursa (relisting) pada semester pertama 2013. Terlebih dengan kinerja perusahaan yang lebih baik,”Kinerjanya bagus, triwulan tiga ini mungkin akan relisting,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, dalam pelaksanaan relisting, perusahaan tidak lagi menggunakan penjamin emisi seperti halnya yang dilakukan pada saat penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) kali pertama. “Tidak lagi pakai underwriter (penjamin emisi), jadi prosesinya tidak seperti IPO.” ucapnya.

Porsi kepemilikan sahamnya pun, lanjut dia, masih sama pada saat perusahaan delisting karena pihak Apexindo belum akan menerbitkan saham baru. Sayangnya, sejauh ini dia belum dapat menginformasikannya secara lebih rinci terkait kepemilikan saham perusahaan tersebut.

Seperti diketahui, pada 2009 Apexindo di-delisting dari bursa lantaran terkena aturan \"chain listing\" (pencatatan saham berantai). Inti dari aturan itu menyebutkan suatu emiten yang dimiliki oleh emiten lain harus dilakukan \"delisting\" apabila menyumbang lebih dari 50% pendapatan konsolidasi emiten induknya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi PT Mitra Internasional Resources Tbk (MIRA) per kuartal ketiga 2008, APEX menyumbang 52% pendapatan MIRA. Namun, dalam perjalanannya kinerja MIRA mengalami tekanan dan merugi. Kemudian pada 28 Juni 2011, MIRA telah menjual 93,35 % saham anak usahanya, Sabre Systems International Pte Ltd (SSI) kepada Tuscany Investment Group Ltd senilai US$ 40 juta.

Dengan pengambilalihan saham SSI oleh Tuscany diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi Apexindo meskipun sahamnya sudah tidak tercatat lagi di bursa. Disebutkan, Tuscany akan melakukan restrukrisasi utang sebesar US$850 juta, menjajaki penawaran umum terbatas dan melakukan relisting kembali.

Minat Asing Tinggi

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan sebelumnya mengatakan, pasar saham Indonesia dalam posisi sangat positif, dimana demand asing terus bertambah pada kisaran belasan triliun. Hal tersebut didukung oleh kondisi fundamental Indonesia, di samping belum pulihnya pasar dan situasi ekonomi di Amerika dan Eropa.

Bahkan dia memproyeksikan aksi beli bersih (net buy) asing diperkirakan melebihi Rp 40 triliun pada akhir tahun ini. Selain itu, kinerja sektor pertambangan juga menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan. Menurutnya, faktor politis tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kondisi pasar saham. “Investor kita sudah sangat rasional saat ini. Apa yang terjadi dalam praktik politik praktis tidak banyak mempengaruhi pasar, “ ujarnya.

Hingga saat ini ada delapan emiten yang telah mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Delapan emiten tersebut yaitu PT Bina Buana Raya, PT Saraswati Griya Lestari, PT Sarana Meditama Metropolitan, PT Multi Agro Gemilang, PT Trans Power Marine, PT Steel Pipe Industry of Indonesia, PT Dyandra Media Internasional, dan PT Austindo Nusantara Jaya. (lia)

BERITA TERKAIT

Asuransi Jiwasraya Yakin Hasil Investasi Tumbuh Positif di 2018

      NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwasraya optimistis hasil investasi industri asuransi jiwa akan tumbuh positif tahun…

Nippon Paint Kembali Cetak Rekor MURI Kedua - Berhasil Cat 7.488 Gapura

Lagi untuk kedua kalinya, perusahaan produsen cat Nippon Paint kembali meraih rekor Muri dengan memecahkan rekor mengecat gapura merah putih…

Inkonsistensi Aturan Fintech di Tengah Target Inklusi Keuangan 75%

Oleh: Rezkiana Nisaputra Berubah-ubahnya aturan yang diterbitkan regulator bagi penyelenggara financial technology (fintech) diyakini menjadi sentimen negatif buat pertumbuhan industri…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Dihantui Volatile IHSG - BEI Masih Optimis Target IPO Melebihi Target

NERACA Jakarta – Di sisa paruh kedua tahun ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih optimis target perusahaan yang akan…

Pefindo Catatkan Penundaan Obligasi Rp 20 Triliun

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan kebijakan kenaikan suku bunga acuan bank Indonesia (BI) 7 Day Repo Rate yang telah mencapai 5.5%,…

Stock Split MNC Kapital Disetujui Investor

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT MNC Kapital Indonesia Tbk (MNC Financial Services), pemegang saham menyetujui…