Membaca Gejala Perubahan Sosial

Oleh: Tahan Manullang, SH, Direktur Alpiran Sumut

Senin, 13/05/2013

Harus diakui bahwa sejalan dengan semakin berkembangnya sebuah masyarakat, maka dapat dipastikan akan semakin banyak persoalan yang muncul. Ini sudah menjadi hukum alam dan diakui kebenarannya selama ini. Akan tetapi, kecerdasan dan kemampuan berpikir manusia membuat berbagai persoalan itu bisa dipecahkan sehingga masyarakat kembali pada keadaan seimbang.

Contohnya, di negara Barat telah ada peraturan baru bahwa anak-anak yang masih di bawah umur tidak diperkenankan mengakses teknologi yang dipergunakan untuk orang dewasa (misalnya internet) karena dikhawatirkan akan merusak mental mereka. Ini sudah menjadi pemahaman umum di sana.

Kita di Indonesia jelas tidak bisa melepaskan diri dari sebuah perkembangan zaman. Entah itu disebabkan oleh percepatan teknologi, perubahan pola pikir masyarakat atau adanya pengaruh dari luar.

Namun yang perlu dipikirkan, sejauh mana kita mampu mempersiapkan diri untuk merespons perubahan sosial tersebut. Ada yang harus kita pikirkan bahwa di tengah perkembangan ekonomi dan informasi yang begitu cepat, kita juga harus mampu memberikan respons yang cepat juga. Tetapi kondisi real di masyarakat jauh berbeda dengan percepatan itu. Mental kita belum siap menghadapi perubahan.

Atau juga pikiran kita yang masih belum siap untuk itu. Secara teoretis, masyarakat mempunyai mekanisme sendiri untuk mencari keseimbangan manakala ada perubahan sosial terjadi. Meski ada banyak teori sosial baru yang menggugat pendapat tadi, akan tetapi bagi masyarakat negara berkembang cara pandang struktural-fungsional itu masih cocok.

Titik persoalannya terletak pada mental dan kemampuan kita untuk membuat terobosan agar keseimbangan terjadi. Biasanya hal ini memerlukan norma dan instrumen baru untuk mempercepat ketidakseimbangan tersebut. Berbagai tindak kejahatan yang terjadi merupakan bukti betapa kita tidak siap dengan norma dan instrumen baru yang harus dibentuk untuk menekan kejahatan itu.

Norma Hukum Baru

Logikanya, semakin banyak kejahatan terjadi, harus ada norma hukum baru dibentuk, harus ada cara baru untuk menyadarkan para pembuat kejahatan itu. Ini menjadi kelemahan kita. Suatu kenyataan terbalik kita lihat di sini adalah bagaimana para tokoh, aparat dan aparatur pemerintah yang justru memberikan contoh keliru.

Bisa dibayangkan, percontohan apa yang bisa diberikan kepada masyarakat ketika oknum personel TNI secara terang-terangan menyerang Kapolsek, nilai apa yang bisa disaring dari oknum pejabat partai yang korupsi, dan cerminan apa bisa dilihat kalau tokoh-tokoh massa justru suka memamerkan diri melalui gambar pinggir jalan.

Lantas kita juga bertanya-tanya tentang apa makna kata sukses yang diucapkan manakala selesai melakukan sebuah kegiatan, padahal kegiatan itu kacau. Fenomena di atas memperlihatkan bahwa para elite kita justru tidak mampu menangkap gejala perubahan sosial yang ada serta tidak memahami langkah apa yang harus dilakukan. Pembentukan norma baru, pembuatan struktur baru, harus dilakukan berdasarkan konsentrasi.

Dengan konsentrasi seperti itulah nantinya segala perubahan sosial dapat diterima, disaring dan kemudian masyarakat kembali pada keadaan seimbang. Harus disiapkan konsentrasi lebih ketika kita masuk menuju dunia baru, dengan kecepatan interaksi jauh melampaui apa yang kita capai pada dekade-dekade sebelumnya. Tidak hanya aparat negara, penyelenggara pemerintahan yang tahu persoalan ini tetapi juga masyarakat. Kita harus siap dengan perubahan itu tetapi juga siap dengan cara mengantisipasinya.

Dengan persiapan itulah, kita menekan berbagai bentuk kejahatan yang muncul dan dengan persiapan itu kita menghadapi perubahan zaman demi stabilitas sosial. Sekali lagi, bagaimanapun di dalam iklim yang stabillah kita akan mampu menikmati hidup secara lebih baik. Kita perlu menyadari hal itu sepenuhnya agar ke depan kita dapat membaca dengan seksama tanda-tanda atau gejala perubahan sosial yang kian meningkat. Dengan demikian, maka kita akan dapat mengantisipasi berbagai hal buruk yang diprediksi akan terjadi di masa yang akan datang.

Peran Parpol

Sementara khusus menjelang pemilu 2014, peran parpol menjadi sangat besar dalam menentukan sekaligus menghadapi gejala sosial yang terjadi. Situasi politik yang ada sedikit banyak akan sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat, khususnya belakangan ini.

Untuk itu, maka perlu kiranya membangun partai politik yang kuat. Memang hal ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Diperlukan waktu yang panjang untuk membentuk partai yang benar-benar kuat. Karena itulah ada yang mengatakan bahwa pembentukan partai politik itu sifatnya sukarela. Arti kata ini tidak harus dimaksudkan sebagai upaya membentuk kesatuan sosial berdasarkan hobi, kesempatan dan kesenangan saja.

Tetapi kemauan yang tulus demi memperjuangkan kehendak rakyat secara riil. Dengan ketulusan, segala yang terjadi dalam partai tersebut akan dihadapi dengan berbagai risiko dan tantangannya. Sekadar contoh, kalau partai politik mengalami gejolak, entah korupsi maupun penurunan elektabilitas, para anggota partai akan menghadapinya dengan kekuatan secara bersama-sama.

Hanya dengan kesukarelaanlah akan mampu memberikan kekuatan kerja seperti itu. Sifat kesukarelaan tersebut juga mencerminkan adanya kesediaan untuk berjuang dan tidak memaksakan kehendak politik kepada ke-lompok tertentu.

Dari konteks itu, kita pandang ada kelemahan pada politisi kita sekarang. Bentuk kelemahannya cukup elementer. Fenomena yang sebelumnya sering kita lihat adalah banyaknya politisi kutu loncat. Sedikit ada perbedaan pendapat, mereka sudah menyeberang menuju partai lain. Atau apabila ada kesempatan yang lebih baik di partai lainnya, mereka melompat.

Hal ini sudah menjadi pola dan telah menjadi percontohan di kalangan para politisi. Sekadar urun pendapat saja, dibandingkan dengan politisi kutu loncat, jauh lebih baik politisi yang berani mendirikan partai politik baru. Pendirian partai politik mempunyai makna yang besar karena ada ide baru atau ideologi baru. Hal ini menandakan adanya pengayaan terhadap ide di masyarakat, dan menjadi wakil suara dari kelompok-kelompok pengikut.

Ide inilah yang melahirkan keluaran-keluaran baru kelak yang mungkin lebih cocok untuk menangani masyarakat Indonesia. Mereka yang tampil sebagai kutu loncat, tidak mungkin membentuk ide baru. Kebanyakan hanya mampu menyelamatkan diri sendiri dari karir politik, atau malah mencari celah keuntungan material. Ada juga alasan politisi demikian, memilih partai baru karena alasan kedekatan ideologis.

Hal ini tentu sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam era modern saat ini. Artinya bahwa gejala perubahan sosial yang ada sedikit banyak turut ditentukan atau dipengaruhi oleh praktik-praktik politik yang diperankan para tokoh parpol. Disinilah kita perlu bijak menyikapinya.(analisadaily.com)