Perlu Koreksi Target Investasi

Oleh : Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kepercayaan diri Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memasang target investasi sebesar Rp390,3 triliun di 2013 ini memang tidak ada salahnya. Kendati tak salah, seiring dengan keyakinan melambatnya ekonomi Indonesia tahun ini dibanding tahun-tahuan sebelumnya akibat tekanan krisis global, pencapaian penanaman modal sebesar itu bukanlah perkara mudah.

Apabila ditambah dengan gempuran sentimen negatif terhadap iklim investasi di negeri ini yang juga tak kalah kencangnya, target tersebut tampaknya terlalu muluk. Yang paling anyar, penurunan peringkat utang pemerintah yang dikeluarkan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poors (S&P) dari BB+ dengan outlook positif menjadi BB+ dengan outlook stabil boleh jadi menjadi alarm bagi pelambatan investasi, terutama investasi asing di Indonesia.

Kabar sekitar 190 perusahaan asing yang sedang bersiap-siap untuk hengkang dari Indonesia karena terbebani kenaikan upah tenaga kerja tentu saja tak boleh dianggap remeh. Kecuali sangat merugikan sektor ketenagakerjaan, kabar ini niscaya akan menghadirkan sentimen negatif, bahkan sangat negatif, bagi calon investor asing yang berencana memarkir dananya di Indonesia.

Secara teknis, investasi butuh keamanan. Keamanan inilah yang selalu menjadi pertanyaan para investor yang ingin datang ke Indonesia. Dan, celakanya, sebagaimana yang kerapkali dilansir Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kondisi keamanan investasi dalam negeri tidak kondusif. Demo buruh yang rusuh, bahkan seringkali diwarnai aksi sweeping otomatis menjadi indikasi ketidakamanan atas aset yang diinvestasikan.

Yang tak kalah penting, dunia usaha butuh kepastian. Namun ironisnya, kebijakan pemerintah di sektor investasi atau kebijakan pendukung penanaman modal tak sedikit yang justru menghadirkan ketidakpastian. Fakta mengenai ketidakpastian kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), misalnya. Pemerintah tidak hanya ragu, namun juga mencla-mencle. Rencana pemerintah menerapkan dua harga untuk BBM bersubsidi sekonyong-konyong berubah menjadi satu harga yang besaran dan waktu pelaksanannya masih gelap gulita.

Lebih celaka lagi, kebijakan yang terkait dunia usaha yang dikeluarkan pemerintah sifatnya selalu politis dan populis. Lebih-lebih tahun 2013 ini merupakan tahun yang sulit karena mendekati Pemilu 2014. Kebijakan yang akan diambil pemerintah selalu bersifat politis untuk mengamankan posisi hingga melewati tahun politis. Kondisi ini sudah pasti merugikan dunia usaha dan iklim investasi.

Catatan realisasi investasi sepanjang kuartal I-2013 yang mencapai Rp 93 triliun atau sekitar 23,84% dari target investasi 2013 yang dipatok pada kisaran Rp390 triliun tentu saja mesti diapresiasi. Yang jelas, kepercayaan diri BKPM memasang target tersebut dilandasi optimisme khas pemerintah. Namun, yang tak kalah jelas juga, kepercayaan diri BKPM memasang target tersebut mesti dibaca dalam satu tarikan napas dengan deretan permasalahan yang mendera dunia penanaman modal di Indonesia.

BERITA TERKAIT

Toyota Akan Gelontorkan Investasi Baru Untuk Mobil Listrik

Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) siap menggelontorkan untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri, yang ditargetkan pemerintah…

Cimanggis City Capai Target Penjualan

Cimanggis City Capai Target Penjualan NERACA Depok - Cimanggis City project property PT Permata Sakti Mandiri (PSM) menggenjot proses pembangunan…

Tumbuh Pesat, Perlu Strategi Hadapi Ekonomi Digital

Oleh: Lutfiana Nadzroh, Staf Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu *) Melalui diterbitkannya Paket Kebijakan Ekonomi XIV, pemerintah menargetkan Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…

Memupuk Pertumbuhan Kredit

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Kinerja penyaluran kredit pada April 2018 mengalami perbaikan lebih baik daripada akhir tahun…