Cadev Naik, Rupiah Ikut Terangkat

NERACA

Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (8/5), menguat empat poin menjadi Rp9.728 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya yang senilai Rp9.732 per dolar AS. Sementara kurs tengah BI tercatat, mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp9.734 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya senilai Rp9.741 per dolar AS. Menguatnya nilai tukar rupiah ini dikarenakan faktor cadangan devisa (cadev) Indonesia yang meningkat pada akhir April 2013 kemarin. \"Cadev Indonesia yang bertambah inilah membuat Bank Indonesia cukup leluasa menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil,\" kata pengamat pasar uang dari PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk, Ruly Nova di Jakarta, Rabu. Menurut dia, bertambahnya nilai cadev itu juga akan turut membantu pertumbuhan ekonomi domestik dapat terus meningkat pada tahun ini.

\"Perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat, meski dibayangi penurunan proyeksi oleh Standard & Poor\'s (S&P),\" kata dia. Sementara ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, menambahkan ekonomi Indonesia relatif memberikan kinerja pertumbuhan yang lebih tinggi karena dorongan dari sektor-sektor domestik. Dia mengemukakan dari sisi pengeluaran, konsumsi masyarakat masih menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi. Konsumsi masyarakat tumbuh 5,17% dibanding kuartal I 2012.

Tercatat, cadangan devisa (cadev) Indonesia per 30 April 2013 mengalami kenaikan menjadi US$107,27 miliar, dibanding posisi 28 Maret 2013 yang sebesar US$104,8 miliar. Cadev merupakan posisi bersih aktiva luar negeri pemerintah dan bank-bank devisa, yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi internasional. Devisa diperlukan untuk membiayai impor dan membayar utang luar negeri.

Mengutip laman resmi Bank Indonesia (BI), Rabu (8/5), menyebutkan penghitungan posisi cadev tersebut menggunakan konsep International Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) atas dasar harga berlaku dengan Format Official Reserve Asset (ORA). Konsep IRFCL ini hanya mencakup aset yang tergolong likuid dan penilaiannya menggunakan kurs yang berlaku pada saat akhir periode laporan. Laporan Perkembangan Moneter BI juga menyebutkan jumlah uang primer per 30 April 2013 sebesar Rp667,12 triliun. Sebelumnya, jumlah uang primer per 28 Maret 2013 mencapai sebesar Rp664,94 triliun.

Jumlah tersebut antara lain terdiri atas uang kertas dan uang logam yang diedarkan sebesar Rp392,22 triliun. Sebelumnya per 28 Maret 2013, jumlah uang kertas dan logam yang diedarkan sebesar Rp394,82 triliun. Selain itu disebutkan pula bahwa saldo giro pada BI per 30 April 2013 mencapai Rp234,06 triliun. Sebelumnya, per 28 Maret 2013, saldo giro bank pada BI mencapai sebesar Rp230,86 triliun. [ardi]

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah 0,24% Masih Dianggap Wajar

      NERACA   Jakarta - Tingkat pelemahan nilai tukar rupiah saat ini yang sebesar -0,24 persen (year to…

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

AAJI Dorong Asuransi Manfaatkan Aplikasi Digital

      NERACA   Bali - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendorong anggotanya untuk mengoptimalkan pemanfaatan aplikasi teknologi digital…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…