Pabrik Foxconn Siap Berproduksi Tahun Ini

Dipastikan Berlokasi di Jawa

Jumat, 10/05/2013

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan memastikan, pabrik komponen elektronik asal Taiwan, Foxconn, segera beroperasi di Indonesia pada 2013 ini. “Tahun ini mereka (Foxconn) sudah mulai melakukan assembling dan produksi," kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di Jakarta, Rabu.

Gita mengatakan, saat ini pabrik tersebut telah menandatangani kerja sama dengan mitra lokal untuk mendirikan pabrik yang akan beroperasi untuk melakukan perakitan dan produksi. Dia pun memastikan bahwa pabrik Foxconn yang akan didirikan berlokasi di Pulau Jawa meski belum memastikan daerah detailnya.

Besarnya konsumsi produk-produk teknologi, sambung Gita, sebaiknya diimbangi dengan produksi komponen di dalam negeri. Menurut dia, masyarakat seharusnya lebih memilih produk-produk dalam negeri dibandingkan membeli produk luar yang masuk secara ilegal. "Konsumsi produk-produk telekomunikasi kan besar sekali, seharusnya konsumsinya ini diisi dengan produk-produk buatan dalam negeri," ujarnya.

Karena itu, Gita mendorong para wirausaha lokal bidang teknologi komunikasi untuk bisa membuat produk-produk yang mampu bersaing dengan produk luar dan pemerintah akan berusaha membantu memberikan pendanaan. "Mudah-mudahan bisa memberikan semangat lebih banyak untuk para wirausaha nasional,” urainya.

Secara terpisah, Selasa, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan Indonesia masih banyak mengimpor telepon seluler (HP) dan laptop dari luar negeri. Hidayat mengaku sedih dengan kecenderungan masyarakat yang begitu kuat untuk membeli produk impor tersebut. "Itu yang saya prihatin. Makanya saya mendorong tahun ini juga joint venture besar yang dulu sering anda sebut (rencana perusahaan HP asal Taiwan, Foxconn Technology Group, membangun pabrik) itu akan terjadi," kata Hidayat di kantornya.

Dia mengungkapkan, saat ini Indonesia masih mengimpor sekurangnya 50 juta telepon seluler. Menurut Hidayat, besarnya impor itu harus segera diatasi. Caranya dengan membangun pabrik untuk memproduksi ponsel di dalam negeri. "Salah satu cara kita menyelesaikan persoalan itu dengan segera memasukkan investasi di sektor itu, sehingga akan ada substitusi impor dan saya menjamin anda pada tahun ini akan ada investasi besar di sektor itu," tegas Hidayat.

Industri Lokal

Ekonom Indef Ahmad Erani Yustika mengungkapkan banjirnya impor produk gadget bisa mengancam pertumbuhan industri gadget lokal di Indonesia. “Pemerintah harus memperkuat industri gadget lokal sehingga bisa bersaing dengan produk impor. Hal yang terpenting adalah pemerintah harus membangun suatu rancang bangun industri Indonesia sehingga bisa mengurangi produk impor datang ke Indonesia,” kata Erani.

Menurut Erani, pemerintah semestinya melakukan kebijakan yang mendukung kepentingan industri lokal seperti melakukan kemudahan dalam kebijakan fiskal maupun nonfiskal. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan harus mempunyai strategi perdagangan yang mementingkan perkembangan industri lokal.

“Impor gadget memang sangat merajalela sehingga akan bisa mengancam eksistensi dari industri gadget lokal. Maka diperlukan kemauan yang kuat dari pemerintah untuk mendukung kepentingan industri gadget lokal,” ujarnya.

Erani pun menjelaskan pemerintah Indonesia harus mempunyai roadmap dalam menjalankan kebijakan industri gadget lokal. Indonesia harus mempunyai pabrik gadget sendiri dan bisa memasarkannya di dalam negeri sehingga produk lokal bisa berkembang dengan baik. “Hal yang pasti untuk meredam impor gadget yang banyak maka dibutuhkan kebijakan dan regulasi pemerintah yang lebih mementingkan kepentingan industri lokal kita,” tambahnya.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Chris Kanter menjelaskan, banyak produsen yang menginginkan membangun pabrik gadget di Indonesia, namun keseriusan pemerintah menyikapi masalah-masalah yang terjadi sebelum membangun pabrik masih lemah. “Seperti masalah tanah dan proses perizinan harusnya dipercepat agar memudahkan investor membangun pabrik dan kita tidak ketergantungan dengan ponsel impor,” ucapnya.

Jika Indonesia ingin memiliki industri elektronik yang maju, sambung Chris, maka harus didukung oleh industri komponen dan bahan baku yang kuat. “Pemerintah juga harus bersinergi dengan investasi yang sudah ada dan memanfaatkan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar,” tambahnya.