Perdagangan Indonesia-China US$ 66,2 Miliar

Jumat, 10/05/2013

NERACA

Jakarta - Nilai investasi langsung dari China ke Indonesia tahun 2012 lalu berhasil mencapai US$ 600 juta , atau meningkat hampir 90% dibandingkan tahun 2011. Sementara volume perdagangan China-Indonesia tahun 2012 berhasil mencapai US$ 66,2 miliar naik 94% dibanding tahun sebelumnya.

Hal tersebut diungkapkan First Secretary Kedutaan Besar China di Indonesia, Xu Qiyi, saat memberikan penjelasan terkait dengan diselenggarakannya pameran mesin dan produk elektronik China ke-8 pada tanggal 16 Mei hingga 18 Mei di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/5).

Kegiatan pameran mesin dan produk elektronik China ke-8 yang diselenggarkan perusahaan Shandong Heavy Industry dan Weichai Power yang diponsori Kamar Dagang Ekspor Impor Produk Mesin dan Elektronik China beserta Departemen dagang lainnya.

Pameran ini akan dihadiri lebih dari 400 perusahaan dengan produk mencakup, pemanfaatan energi baru, peralatan rumah tangga dan elektronik, mesin kontruksi, mesin pertanian, mesin pengolahan makanan, mobil, sepeda motor dan suku cadang, bahan bangunan, dan perlengkapan sanitasi.

Xu Qiyi menambahkan, arus investasi China di Indonesia pada 2012 juga meningkat mencapai US$ 600 juta atau naik 90 % dibanding tahun lalu."Kenaikan arus investasi itu, karena sejumlah perusahaaan China yang termasuk dalam Group Shandong Heavy Industri (SHIG) Co Ltd terus melakukan investasi baru di Indonesia," ujar Xu Qiyi.

Indonesia, menurut dia, merupakan pasar potensial untuk digarap lebih jauh yang didukung oleh jumlah penduduknya yang besar, dan keuntungan yang lebih menarik dibanding negara lain. "China menyadari potensi Indonesia akan makin baik, apalagi arus investasi mulai beralih dari Eropa, Amerika Serikat ke pasar Asia khususnya Indonesia, " katanya.

Ditanya mengenai kualitas produk China yang kurang memuaskan, ia mengatakan, sejumlah perusahaan dibawah naungan Shandong Heavy Industri Co td akan memperbaiki kualitas produknya. "Kami mengakui ada produk-produk buatan China yang kualitasnya kurang, namun dengan berjalan waktu, maka perusahaan China akan memperbaiki kualitas tersebut," katanya.

Dia mengatakan, kualitas produk China yang kurang itu juga terjadi di Amerika Serikat, karena produk-produk dari Jepang lebih unggul di pasar Amerika.Namun hal itu tidak berjalan lama, setelah para produsen produk China menyadari pentingnya kualitas produk untuk menjaga mutu dan nama perusahaan. "Kami ingin membangun citra yang baik dengan bekerja sama mitra bisnis dari lokal," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Divisi Bisnis Shandong Heavy Industry Group, Co Ltd, Zheng Li mengatakan, pameran mesin-mesin dan produk elektronik China diharapkan akan berhasil menarik konsumen Indonesia sehingga dapat meraih dana sebesar US$ 2 miliar pada 2015. "Bahkan pada 2020 jumlah transaksi perdagangan akan meningkat tajam mencapai US$ 300 miliar, "ucapnya.

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah Indonesia harus terus memperbaiki infrastruktur agar roda pertumbuhan akan berkembang lebih baik."Kami percaya pemerintah telah mempersiapkan diri untuk dapat membenahi infrastruktur tersebut, " ucapnya.

Sebuah perusahaan China, Weichai Power melalui mitra lokal Indonesia sudah melakukan kerja sama sejak 30 tahun lalu, kata Xue Hua dari Weichai Power. Menurut Xue Hua, kerja sama dengan mitra lokal sudah mendapat respon masyarakat luas."Karena itu sejumlah perusahaan China akan melakukan investasi baru di Indonesia dalam rangka meningkatkan hubungan dagang," ujarnya.

Sebelumnya,Errika Ferdinata, Ketua Kompartemen SDM dan Kerjasama Internasional Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mengatakan mesin konstruksi asal China lebih murah dibandingkan mesin pabrikan negara lain. Menurut Errik, terdapat 170.000 perusahaan konstruksi di Indonesia, yang tergabung di Gapensi 60.000 perusahaan.

Errik menilai saat ini, perusahaan konstruksi asal Indonesia mulai melirik mesin 'made in China'. Namun masih memberatkan bagi pengusaha jika akan membeli."Mesin China sudah bagus, tapi mereka tidak ada layanan purna jual, karena mereka nggak ada di sini, dan pembiayaan (leasing) masih susah banget, karena kita nggak mungkin beli mesin cash," ujar Errik.

Errik berpendapat kualitas mesin asal China sudah bagus, harga lebih murah, tetapi orang masih berpikir bahwa produk China merupakan produk 'kelas dua'.

Ditambah lagi, tidak ada pembiayaan atau leasing dari bank. Berbeda dengan mesin dari Jepang, Amerika, dan Eropa yang mendapatkan down payment minim dan ada layanan purna jual.