Penggunaan Biodisel Ditargetkan 1 Juta KL

Sektor Energi

Jumat, 10/05/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah berencana meningkatkan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan jenis biodiesel yang akan dicampur dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan persentase mencapai 10% dari yang sebelumnya 7,5%. Dari kebijakan tersebut, diperkirakan akan menambah penggunaan biodiesel mencapai 1 juta kiloliter (KL) dari realisasi tahun lalu mencapai 700 ribu kiloliter.

"Dengan kebijakan tersebut maka dapat mendorong pemanfaatan biodiesel di sektor transportasi yang akan mencapai 1 juta kiloliter dari realisasi tahun lalu yang hanya mencapai 700 ribu kiloliter," ujar Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana di Jakarta, Rabu (8/5).

Menurut dia, peningkatan penyerapan biodiesel bersubsidi lantaran terjadinya perluasan penggunaan yang dari sebelumnya hanya di wilayah Jawa dan Sumatera. Untuk kali ini, kata Dadan, penggunaan biodiesel meluas hingga mencapai Kalimantan dan Sulawesi.

Rencananya pemerintah akan memasukkan kenaikan persentase campuran BBM tersebut ke dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2013 dengan DPR. "Kenaikan mandatori perlu mendapat persetujuan DPR, karena menyangkut alokasi subsidi yang bakal bertambah," tuturnya.

Selain itu, pemerintah mewajibkan perusahaan luar negeri yang menjual BBM non subsidi di Indonesia mencampurkan BBM yang dijualnya dengan BBN. "Mereka masih belum berminat untuk campurkan BBN ke BBM yang dijualnya," ungkap dia.

BBN Berkembang

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D.Janie merasa optimistis bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel berkembang pesat di Indonesia. "Fungsi biodiesel untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil, yang lambat laun produksinya akan menurun," kata Said.

Said mengatakan, biodiesel dibuat dari bahan baku tanaman jarak dan crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang pasokannya sangat banyak tersebar di wilayah Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Saat ini BBN biodiesel sudah mulai diaplikasikan pada jenis kendaraan otomatis dan beberapa pembangkit listrik, bahkan pemerintah sudah melakukan sosialisasi dari Aceh hingga Bali untuk penggunaan bahan bakar biodiesel.

Selain memproduksi biodiesel, BPPT juga melakukan penelitian terhadap cara pembibitan tanaman jarak serta membuat rancangan pabrik pembuatan biodiesel dalam skala kecil dengan produksi 3.000-6.000 liter per hari.

Dikatakan Said, biodiesel bermanfaat bagi kendaraan, industri pabrikasi, maupun pembangkit tenaga listrik, pasalnya penggunaan biodiesel sebanyak 10-20% mampu mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) hingga 20-30% dibanding BBM fosil, seperti solar dan premium. "Selain mengurangi kadar polusi CO2, biodiesel mampu memperlambat proses pemanasan global," kata Said.

Meski persediaan bahan baku biodiesel banyak tersebar di Indonesia, proses pembibitan secara massal menghadapi kendala, karena itu perlu penelitian khusus pembibitan jangka panjang bagi petani.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Target Pemerintah Indonesia untuk Mengembangkan Penggunaan Campuran Biodiesel sebanyak 5-10% pada tahun 2025 mendatang.

Dorong CPO

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun menuturkan rencana peningkatan penggunaan biodiesel Indonesia sebesar 64% tahun ini atau menjadi 1,1 juta kiloliter diharapkan benar-benar terjadi untuk menjaga atau bahkan mendorong harga crude palm oil (CP0). "Tahun lalu pemakaian biodiesel hanya 669.000 kiloliter. Kenaikan penggunaan biodiesel pada 2013 menjadi 1,1 juta kiloliter akan sangat menguntungkan Indonesia," kata.

Semakin menguntungkan, karena tahun ini Eropa juga diyakini kuat meningkatkan penggunaan CPO untuk biodiesel, menyusul diakuinya sertifikat RSPO dan ISSC. "Dengan kenaikan penyerapan CPO untuk biodiesel, diharapkan harga CPO naik terus setelah agak tertekan akibat krisis ekonomi global, termasuk kampanye negatif kelapa sawit khususnya di Eropa," ucap Derom.

Kenaikan penyerapan CPO untuk biodiesel juga kembali menggairahkan industri biodiesel di dalam negeri yang hingga tahun lalu masih tetap rendah atau di bawah 30% dari kapasitas. Total kapasitas tujuh atau delapan pabrik biodiesel di dalam negeri lumayan besar atau sekitar empat jutaan ton per tahun.

Dia menjelaskan penurunan produksi terjadi sejak beberapa tahun lalu dan semakin melemah pada 2011. Penurunan produksi karena ekspor biodiesel menurun terus yang antara lain disebabkan adanya penolakan Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Kedua negara itu menolak masuknya biodiesel Indonesia dengan alasan antara lain biodiesel dengan bahan baku bahan bakar itu yakni minyak sawit dapat merusak lingkungan.

Kedua negara itu juga menuding biodiesel Indonesia mendapat subsidi, sehingga bisa dijual lebih murah dari jenis bahan bakar lain. Itu mengganggu pemasaran bahan bakar dari jenis minyak nabati lain. Dia menyebutkan pada 2007 hingga 2008, ekspor biodiesel Indonesia sempat mencapai satu jutaan ton per tahun.