Investor China Bidik Kawasan Industri di Indonesia Timur

Jumat, 10/05/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan pemerintah menargetkan kerjasama dengan investor China untuk membangun kawasan industri di Indonesia Timur. "Yang kita targetkan itu adalah Indonesia bekerjasama dengan China untuk membangun kawasan industri di Indonesia timur, seperti di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi," ujar Hidayat di Jakarta, Rabu (8/5).

Menurut dia, China ingin membangun kawasan industri bersama pemerintah. Tujuan mereka ingin melakukan relokasi industri ke sini. "Mereka ingin membuat kawasan industri tiga sampai empat lokasi, dengan masing-masing lahan 5.000 hektare," ujar dia.

Kerja sama yang akan dibangun tahun ini, lanjutnya, menggunakan konsep government to government (G-to-G).Ia mengatakan pembangunan kawasan industri China tersebut untuk industri berat terutama processing industry seperti sektor logam dan minyak. "Pembangunan kawasan industri China di Kalimantan Selatan diarahkan pada sektor besi baja dan pabrik pemurnian nikel. Untuk wilayah Papua, diperuntukkan bagi penggalian minyak," kata dia.

Seiring dengan kerjasama tersebut, pemerintah akan menyiapkan jalan serta pelabuhan yang memudahkan keluar masuknya arus barang. Diharapkan investasi pembangunan kawasan industri China mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Pegembangan Kawasan Industri

Sebelumnya Mantan Ketua Kadin ini juga mengungkapkan pengembangan kawasan industri di luar pulau Jawa. "Sekarang masih terfokus di Pulau Jawa, ada beberapa pulau yang akan menjadi pilot project untuk kebijakan pengembangan kawasan industri ini," katanya.

Dia mencontohkan kawasan industri hilir di Kalimantan Timur akan dijadikan pilot project untuk pengembangan kawasan industri di luar Jawa. Selain itu, Indonesia juga akan membangun cluster khusus industri petrokimia di Papua Barat. "Pada saatnya nanti industri migas akan merambah ke Aceh, bahkan kami targetkan akan sampai ke Papua," katanya.

Hidayat mengatakan perubahan fokus relokasi ke luar Jawa juga harus dilakukan karena semakin terbatasnya lahan industri yang tersedia. Ia mencontohkan di Jawa Barat, seluruh kawasan industri sudah habis. Mantan ketua Kadin ini mengatakan nantinya kawasan industri harus ditawarkan dengan sistem supply dan demand.

Pembangunan infrastruktur, kata Hidayat, harus menjadi fokus dalam pengembangan lahan industri di luar pulau Jawa. Menurut dia, investor akan tertarik menanamkan modalnya jika masalah infrastruktur dasar sudah tertangani. "Setelah infrastruktur selesai, baru kita membujuk mereka," katanya.

Hidayat mengatakan bukan tidak mungkin pengembangan infrastruktur dasar diserahkan pada pihak swasta. Sebab tanggung jawab mengembangkan kawasan industri, tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah. Ia mencontohkan Cina yang sukses mengembangkan kawasan industri karena partisipasi penuh dari swasta.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, mengatakan kebijakan pengembangan industri harus diubah. "Kalau dulu, ada sumber gas atau mineral di Papua, maka dibawa ke Jawa, sekarang harus diubah. Ditemukan di sana ya harus dikembangkan di sana," katanya.

Pengembangan sumber daya di kawasan industri di luar Jawa, kata Hatta, juga jangan hanya fokus pada sumber daya mineral, tetapi juga pada sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Ia mengatakan pengembangan industri di luar Jawa harus dibarengi dengan perubahan pendekatan kebijakan industri yang selama ini dianut.

Hal senada, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi mengatakan, investasi otomotif di Pulau Jawa semakin meningkat, karena didukung dengan infrastruktur yang memadai, seperti pelabuhan dan jalan raya.

Hal tersebut diakuinya sangat memudahkan proses ekspor. "Jika wilayah lain di luar Pulau Jawa ingin menjadi kawasan industri otomotif, harus segera membangun infrastruktur pendukungnya, terutama jalan raya dan pelabuhan," kata Sudirman.

Dengan kenyataan itu, Gaikindo berharap, mobilitas darat dipermudah untuk mendukung kegiatan ekonomi. "Karena itu, dibutuhkan perbaikan dan peningkatan infrastruktur umum, seperti pembukaan ruas jalan raya baru dan didukung dengan pemeliharaan yang optimal. Ini agar distribusi ke luar Jawa semakin meningkat," tuturnya.

Sedangkan Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri pada Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Dedi Mulyadi, mengakui, investor memilih Pulau Jawa karena infrastrukturnya memang menunjang. "Apalagi saat ini beberapa perguruan tinggi jurusan teknik yang berkualitas masih banyak berlokasi di Jawa. Hal ini juga menjadi pertimbangan bagi investor otomotif untuk berinvestasi," katanya.