Negeri Importir

Sabtu, 11/05/2013

Negeri Importir

Oleh Bani Saksono

(wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Indonesia adalah kampung besar dengan penduduk dari berbagai suku dan kelas. Seluruh kebutuhan hidup, baik sandang, pangan, papan, juga pendidikan, tersedia. Begitu makmurnya, banyak warga kampung lain tinggal dan mencari penghidupan kampung itu. Sandang, ada banyak jenisnya, tenun, batik, sutera, songket, sarung dan dengan berbagai corak pakaian daerah.

Persediaan pangannya pun melimpah ruah. Beras, gandung, kedelai, hingga singkong dan ubi. Ikan bermacam-macam jenisnya, baik ikan air tawar maupun ikan dari budi daya laut. Penduduknya juga bisa makan daging dan ayam. Telor, telor bebek, telor ayam, maupun telor burung puyuh. Susu juga tersedia, baik susu hewani dari sapi maupun kambing, atau susu nabati dari kedelai. Susu bubuk atau susu cair. Untuk pemanis, ada gula tebu dan gula kelapa. Minuman madu juga aneka macam jenisnya.

Untuk memasak, aneka bahan dan bumbu tersedia. Mulai dari cabe, garam, lada, kemiri, ketumbar, sereh, jahe, kunyit, kayu manis, jinten, bawang merah, dan bawang putih. Aneka macam sayuran, kobis, buncit, ketimun, wortel, sawi, slada, daun papaya, daun singkong, brokoli, bayam, juga kangkung. Sedangkan buah-buahnya aneka macam. Pepaya, pisang, mangga, manggis, jambu, semangka, melon, durian, kelapa, srikaya, sirsat, duku. Makanya ada lagu anak-anak, …. Mangga, pisang, jambu, adanya di Pasar Minggu……

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, tersedia pula aneka macam ramuan dari tetumbuhan, baik dedaunan, maupun potongan kayu, juga akarnya dari berbagai jenis. Tetumbuhan itu dapat dipakai sebagai obat maupun untuk menjaga vitalitas tubuh agar tetap bugar. Semua itu dinamakan herbal. Itu sebabnya Indonesia disebut negara agraris.

Negeri ini juga memiliki tambang berbagai mineral. Emas, perak, tembaga, batubara, marmer, minyak bumi, gas dengan berbagai varian. Dari cadangan yang ada, semua mampu menghidupi seluruh penghuninya. Serba ada dan serba kecukupan. Bahkan sebagian dijual ke luar.

Kini, suasana sudah berubah. Dari sebelumnya serba kecukupan, menjadi serba kekurangan. Hingga akhirnya segalanya harus dicukupi dengan cara impor. Kalaupun barang yang sama sudah tersedia, harganya lebih mahal dan kualitasnya lebih jelek. Jadi, mau tak mau para penduduk membeli hampir seluruh komoditas kebutuhan hidupnya dari impor, terutama barang olahan yang tak bisa dibuat sendiri. Semua serba diatur luar negeri.

Sampai-sampai ada yang berseloroh, kalaupun boleh, pemerintahan dilimpahkan ke asing, termasuk dengan pola outsourcing. Yang penting, neraca keuangan APBN maupun APBD berimbang hingga roda pembangunan berjalan. n