Pentingnya Matematika dan Sains Bagi Perkembangan Ekonomi

Ajang ISEF 2013

Sabtu, 11/05/2013

Indonesia adalah negara paling bersinar di tengah krisis global beberapa tahun terakhir. Ini dibuktikan dengan kemampuannya untuk bertahan dari dampak penurunan ekonomi global karena tumbuhnya konsumsi domestik. Dengan kemampuan ini, Indonesia bisa menjadi negara dengan perekonomian terkuat nomor 7 di dunia pada 2030.

Dalam laporan yang dirilis perusahaan konsultan manajemen global, McKinsey & Co, diungkapkan bahwa Indonesia akan menawarkan peluang bisnis bagi sektor swasta senilai US$ 1,8 miliar pada 2030 di beberapa sektor. Di antaranya mencakup sektor perikanan, pertanian, dan sumber daya alam. Hal ini membuat peluang investasi sangat menarik bagi investor dan pebisnis internasional.

Berangkat dari hal tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memfomulasikan sejumlah kebijakan strategis untuk menjawab tantangan ini. Salah satunya adalah dengan mengirim lima orang siswa untuk mengikuti ajang kompetisi sains dan teknik tingkat internasional yang berjudul \"International Science and Engineering Fair\" (ISEF) 2013 di Arizona, Amerika Serikat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menuturkan, pendidikan merupakan faktor penting dalam pengembangan ekonomi di Indonesia terutama untuk menyediakan tenaga kerja terampil. Untuk itu, sebuah dukungan baik dari pemerintah maupun sektor swasta mutlak diperlukan.

\"Generasi muda harus diberikan wadah. Berawal dari ajang kompetisi seperti yang disponsori oleh Intel ini, mereka nantinya dapat memikirkan jalan keluar terhadap permasalahan dengan basis ilmu pengetahuan dan teknologi,\" kata Mohammad Nuh di Jakarta belum lama ini.

Menurut dia, bila sejak dini para siswa Indonesia sudah berkolaborasi dalam forum-forum ilmiah tingkat inernasional, di masa depan para siswa cenderung akan membangun hubungan yang semakin baik dengan dunia luar sehingga dapat membangun hubungan yang saling menguntungkan.

Sementara itu, Kepala Humas Intel Indonesia, Deva Rachman mengatakan bahwa Intel telah mensponsori kompetisi sains dan teknik pra-universitas sejak 1997 guna mendorong semangat generasi muda dalam mempelajari matematika dan sains yang dinilai penting bagi perkembangan ekonomi global.

\"Melalui kompetisi ISEF ini, kami menghargai semangat para pelajar berbakat dari seluruh dunia untuk berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Dalam ajang ini, para peserta kompetisi juga dapat saling terhubung satu sama lain,\" kata Deva.

Kelima perwakilan Indonesia untuk ISEF akan berada di Amerika Serikat untuk berkompetisi dan menunjukkan inovasi ilmiah bersama 1.500 pelajar lain dari seluruh dunia mulai dari 12 Mei - 17 Mei. Para siswa yang terpilih untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi itu adalah Jovita Nathania, Maria Christina Yolenta Lestari, Rosinta Handinata, Hani Devinta Sari, dan Muhammad Imadudin Siddiq.

Intel ISEF merupakan kompetisi sains terbesar di dunia untuk pelajar kelas IX-XII, dan diikuti oleh 8,5 juta siswa, hingga tersaring lebih dari 1500 finalis dari 50 negara. Kompetisi ini dinilai oleh ratusan juri termasuk peraih nobel dunia. Total hadiah dari kompetisi ini senilai US$ 4 juta, termasuk di dalamnya beberapa penghargaan dan kategori terbaik dalam Grand Award Intel ISEF di Arizona, Amerika Serikat.