Indosat Hengkang dari Bursa NYSE

HADAPI PERSAINGAN CUKUP BERAT

Rabu, 08/05/2013

Jakarta – Keputusan PT Indosat Tbk (ISAT) keluar atau delisting dari pencatatan saham di pasar modal Amerika atau New York Stock Exchange (NYSE) ) menjadi gambaran kinerja keuangan perseroan tidak lagi cemerlang di tahun sebelumnya, kendatipun perseroan mengklaim alasan delisting di pasar saham Amerika karena efisiensi.

Menurut analis pasar modal dari PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo, keputusan Indosat keluar dari pasar saham Amerika menjadi catatan bila saham perseroan sudah tidak likuid lagi, “Sebagai emiten yang dual listing, Indosat tidak lagi memiliki likuiditas yang menarik di pasar,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (7/5).

Oleh karena itu, lanjutnya, perseroan tidak mampu bersaing dengan emiten yang bergerak dalam industri yang sejenis. Pasalnya, dengan mencatatkan saham di luar negeri, Indosat memiliki saingan yang jauh lebih besar, seperti AT&T dan Vodafone.

Sementara dari sisi teknikal analis, pada periode tahun sebelumnya saham ISAT pun sideways sehingga tidak mampu menarik perhatian pasar. Tidak hanya itu, tahun 2012 Indosat juga menglami penurunan laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk tahun 2012 sebesar 52,55% menjadi Rp417,4 miliar. Angka ini dibandingkan laba 2011 yang sebesar Rp879,7 miliar.

Oleh karena itu, kata Lucky, dengan keluarnya ISAT dari pasar Amerika Serikat (AS) dikarenakan terlalu beratnya persaingan di luar negeri. Selain itu, perusahaan juga tidak mampu melakukan corporate action yang dapat menarik investor asing. Kecuali, apabila Indosat membuka peluang diri untuk melakukan merger atau akuisisi dengan perusahaan Amerika. “Saat ini kondisinya sangat tidak bagus dan memang mengharuskan ISAT untuk keluar dari NYSE,”tandasnya.

Pada perdagangan kemarin, saham ISAT di NYSE tercatat berada di level 18 dolar per lembar untuk harga terendahnya (undervalued) dan 37 dolar untuk harga tertingginya (overvalued) dengan harga wajarnya yang berada di kisaran 20 dolar. Sementara saham TNT berada di level 37 dolar, dengan harga tertingginya di level 39 dolar dan harga terendahnya di level 32 dolar per lembar.

Dengan melihat pergerakan saham beberapa periode, menurut Lucky, cukup sulit bagi Indosat untuk mencatatkan kenaikan. Bahkan, secara teknikal saham tersebut berpotensi mengalami pelemahan ke depan. Karena itu, pencatatan sahamnya di luar negeri hanya akan menguras biaya operasional perseroan.

Menurutnya, hal yang dapat dilakukan Indosat untuk mendukung kinerjanya ke depan, yaitu dengan melakukan merger ataupun akuisisi dan melakukan pembagian dividen dengan nilai yang menarik. Pada perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, saham ISAT ditutup di level 5.600 dengan harga tertingginya di level 7.200 dan terendahnya di level 3.400. “Dengan harga wajarnya yang berada di level 5.000, harga saham ISAT cukup menarik di dalam negeri.” pungkasnya.

Bagi pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani, delisting Indosat dari NYSE menurunnya minat para investor disana dengan saham Indosat yang disebabkan oleh penurunan nilai investment.

Tidak hanya itu, yang menyebabkan Indosat delisting dari NYSE adalah nilainya dahulu BB(+)positif sekarang BB (-) stabil padahal untuk disebut sebagai investment grade, harus memenuhi syarat BBB(-), “Hal ini yang menjadi penyebab minat asing terhadap emiten Indonesia menurun. Saat inipun terjadi hal yang sama dengan Bursa Indonesia (BEI), biasanya asing sampai pada akhir tahun 40% menguasai pasar namun, sekarang sekitar 26 – 36%,”ungkapnya.

Sebaliknya, pengamat pasar modal Satrio Hutomo sependapat dengan alasan Indosat keluar dari NYSE dengan asalan efisiensi. Menurut dia, Indosat memang perlu melakukan efisiensi besar-besaran. Pasalnya, selama ini langkahnya Indosat begitu-begitu saja, “Bandingkan dengan Telkom yang sudah bisa mentransformasi dirinya dari perusahaan telekomunikasi menjadi perusahaan multimedia. Sementara Indosat tidak masuk ke TV prabayar, tidak masuk ke data yang lewat rumah. Jadi memang sebenarnya kalau persaingannya di situ, berat juga untuk Indosat. Dia membutuhkan biaya yang banyak sehingga harus efisien,”ungkapnya.

Selain itu, listing di NYSE juga membutuhkan biaya yang besar dan energi lebih. Sebagai informasi, listing fee di NYSE tinggi dan standard akuntansinya juga beda. Belum lagi agitator. Itu memang cukup membutuhkan biaya.

Telkom yang sekarang masih listing di NYSE pun pernah mencoba keluar dari NYSE, kata Satrio. Alasannya sama, yaitu efisiensi. Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy mentuturkan, keputusan Indosat keluar dari NYSE adalah dengan sukarela. \"Karena untuk dual listing di bursa luar negeri juga keputusan bebas dari sebuah perusahaan, karena itu untuk keluar juga bebas saja atau itu merupakan hak prerogatif mereka," jelasnya.

Sedikit Manfaat

Dia menambahkan, keluarnya Indosat dari NYSE bisa jadi karena mempertimbangkan bahwa manfaat yang di dapat dari dual listing tidak seimbang dengan biaya atau yang harus di keluarkan. "Karena itu bursa di AS, jadi pasti mempunyai requirements dan aturan yang berbeda, serta cost lebih mahal, karena misalnya dia harus membayar audit fee yang lebih besar karena harus menyesuaikan dengan standar pelaporan di sana. Jadi mereka melihat apakah listing di sana masih wajar atau tidak dengan seluruh biaya yang harus dikeluarkan,"jelasnya.

Menurut Budi, alasan bagi sebuah perusahaan untuk melakukan dual listing di bursa luar negeri adalah lebih dikarenakan rasa bangga karena bisa listing di bursa yang punya prestige di dunia, karena proses untuk listing di sana juga harus melewati berbagai tahapan yang tidak sebentar. Maka itu, sebenarnya dengan sebuah perusahaan itu dual listing akan membuat investor lebih menghargai mereka.

Direktur Utama & CEO Indosat Alexander Rusli mengatakan, perseroan berencana menghapus pencatatan sahamnya (delisting) atas American Depositary Shares (ADR) milik perseroan dari New York Stock Exchange. Proses delisting itu akan berlaku efektif pada 16 Mei 2013. “Delisting ini akan mengurangi biaya administrasi terkait pencatatan di NYSE. Dengan melakukan langkah ini diharapkan terjadi peningkatan efisensi administrasi pada bisnis perseroan,” jelasnya.

Setelah melakukan delisting dari NYSE, lanjut Alexander, investor akan tetap dapat membeli dan menjual saham perseroan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Pihaknya juga menegaskan akan tetap sepenuhnya berkomitmen untuk melayani investor perseroan di Amerika Serikat dan mengacu kepada standar transparansi tertinggi dalam laporan keuangan serta keterbukaan tata kelola perusahaan. Sehubungan dengan delisting ini, perseroan juga berencana untuk menghentikan pendaftaran sahamnya di US-SEC sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku di AS. lia/ria/nurul/iqbal/bani