Penyerapan Belanja Ditargetkan 50% - Semester I 2013

NERACA

Jakarta- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menargetkan penyerapan belanja pemerintah hingga 50 persen pada semester I/2013 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. \"Saya meminta, kalau ingin belanja proposional, di kuartal dua itu seharusnya sudah mendekati 50 persen,\" ujarnya di Jakarta, Selasa (7/5). Hatta mengatakan upaya tersebut tidak mudah dilakukan karena pada triwulan I realisasi belanja pemerintah baru mencapai 10 persen, dan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

\"Oleh sebab itu, (penyerapan) di kuartal dua ini harus betul-betul tinggi. Yang sudah \'on the pipeline\', sudah tender dan segala macam, saya harapkan bisa didorong untuk dipercepat,\" kata Hatta, yang merangkap sebagai pelaksana tugas Menteri Keuangan ini. Hatta mengharapkan, dengan mempercepat penyerapan belanja pemerintah dan belanja modal yang ikut menyumbang sektor investasi, angka pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik dari triwulan I/2013.

\"Itu bisa mendorong dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan. Inilah yang harus kita lakukan perbaikan pada kuartal dua untuk mempercepat belanja,\" ujarnya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2013 hanya mencapai 6,02 persen secara tahunan (yoy), akibat sejumlah indikator komponen pengeluaran menunjukkan penurunan. Pertumbuhan ekonomi tersebut didukung konsumsi rumah tangga yang secara tahunan (yoy) tumbuh sebesar 5,17 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 0,42 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 5,9 persen, ekspor 3,39 persen dan impor minus 0,44 persen.

Berdasarkan catatan BPS, selama Januari-Maret 2013, penyerapan anggaran belanja pemerintah serta belanja modal turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari 17,8 persen menjadi 16 persen. Sementara, pada APBN 2013, pemerintah memberikan alokasi anggaran belanja pemerintah sebesar Rp1.154,4 triliun. Sedangkan realisasi belanja pemerintah pada 2012 mencapai Rp1.001,3 triliun dari pagu APBN-Perubahan Rp1.069,5 triliun.

Dia juga memastikan pemerintah akan merevisi target pertumbuhan ekonomi 2013 dari yang tercantum dalam APBN sebesar 6,8 persen, karena kondisi perekonomian global belum membaik. \"Pertumbuhan ekonomi masih 6,8 persen harus direvisi, kita harus realistis bahwa ekonomi dunia masih seperti ini,\" ujarnya.

Menurut Hatta, asumsi pertumbuhan pada 2013 diperkirakan hanya berada pada kisaran 6,3 persen-6,4 persen dan saat ini penghitungan tersebut masih berada dalam kajian, sebelum pengajuan APBN-Perubahan. \"Kalau kita lihat, \'range\' kita itu segitu, masih kita dalami,\" kata Hatta, yang juga menjabat sebagai Menko Perekonomian ini. Hatta juga mengatakan target lifting minyak dalam APBN 2013 yang mencapai 900.000 barel per hari akan mengalami revisi, karena produksi minyak tahun ini diperkirakan makin menurun.

\"Lifting sudah tidak mungkin mencapai angka yang kita targetkan 900.000 barel per hari, mungkin sekitar 800.000-an barel,\" ujarnya. Selain itu harga minyak mentah Indonesia atau ICP juga diperkirakan mengalami perubahan, walaupun saat ini rata-rata harga minyak dunia, masih sesuai asumsi APBN sebesar 100 dolar AS per barel.

\"Harga \'crude\' mungkin kita lihat ada sesuatu, dan semua itu akan berpengaruh pada penerimaan. Itu nanti akan kita lakukan pembahasan,\" kata Hatta. Pemerintah segera mengajukan APBN-Perubahan untuk dilakukan pembahasan dengan DPR RI, karena saat ini sejumlah asumsi makro sudah tidak menunjukkan kesesuaian dengan kondisi terkini dan mempengaruhi postur anggaran.

Selain itu, pengajuan APBN-Perubahan ini juga membahas penambahan belanja bantuan sosial sebagai kompensasi yang belum dianggarkan dalam APBN, untuk mengantisipasi rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Saat ini asumsi makro dalam APBN 2013, antara lain pertumbuhan ekonomi 6,8 persen, laju inflasi 4,9 persen (yoy), tingkat bunga SPN 3 bulan 5 persen, nilai tukar Rp9.300 per dolar AS, harga ICP 100 dolar AS per barel, lifting minyak 900.000 barel per hari dan lifting gas 1.360.000 setara minyak. [ardi]

BERITA TERKAIT

Kinerja PLN Jabar Semester Pertama 2018 Meningkat

Kinerja PLN Jabar Semester Pertama 2018 Meningkat NERACA Bandung - Kinerja PLN Distribusi Jawa Barat (Jabar) pada semester pertama tahun…

Pertamina EP Catatkan Kinerja Positif di Semester I

  NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2018.…

Kejar Target Pertumbuhan, Belanja Modal Perlu Didorong

      NERACA   Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan realisasi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Korporasi Diharapkan Tak Borong Valas

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta dunia usaha tidak memaksakan diri untuk "memborong" valuta asing…

Iklan Edisi Ramadhan Yang Paling Disukai - Hasil Studi Kantar Millward Brown

    NERACA   Jakarta – Hasil studi Kantar Millward Brown soal Iklan Ramadhan yang paling disukai di 2018 menyebutkan…

IIF Target Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp10 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan untuk infrastruktur mencapai Rp10 triliun. Hal…