Kebutuhan Investasi Diklaim Meningkat

Dampak Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta – Kabar tentang penurunan peringkat outlook ekonomi Indonesia menjadi stabil dari Standar and Poor’s dinilai hanya memberikan sentimen negatif sementara terhadap investasi di pasar modal. Pasalnya, positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjadi daya tarik investor asing untuk menanamkan dananya di Indonesia.

Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Denny R. Taher mengatakan, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia dan jumlah masyarakat kelas menengah yang terus bertambah menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kebutuhan investasi reksa dana di Indonesia, “Kelas menengah Indonesia mayoritas merupakan masyarakat terdidik yang mulai sadar pentingnya berinvestasi, kondisi itulah yang menjadi peluang industri reksa dana untuk meningkatkan dana kelolaan," katanya di Jakarta, Selasa (7/5).

Dia mengemukakan bahwa McKinsey Global Institute meperkirakan kelas menengah di Indonesia akan mencapai 135 juta pada tahun 2030. Saat ini, jumlah kelas menengah di Indonesia masih sekitar 50 juta orang. Menurut McKinsey kelas menengah adalah individu yang berpendapatan minimum US$ 3.600 per tahun.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2012 sudah mencapai sebesar US$ 3.562. Kondisi itu, lanjut Denny, mendorong PT Trimegah Asset Management menerbitkan produk investasi reksa dana baru untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat, yakni TRAM ALPHA.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad pernah bilang, industri pasar modal dalam negeri masih likuid dan terlihat dari melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga tembus level 5000 poin.

Kata Muliaman, melesatnya pertumbuhan IHSG menjadi cerminan bila industri pasar modal dalam negeri masih positif dan bahkan menjanjikan, “Kondisi pasar modal yang baik diharapkan jumlah perusahaan melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) lebih besar. Sementara ini ada 20 perusahaan masuk dalam 'pipeline' IPO,"ujarnya.

Menurutnya, dengan bertambahnya jumlah perusahaan yang tercatat di BEI akan membuat pasar modal Indonesia lebih ramai sehingga nilai kapitalisasi Bursa terus meningkat. Kemudian tantangannya, adalah bagaimana OJK menjamin kondisi pasar uang tetap kredibel serta pengawasan juga lebi baik.

Muliaman juga mengatakan kinerja emiten domestik yang positif juga merupakan salah satu katalis indeks BEI mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga menembus level 5.000 poin,”Investor merasa percaya diri terhadap perfoma emiten di pasar modal, kinerja emiten sangat penting bagi pertumbuhan pasar modal,”jelasnya.

OJK bersama otoritas Bursa juga terus melakukan edukasi terhadap perusahaan yang memiliki potensi untuk melakukan IPO maupun masyarakat untuk menginvestasikan dananya di pasar modal Indonesia. (nurul)