Investasi Bank Ekonomi di Teknologi Rp100 Miliar

Sepanjang 2012

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta – PT Bank Ekonomi Raharja Tbk (Bank Ekonomi) pada tahun lalu menggelontorkan investasi sampai sekitar Rp100 miliar untuk memperbagus sektor teknologi informasi (TI)nya. Namun, karena memang sudah total berinvestasi di tahun lalu, maka pada tahun ini mereka tidak akan begitu jor-joran sekali di bidang IT-nya. “Tahun lalu lumayan banyak (investasinya), angka kasarnya adalah sekitar Rp100 miliar (untuk TI saja). Tahun ini pasti lebih sedikit. Karena puncaknya adalah tahun lalu, sedangkan tahun ini hanya ada satu atau dua hal saja yang masih perlu diperbaiki atau dianggarkan,” kata Jeffrey Cheung, Direktur Teknologi dan Servis Bank Ekonomi, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (7/5).

Jeffrey menuturkan kalau pada tahun lalu perseroan hanya menambah sekitar sepuluh buah mesin ATM, sehingga sampai sekarang jumlah ATM sebanyak 124 buah. “Setiap tahun jumlah yang kita investasikan berbeda-beda, tapi di tahun ini mungkin kita tidak tambah lagi, karena kita sedang fokus dari hasil investasinya saja. Jadi ada musim investasi, lalu dilihat dulu, kalau memang bagus, baru akan ada investasi lagi. ATM itu yang paling mahal bukan mesinnya tapi lokasinya, jadi range (investasinya)nya per mesin ATM lebar, terkadang murah atau mahal,” tuturnya.

Ketika ditanyakan soal nota kesepahaman (MoU) antar tiga prinsipal penyelenggaraa jaringan ATM, yakni PT Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama), PT Rintis Sejahtera (ATM Prima), dan PT Alto Network (ALTO), supaya para nasabahnya bisa bebas saling transfer antar satu sama lain, dan dengan biaya yang sama seperti sekarang yaitu Rp5000, maka Jeffrey bilang itu akan meningkatkan transaksi di ATM-nya.

“Mudah-mudahan transaksi kita bisa meningkat akrena ini. Sebetulnya saat ini kita sudah menjadi anggota untuk jaringan ATM Prima maupun ATM Bersama. Jadi nasabah-nasabah kami sudah menikmati features yang unggul, misalnya dia mau transfer uang dari sini ke BCA (Prima) maupun ke BNI (Bersama) sudah tanpa kesulitan. Tapi ini sebenarnya usaha BI untuk meningkatkan awareness dari semua nasabah (perbankan) bahwa sudah bisa menggunakan ATM dengan jalan apa saja dan di kota mana saja. Mudah-mudahan dengan inisiatif BI bisa membantu nasabah kami untuk lebih appreciate menggunakan fasilitas ATM kami,” ucapnya.

Menurut dia, jumlah transaksi yang dilakukan para nasabahnya di ATM masih belum terlalu besar. Tapi target volume yang merek kejar selama ini masih sesuai targetnya. “Jadi kita punya KPI (Key Performance Index) untuk mengukur jumlah transaksi yang digunakan di cabang dibandingkan cara lain seperti ATM, call center, internet/mobile banking. Tahun ini, kita punya satu target untuk melihat behavior nasabah kita supaya berpindah dari yang tradisional atau cabang, kepada channel lain, dan sejauh ini kita masih on target,” jelasnya. Mengenai persiapan implementasi atau tindak lanjut dari MoU tiga prinsipal itu yang akan dimulai pada Juli 2013, dia menerangkan kalau yang menyiapkan infrastuktur adalah dari pihak prinsipal bukan bank.

“Infrastrukturnya tdk sepenuhnya dilakukan di level bank, tp di tiga prinsipal. Nanti ketika bisa, semua teknologi akan main di level prinsipal. Mereka yang akan buka dan saling connect. Jadi bank tidak perlu membuat investasi sistem, hanya perlu melengkapi atau memasukkan satu software yang bernama BIN (Bank Identification Number) Table. Ini berisi nomor BIN-nya yang sejumlah enam angka. Jadi mereka hanya upload nomor-nomor BIN untuk bank-bank lain,” terangnya.

Tapi, apakah dengan adanya interkoneksi sudah pasti akan menambah fee based income dari masing-masing bank, dia mengungkapkan kalau itu mungkin saja terjadi, mengingat pendapatan memang akan naik jika nasabah yang menggunakan juga naik jumlahnya. “Tapi saya belum bisa estimasi berapa fee based-nya karena efeknya bukan hanya pada kami saja. Nanti kita akan lihat bank mana yang lebih agresif dalam mengambil momentum emas ini. Yang jelas yang akan kita lakukan utamanya adalah meningkatkan awareness para nasabah supaya mereka tahu ini bagus, misalnya mereka lagi sibuk, macet, atau banknya tutup tidak akan ada masalah lagi, karena bisa gunakan ATM lain. Sebenarnya hal ini nantinya bukan hanya di ATM saja, tapi akan juga terjadi di internet dan mobile banking,” ungkapnya.

Namun memang, jelas dia, untuk menimbulkan kepercayaan masyarakat terhadap konsep yang baru ini masih perlu waktu. “Jadi mereka (prinsipal) lakukan di ATM dulu, karena ini dianggap sebagai channel yang teraman (karena harus masukkan PIN & ada CCTV). Kemudian nanti diharapkan akan ada efek mulut ke mulut, supaya makin banyak masyarakat yang menggunakannya. Dengan interkoneksi ini mungkin akan mengurangi biaya investasi tapi tidak signifikan,” jelasnya.

Memang, menurut Direktur Keuangan Bank Ekonomi, Helena Suryawani bahwa investasi yang terbesar yang dilakukan banknya memang adalah dalam pembukaan cabang dan perbaikan infrastruktur sistem teknologi informasinya. “Itu karena sistem yang kita punya sebelumnya sudah tidak mendukung untuk usaha perbankan. Maka itu, kita investasi untuk sistem, supaya bisa brkembang, dan bisa bersaing dengan bank-bank secara internasional. Relokasi kantor-kantor cabang juga merupakan beban. Walaupun pembukaan cabang baru itu hanya dua dan enam relokasi, tapi relokasi itu sama juga dengan membuka delapan cabang baru,” katanya. Karena adanya beban dari perluasan dan pembagusan infrastruktur, maka laba sebelum pajak perseroan, di akhir 2012, menurun 24%, daripada perolehan di 2011, yakni dari Rp326,8 miliar menjadi Rp246,9 miliar. “Ini sejalan dengan keinginan bank untuk transformasi. Sementara rasio BOPO per Desember 2012 meningkat menjadi 79,4% dari 66,3% (yoy),” tutupnya. [ria]