Imbal Hasil Reksa Dana Saham Stagnan - Dampak Penurunan Peringkat S&P

NERACA

Jakarta- Ketidakpastian pemerintah soal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi berimbas pada penurunan proyeksi ekonomi Indonesia oleh lembaga rating. Pemeringkat Standar and Poor’s menurunkan peringkat Indonesia dari positif ke stabil dan disusul Moody’s. Alhasil kondisi ini berimbas negatif terhadap investasi pasar modal.

Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Danny Thaher mengemukakan sepanjang tahun ini tingkat imbal hasil produk reksa dana saham mengalami kenaikan tipis atau cenderung stagnan,”Kemungkinan ada perpindahan alokasi portofolio nasabah dari reksa dana saham ke produk lainnya. Persepsi investor terhadap IHSG BEI sendiri sudah terlalu tinggi sehingga mereka mengalihkan portofolio investasi reksa dananya,\" ujarnya di Jakarta, Selasa (7/5).

Kendatipun demikian, kata Danny, perpindahan alokasi portofolio reksa dana merupakan hal wajar karena acuan investasi investor masih kepada momentum saat melakukan investasi awal (market timing).\"Beberapa hal yang perlu disosialisasikan oleh manajer investasi kepada investor adalah bahwa investasi di reksa dana harusnya jangka panjang. Jadi \'market timing\' bukan hal yang utama, namun lebih kepada penentuan dan kedisiplinan investor,\"jelasnya.

Sementara merespon kondisi tersebut, Kepala Riset Trimegah Asset Management, Ivan Chamdani mengatakan, harus ada strategi baru dalam mengelola produk investasi ditengah penurunan peringkat Indonesia, “Harus ada strategi tertentu dalam mengelola produk reksa dana paska turunnya \'outlook\' utang Indonesia,”katanya.

Dia menilai, produk investasi cukup sensitif oleh penurunan proyeksi sebuah lembaga pemeringkat dan karena itu perusahaan pengelola dana harus lebih berhati-hati dalam menetapkan portofolio investasi.

Namun, lanjut dia, pihaknya tetap optimis ekonomi Indonesia tetap tumbuh karena peringkat Indonesia masih di level BB+ (double plus) selama beberapa tahun ini. Dirinya menyampaikan, pihaknya akan lebih berhati-hati dalam mengelola dana investasi reksa dana.

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pernah bilang, koreksi atas outlook Indonesia dari positif menjadi stabil berdampak negatif terhadap indeks BEI, \"Kejatuhan IHSG berpeluang berlanjut jika pemerintah Indonesia tidak segera menaikkan harga BBM atau menurunkan subsidi BBM karena bukan mustahil bukan hanya outlook Indonesia yang diturunkan S&P menjadi stabil, tetapi credit rating Indonesia bisa juga diturunkan,”tandasnya.

Hal yang dikhawatirkan, imbuh dia, penurunan tersebut akan diikuti dua credit rating agency lainnya, yaitu Moody\'s & Fitch Rating. Karena itu, pemerintah seharusnya dapat segera memberi kepastian mengenai hal tersebut karena pelaku pasar masih dalam posisi wait and see.

Keluarnya informasi mengenai koreksi outlook oleh S&P inipun menjadi salah satu pendorong kejatuhan IHSG selama minggu lalu sebesar 53.03 poin atau sebesar 1.06%. Kejatuhan angka tersebut diiringi dengan aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp 697.21 miliar sehingga selama 18 minggu, total aksi beli bersih (net buy) asing turun menjadi Rp 17.59 triliun. (nurul)

BERITA TERKAIT

Hasil Pilpres Diumumkan, IHSG Melesat Naik

NERACA Jakarta – Pengumuman hasil pemilihan presiden (Pilpres) Selasa (21/5) dini hari oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menetapkan pasangan…

Fitch Rating Beri Peringkat BB- Japfa Comfeed

NERACA Jakarta –Pencapaian positif kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) sepanjang tahun 2018 kemarin membuahkan hasil positf. Dimana lembaga…

Trans Power Bagi Dividen Rp 26,6 Per Saham

NERACA Jakarta – Sukses mencetak pencapaian kinerja keuangan yang apik sepanjang tahun lalu, mendorong PT Trans Power Marine Tbk (TPMA)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Wintermar Raih Kontrak US$ 75,8 Juta

Perusahaan pelayaran PT Wintermar Offshore Marine Tbk. (WINS) mengantongi kontrak berjalan senilai US$75,8 juta atau sekitar Rp 1,09 triliun dengan…

Bayar Utang Eksisting - TBIG Bakal Rilis Global Bond US$850 Juta

  NERACA Jakarta –Danai pelunasan utang yang jatuh tempo, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar…

Kalbe Farma Tebar Dividen Rp 1,22 Triliun

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp1,22 triliun atau Rp26 per saham untuk tahun…