Orang Indonesia Konsumsi Mie Instan 324 Bungkus Per Tahun

Produk Indomie dan Sedaap Paling Digemari

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta - Salah satu perusahaan riset pemasaran Kantar Worldpanel merilis Kantar World's Brand Footprint Ranking untuk produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Dari hasil riset yang dilakukan pada 2012, tercatat bahwa konsumen Indonesia gemar mengkonsumsi mie instan sehingga menempatkan dua produk mie instan yaitu Mi Sedaap dan Indomie menempati posisi teratas.

"Dua brand teratas menunjukan bahwa mi instan merupakan salah satu komoditas yang paling diminati di Indonesia. Rata-rata konsumen di Indonesia membeli 324 bungkus mi instan dalam setahun. Angka ini adalah yang terbesar dibandingkan semua katagori lain di pasar FMCG," ungkap General Manager Kantar Worldpanel Indonesia Lim Soon Lee dalam pemaparan dihadapan wartawan di kantornya, Jakarta, Selasa (7/5).

Studi terakhir yang dilakukan Kantar Worldpanel Indonesia juga menunjukan bahwa sebagian besar keranjang belanja konsumen di Indonesia pasti berisi oleh 3 produk yaitu mi instan, kopi instan dan biskuit. Maka dari itu, kata dia, tidak mengherankan jika ranking didominasi oleh brand-brand besar di tiga katagori tersebut.

Menurut dia, biskuit adalah katagori yang memiliki brand paling banyak diantara katagori lainnya. Dimana rata-rata konsumen Indonesia membeli 17 merek biskuit yang berbeda. Sementara untuk mi instan, konsumen membeli rata-rata 6 merek dan kopi instan hanya 7 merek. "Maka untuk katagori biskuit dapat menempati posisi teratas maka itu adalah pencapaian yang luar biasa," ujarnya.

Dijelaskan lagi oleh Lee, brand Sedaap termasuk mi instan dan kecap menempati posisi pertama dari rangking tersebut. Hal itu terjadi lantaran pembelian ke dua brand tersebut mencapai 54 kali dalam setahun. "Untuk total pembelian brand Sedaap mencapai 2,6 miliar dengan penetrasi mencapai 99%. Sementara di posisi kedua dihuni oleh Indomie dengan total pembelian 2 miliar dengan penetrasi 96%," tambahnya.

Sementara itu, dua brand raksasa di katagori bumbu dapur menyusul di belakangnya. Masako diperingkat ketiga dan diikuti Royco di posisi ke lima. Dari industri kopi, ABC Santos dan Kapal Api masig-masing masuk diperingkat keempat dan keenam. Sementara produsen susu Frisian Flag dan biskuit Roma menyusul di peringkat ketujuh dan kedepalan. Untuk segmen personal care dan home care, kata dia, baru bisa masuk ke dalam rangking di posisi kesembila dan kesepuluh yaitu Lifebouy dan Rinso.

Lee menjelaskan bahwa riset ini dilakukan pada 2012 dengan mengambil 7.000 sample di 9 kota besar seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. "Yang membedakan riset kami dengan yang lainnya adalah kita tidak melakukan riset berdasarkan permintaan. Misalnya interviewer kami akan datang ke setiap rumah tangga lalu memeriksa langsung ke rumah untuk mendapatkan seberapa banyak produk yang digunakan di rumah tersebut," tambahnya.

Lebih lanjut lagi dikatakan Lee, Kantar Worldpanel's Brand Footprint Ranking bertujuan untuk menganalisis dan memetakan kekuatan dari produk-produk FMCG di 32 negara di dunia, termasuk didalamnya produk makanan, minuman, kesehatan, kecantikan dan produk perawatan rumah tangga. “Hasil ranking ini menggunakan metode yang dinamakan Consumer Reach Point (CRP) yang mengukur seberapa banyak konsumen rumah tangga yang membeli brand tertentu dan seberapa sering brand tersebut dibeli,” katanya.

18 Miliar Bungkus

Ketua Umum Asosiasi Roti, Biskuit dan Mi Instan (Arobim) Sribugo Suratmo menjelaskan bahwa permintaan produk mi instan diprediksi terus menunjukan pertumbuhan di atas dua digit. Peningkatan pembelian mi instan yang meningkat ini didorong oleh tren konsumsi masyarakat yang mulai bergeser ke jenis makanan instan.

Asosiasi Roti, Biskuit dan Mi Instan (Arobim) memperkirakan permintaan mi instan pada tahun 2013 bisa mencapai 18 miliar bungkus. Angka ini menunjukan sinyal meningkat 10% lantaran pada tahun kemarin realisasinya hanya 16,5 miliar bungkus.

"Tahun ini, utilisasi produsen mi instan diproyeksikan mencapai 18 miliar bungkus, naik 10% dari realisasi pada 2012 sebesar 16,5 miliar bungkus. Kenaikan penjualan ditopang tren penggunaan mi instan sebagai makanan pengganti nasi," kata Sribugo.

Aktivas masyarakat yang makin padat membuat produk makanan instan, seperti mi instan jadi sasaran untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi. Imbasnya, kata dia, langsung mendorong ke penjualan produk mi instan secara konsisten. Potensi peningkatan permintaan mi instan ke depan juga tergolong besar. Untungnya, produk mi instan domestik bisa mengisi pertumbuhan permintaan mi instan. Pasalnya rata-rata utilisasi pabrik mi instan di Indonesia masih di bawah 80%. "Sehingga masih berpeluang untuk menggenjot produksi bila permintaan terus meningkat," katanya.