Gaya Hidup dan Penyakit Kronis

Rabu, 08/05/2013

Oleh: Kencana Sari, SKM, MPH

Peneliti Balitbang Depkes RI

Hampir di seluruh belahan dunia, tak luput Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan penyakit kronis dan degeneratif terus bertambah secara proporsional dan absolut. Dalam kajian tentang penyakit kronis yang dilakukan di Asia Tenggara, lima penyebab kematian utama di Indonesia secara berututan adalah penyakit jantung iskemik, tuberculosis, penyakit kardiovaskular, infeksi saluran pernafasan bawah, dan kematian perinatal.

Kabar baiknya, intervensi kesehatan masyarakat dan berbagai perawatan dan operasi medis telah meningkatkan usia harapan hidup sehat dari tahun ke tahun. Indonesia yang pada tahun 1990 mempunyai usia harapan hidup sehat sampai usia 54,6 pada laki-laki dan 56,8 pada perempuan menjadi 58,7 dan 61,7 pada laki-laki dan perempuan di tahun 2010.

Namun ada juga kabar buruk. Secara bersamaan peningkatan dan perubahan kondisi sosial ekonomi, budaya di masyarakat berdampak pada supply, konsumsi dan nilai-nilai yang berhubungan dengan makanan sehingga tercipta gaya hidup sehari-hari yang baru menuju pada peningkatan risiko penyakit kronis.

Perubahan diproses produksi makanan, kondisi alam, dan kondisi lingkungan tempat kerja dan berbagai faktor lain dalam sendi kehidupan telah meningkatkan kerentanan terhadap penyakit tidak menular. Modernisasi, industrialisasi, dan urbanisasi berkontribusi pada pada makin tingginya risiko terhadap penyakit kronis. kemudahan menyelesaikan urusan pekerjaan dan rumah tangga dengan ketersediaan teknologi membuat orang terbatas untuk melakukan aktifitas fisik. Ibaratnya tinggal klik dan pencet semua bisa berjalan.

Faktor-faktor tersebut pada umumnya berada diluar kekuasaan kebanyakan orang sebagai individu untuk dapat menghindar dari perubahan gaya hidup berisiko – berkurangnya aktifitas fisik, pola makan, dan juga perubahan pekerjaan, tempat tinggal, dll. Jika lingkungan sudah terbentuk dengan berbagai risiko paparan, banyaknya vendor makanan tidaksehat kalori tinggi, terbatasnya waktu dan tempat unttuk beraktifitas fisik karena kesibukan pekerjaan yang mengharuskan kita duduk dan menatap layar komputer lebih dari 7 jam per hari adalah kehidupan yang “harus” kita jalani. Semuanya memperbesar kemungkinan timbulnya penyakit degeneratif.

Program dan kebijakan kesehatan yang ada selama ini masih menekankan pada pendekatan kuratif, kurang menyentuh pada usaha preventif dan underlying cause dari suatu penyakit. Jika memang ada usaha pemerintah mengurangi risiko penyakit kronis, seringkali focus pada intervensi individu, tidak lebih jauh merujuk kepada faktor di dalam struktur dan institusi yang berpengaruh pada kesehatan seseorang misalnya, ketahanan pangan yang sehat, lingkungan fisik yang terbangun, kesempatan untuk beraktifitas fisik. Pendekatan-pendekatan kebijakan, program dan riset yang juga mengacu pada struktur dan sistem perlu dikembangkan.

Pada akhirnya, pencegahan dari sakit kronis selain berfokus pada individu juga harus dibarengi dengan struktur lingkungan fisik dan sosial yang mendukung hidup sehat. Pembangunan sarana pejalan kaki yang memadai, ruang terbuka hijau dan sarana transportasi umum, seperti MRT jelas merupakan salah satu upaya membentuk lingkungan yg mendukung hidup sehat.