Investasi Sektor Mamin Tembus Rp 7,8 Triliun

Kuartal I-2013

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta - Tingginya konsumsi masyarakat Indonesia dinilai sebagai penggerak perekonomian di Indonesia. Oleh sebab itu, banyak investor dari berbagai negara tetangga yang berminat untuk berinvestasi di sektor industri makanan dan minuman (mamin). Hingga kuartal pertama tahun ini, investasi di sektor mamin mencatatkan pertumbuhan investasi yang signifikan secara year on year.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), selama periode Januari hingga Maret 2013, investasi di sektor mamin mencapai Rp 7,8 triliun. Jumlah ini melonjak 59% dari periode yang sama di 2012 yang mencapai Rp 4,9 triliun.

Menurut Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Yusuf Hadi kenaikkan investasi di sektor ini tak lepas dari pasar di dalam negeri. Tingkat konsumsi domestik yang dibarengi jumlah penduduk yang tinggi menjadi menjadi dasar dari besarnya pasar tersebut. "Pasar kita sangat besar dengan sehingga pasti menarik untuk investasi," katanya saat dihubungi Neraca, Selasa (7/5).

Apa lagi, pertumbuhan ekonomi di dalam negeri selama tahun ini dipercaya masih bisa tumbuh positif di atas 6%. Sehingga pertumbuhan konsumsi mamin pun akan tetap berjalan seiringan dengan pertumbuhan ekonomi ini.

Selama kuartal I ini sendiri, pertumbuhan investasi dari dalam negeri tercatat tumbuh signifikan. Penanaman Modal Dalam Negeri di industri mamin di triwulan I naik tiga kali lipat dibanding triwulan pertama di tahun lalu.

Selama Januari hingga Maret tahun lalu, investasi PMDN di sektor ini hanya mencapai Rp 1,3 triliun. Namun dalam periode yang sama di tahun ini, jumlahnya menggembung menjadi RP 4 triliun. Menurut Hadi, investasi yang dilakukan oleh perusahaan lokal tak bisa lepas dari pengetahuan akan pasar yang telah lama mereka jalani. "Jadi lebih mudah memutuskan langkah investasi tiap perusahaan," ungkap dia.

Salah satu produsen mamin yang gencar berinvestasi pada tahun ini adalah PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. Perseroan berencana untuk membangun 3 pabrik baru di tahun ini.

Public Relations Sari Roti Stephen Orlando sebelumnya mengatakan dua pabrik tersebut akan dibangun di Pulau Jawa dan satu pabrik di Pulau Kalimantan. "Investasi untuk satu pabrik kira-kira Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar. Rencananya, di setiap masing-masing pabrik akan ada satu line untuk produksi roti tawar dan satu line untuk roti manis," katanya.

Di sisi lain, investasi mamin dari pomedal asing juga tetap tumbuh meski tak setinggi PMDN. Hingga Maret lalu, investasi PMA di sektor mamin tercatat sebesar US$ 405,5 juta. Naik dari periode yang sama di 2012 yang mencapai US$ 384,2 juta.

Namun Beberapa waktu lalu Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengungkap kalau nilai investasi di sektor industri manufaktur bisa digenjot hingga mencapai Rp 170 triliun atau meningkat dibandingkan realisasi 2012 sebesar Rp 155,82 triliun.

“Tahun ini, investasi manufaktur bisa mencapai Rp 170 triliun. Investasi menjadi salah satu penopang target pertumbuhan sektor manufaktur tahun 2013 yang dibidik sekitar 7,1 %,” kata Hidayat.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diolah Kementerian Perindustrian (Kemenperin), realisasi investasi sektor manufaktur sepanjang 2012 memang mengalami peningkatan signifikan.

Investasi manufaktur tahun 2012 mencapai Rp 155,82 triliun atau melonjak sekitar 57 persen dibandingkan 2011 yang hanya Rp 99,64 triliun. Dari total realisasi investasi manufaktur sepanjang 2012, investasi yang bersumber dari penanaman modal asing (PMA) paling dominan dengan kontribusi Rp 105,93 triliun (US$ 11,77 miliar) yang tersebar pada 1.714 proyek. Penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 49,89 triliun dengan 714 proyek.

Untuk PMDN, tiga sektor dengan porsi investasi terbesar adalah industri makanan dengan 222 proyek senilai Rp 11,16 triliun. Menyusul, industri mineral dan logam dengan 37 proyek senilai Rp 10,73 triliun. Industri kertas dan percetakan dengan 64 proyek senilai Rp 7,5 triliun.

Untuk PMA, investasi di industri kimia dan farmasi menempati posisi teratas dengan 230 proyek senilai US$ 2,76 miliar. Menyusul industri logam, mesin, dan elektronik dengan 364 proyek senilai US$ 2,45 miliar. Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain dengan 163 proyek senilai US$ 1,84 miliar.