Indonesia dalam Cengkeraman Konsumerisme

Oleh: Dwinta Widyastuti, Mahasiswa MSc in International Management, Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud

Rabu, 08/05/2013

Beberapa tahun belakangan ini banyak warga kota besar, terutama Jakarta, yang mengeluhkan ketidaknyamanan di kotanya dikarenakan pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan. Lahan hijau berkurang, kemacetan merajalela, belum lagi ditambah masalah lain seperti bencana banjir yang dialami Jakarta beberapa saat yang lalu.

Bagaimana tidak, menurutAsia Pacific Property DigestJones Lang LaSalle, luas pusat perbelanjaan di jakarta saja hingga kuartal IV tahun 2012 sudah mencapai 1,34 juta meter persegi. Di tahun 2013 ini pun ada beberapa rencana pembangunan pusat perbelanjaan yang akan rampung, menambah 223.000 meter persegi pusat perbelanjaan di Jakarta.

Harus diakui Indonesia memang pasar yang menarik bagi para pebisnis ritel mengingat besarnya basis konsumer dan pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menyebabkan peningkatan pendapatan per kapita penduduk Indonesia.

Selain itu, fenomena meningkatnya jumlah penduduk kelas menengah, atau yang biasa dianggap sebagai golongan konsumtif, juga menambah daya tarik pasar Indonesia. Menurut data Bank Dunia pada tahun 2011, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia mencapai 7 juta jiwa per tahun dan sebanyak 56,5% penduduk Indonesia, atau setara dengan sekitar 134 juta jiwa, tergolong dalam kelas menengah.

Pertumbuhan Bisnis Ritel

Saat ini banyak sekali bisnis ritel yang sudah menembus pasar Indonesia, contohnya saja ZARA, Topshop, dan Uniqlo, bisnis retail asal Jepang yang akan segera membuka gerai pertamanya di Jakarta. Belum lagi beredar kabar bahwa raksasa ritel seperti H&M dan IKEA juga akan turut meramaikan pasar di Indonesia. Bahkan bisa dibilang, Milan, kota yang sering disebut-sebut sebagai pusat mode dunia saja masih kalah glamorous dibandingkan dengan Jakarta dalam hal pusat perbelanjaan dan bisnis ritel.

Bagaimana pun juga, kebanyakan bisnis ritel ini menggunakan model bisnis yang dibangun untuk konsumen di negara maju dengan daya beli yang lebih tinggi. Sebagai perbandingan, ZARA, perusahaan ritel asal Spanyol, berkembang sangat pesat di wilayah eropa yang pendapatan per kapita penduduknya mencapai $34.033 per tahun berdasarkan data Bank Dunia pada tahun 2011.

Sementara itu, berdasarkan set data yang sama, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia hanya sebesar $2.940 per tahun. Banyak dari barang-barang yang ditawarkan memiliki harga yang tidak bisa dibilang murah. Bahkan, barang-barang yang ditawarkan beberapa merk tertentu pun lebih mahal apabila dibandingkan dengan harga yang ditawarkan di negara tetangga, misalnya saja Singapura yang notabene merupakan negara dengan pendapatan per kapita lebih tinggi dari Indonesia.

Perilaku Konsumtif Masyarakat

Sayang sekali harga barang pun ternyata tidak menyurutkan semangat berbelanja sebagian besar masyarakat. Seringkali, memiliki barang-barang dengan merk-merk asing justru menjadi prestise tersendiri bagi warga Jakarta. Berdasarkan cultural framework yang disusun oleh Profesor Geert Hofstede, bangsa Indonesia memiliki skor yang tinggi dalam index power distance, suatu index yang menggambarkan bahwa ketidaksetaraan dalam masyarakat adalah sesuatu yang dapat diterima dan orang yang berada dalam posisi lebih tinggi berhak untuk menunjukkan simbol kesuksesannya.

Masih berdasarkan framework yang sama, bangsa Indonesia juga memiliki skor yangbisa dikatakan menengah dalam index masculinity/feminity, yaitu index yang menggambarkan bahwa memperlihatkan simbol kesuksesan merupakan hal yang penting bagi masyarakat. Maka tidak heran bahwa keberadaan bisnis ritel sedikit banyak telah memacu adu gengsi di tengah masyarakat.

Namun, perilaku konsumtif ini mulai bergeser ke arah yang tidak sehat. Salah satu tandanya adalah meningkatnya penggunaan kartu kredit. Berdasarkan survey Visa mengenai Global Payment Tracker 2012, berdasarkan data yang diambil dari total titik-titik transaksi dilakukan, 57% transaksi per bulannya dilakukan dengan menggunakan kartu debit dan 83% transaksi dilakukan dengan menggunakan kartu kredit.

Menyikapi Godaan Konsumerisme

Peningkatan belanja masyarakat memang dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan domestik belum tentu dapat bertahan dalam jangka panjang.

Terlebih lagi apabila konsumsi yang berlebihan menyebabkan masyarakat memiliki tingkat tabungan yang lebih rendah, atau bahkan lebih buruk lagi apabila masyarakat mulai mengutang untuk memenuhi kebutuhan gengsinya.

Melihat jejeran pakaian berbagai macam warna tergantung dengan rapi di etalase toko, ditambah lagi dengan berbagai penawaran diskon yang tersedia dan kemudahan melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit memang menjadi hal yang sangat menggiurkan.

Belum lagi tuntutan sosial yang mengharuskan memakai barang keluaran terbaru dari merk ternama dapat menjadi beban tersendiri bagi sebagian orang. Namun, godaan ini harus dapat ditanggapi secara bijaksana.

Berbelanja bukanlah sesuatu yang salah selama masih dalam batas yang wajar. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk keperluan lain yang urgensinya lebih penting merupakan hal yang harus dilakukan oleh semua golongan masyarakat, tidak terbatas pada masyarakat kelas menengah saja. Menyusun rencana keuangan pribadi setiap bulannya bisa menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengendalikan diri dari godaan konsumerisme.

Jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa yang terpuruk utang hanya karena masyarakatnya tidak mampu menahan godaan konsumerisme yang saat ini sedang begitu gencarnya menyerang Indonesia. (haluankepri.com)