Pengalihan Utang Petrosea Klaim Dapat Untung

NERACA

Jakarta - PT Petrosea Tbk (PTRO) mendapatkan fasilitas pinjaman dari Indo Energy Capital (IEC) sebanyak US$ 140 juta untuk pengalihan utang. Sebelumnya perseroan sudah mendapatkan pinjaman dengan jumlah yang sama dari Indika Capital.

Direktur Utama PT Petrosea Tbk, Eddy Junaedy mengatakan, IEC menjadi debitur pengganti Indika Capital, “Kalau yang pertama temponya sampai 2016 dengan bunga 9,85%, sedangkan yang baru ini bunga 7,12% dengan tempo hingga 2023,”katanya di Jakarta, Senin (6/5).

Menurutnya, secara financial dengan perubahan ini menguntungkan perusahaan, jadi menukar utang dengan utang namun bunga yang lebih rendah. Selain itu, dengan piinjaman yang baru ini membuat perseroan memiliki perpanjangan waktu beberapa tahun lagi.

Lanjutnya, dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran utang perseroan, “Sebanyak US$ 115 juta untuk bayar utang dan sisanya US$ 25 juta untuk working capital. Sekarang utangnya diganti dengan masa yang lebih panjang,”tuturnya.

Eddy juga menambahkan, hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menyetujui untuk membagikan dividen sebesar US$ 7 juta dan sisanya akan disimpan sebagai laba ditahan, “Dividen perlembar US$ 0,0069 dengan 1.008.605.000 jumlah lembar saham dari laba bersih tahun 2012 sebesar US$ 49,1 juta, sisanya sebagai laba ditahan,”jelasnya.

Belanja Modal

Dia mengungkapkan, belanja modal selama kuartal pertama tahun hanya US$ 12,3 juta turun 67% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan belanja modal dikarenakan bisnis batubara belum pulih, “Kita kurangi anggaran belanja modal sehingga tidak sebanyak tahun kemarin. Belanja modal hanya untuk maintanance saja,”tandasnya.

Sementara Direktur Petrosea, M.Kurnia Ariowan mengatakan, pengurangan dana belanja modal dikarenakan perseroan tidak melakukan ekspansi. Kata Direktur Petrosea, Alexei Jerome Jovellana, saat ini meski belanja modal sedikit, perseroan masih memiliki US$ 24,63 juta untuk tambahan modal kerja tahun ini.

Sementara itu, pendapatan perseroan naik menjadi US$ 90,97 juta dari tahun sebelumnya US$ 79,85 juta tidak diikuti kenaikan laba pada kuartal pertama tahun ini. Kemudian laba perseroan juga turun 46,65% pada Maret 2013 menjadi US$ 7,56 juta pada peride sebelumnya yang mencapai US$ 14,17 juta. Hal ini disebabkan oleh jumlah beban perseroan naik menjadi US$ 11,71 juta dari sebelumnya US$ 4,35 juta. (nurul)

BERITA TERKAIT

VIVA Percepat Lunasi Utang US$ 252 Juta - Pangkas Beban Utang

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan kinerja keuangan yang positif, VIVA Group berambisi memangkas beban utang. Teranyar, perseroan telah melakukan percepatan…

Wali Kota Depok Berharap Anies-Sandi Dapat Bekerja Sama

Wali Kota Depok Berharap Anies-Sandi Dapat Bekerja Sama NERACA Depok - Wali Kota Depok Mohammad Idris berharap kepada Gubernur dan…

Utang Luar Negeri Naik 4,7%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) naik 4,7 persen (year on year)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - KAI Tawarkan Kupon Bunga Hingga 8%

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnisnya dan termasuk peremajaan armada, PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menerbitkan obligasi I…

Laba Bersih Hartadinata Tumbuh 28,4%

NERACA Jakarta – Sepanjang kuartal tiga 2017, PT Hartadinata Abadi Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 95 miliar atau naik…

KPEI Sosialisasikan Kualitas Agunan

Demi meningkatkan kehatian-hatian transaksi, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) menyelenggarakan sosialisasi kepada para anggota kliring mengenai peningkatan kualitas agunan.…