Konsumsi BBM PLN Bakal Meroket Tahun Ini

Gara-gara Proyek Pembangkit Batubara Molor

Selasa, 07/05/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah memperkirakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan mengalami kenaikan menjadi enam juta kiloliter dari target sebelumnya 5,6 juta kiloliter.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, kenaikan konsumsi BBM dikarenakan terutama mundurnya sejumlah proyek pembangkit batubara. "Efek mundurnya proyek pembangkit tahun lalu masih berimbas ke tahun ini," katanya di Jakarta, Senin.

Menurut dia, akibat keterlambatan pengoperasian proyek pembangkit, porsi BBM dalam bauran energi primer pembangkit pada 2012 mencapai 15 % (8,2 juta kiloliter) atau naik dibandingkan target 13,8%. Selain itu, lanjutnya, kenaikan konsumsi BBM juga disebabkan mundurnya proyek kabel listrik bawah laut Jawa-Bali dari sebelumnya ditargetkan akhir Desember 2012 menjadi pertengahan 2013.

Ia mengatakan, proyek kabel bawah laut tersebut akan mentransfer daya listrik dari Jawa ke Bali hingga 200 MW. Dengan kemunduran proyek, maka pembangkit di Bali masih tetap menggunakan BBM. "Konsumsi BBM di Bali bertambah karena melesetnya proyek," katanya.

Jarman juga mengatakan, konsumsi BBM pembangkit pada kuartal pertama 2013 mencapai 12% atau lebih rendah dibandingkan rata-rata 2012 sebesar 15%. Sementara, target porsi BBM dalam bauran energi primer pembangkit pada 2013 adalah 10,8 persen atau setara enam juta kiloliter.

Menurut dia, penambahan konsumsi BBM tersebut sudah sesuai rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) yang disetujui Menteri ESDM Jero Wacik pada akhir Desember 2012. "Sesuai APBN 2013, porsi BBM ditargetkan 9,7 %, namun RUPTL sudah menyebutkan 10,8 %," ujarnya.

Kenaikan konsumsi BBM itu akan dibahas dalam RAPBN Perubahan 2013 dengan DPR pada pertengahan Mei 2013. Peningkatan konsumsi BBM tersebut akan berdampak pada subsidi. Namun, Jarman belum tahu besaran kenaikan subsidi karena mesti menghitung asumsi harga minyak dan kurs.

Target Meleset

Sebelumnya PT PLN (pesero) mencatat penggunaan konsumsi BBM yang digunakan untuk pembangkit listrik pada 2012 mencapai 8,2 juta kiloliter (kl), atau 12,3% di atas target sebesar 7,3 juta kl. Meski melebihi target, angka pemakaian BBM PLN tersebut lebih rendah dari realisasi 2011 yang mencapai 11,4 juta kl. "Pemakaian BBM PLN tahun lalu turun 3,2 juta kl dibandingkan 2011," kata Nur Pamudji.

Menurut Dia, target tersebut meleset karena realisasi penjualan listrik pada tahun 2012 melebihi perkiraan PLN yaitu sebesar 10,17%. “Pertumbuhan penjualan ditargetkan 7%, namun realisasinya 10,17%," jelas Pamudji.

Dengan turunnya konsumsi BBM PLN, maka kontribusi sekitar 15% dalam komposisi bauran energi primer perseroan, atau turun dibandingkan 2011 yang mencapai 23%. "Sebagian besar pengurangan BBM dikompensasi pada peningkatan batu bara dari 44% pada 2011 menjadi 50% di 2012," ujarnya.

PLN akan menurunkan konsumsi BBM pada tahun ini menjadi 6,5 juta kl. Penurunan konsumsi BBM ini guna menekan biaya produksi listrik perseroan. Turunnya pemakaian BBM disebabkan mulai beroperasinya sejumlah pembangkit non BBM milik PLN yang berada di Sulawesi Selatan, Lombok, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Riau dan Jakarta. "Mayoritas pasokan BBM berasal dari PT Pertamina (Persero)," ujar Nur Pamudji.

Sementara, konsumsi gas di pembangkit PLN ditargetkan meningkat menjadi 393,4 triliun british thermal unit (tbtu). Kenaikan konsumsi gas di pembangkit PLN tersebut disebabkan masuknya pasokan gas dari terminal penerima dan regasifikasi terapung (FSRU) gas alam cair (LNG) di Teluk Jakarta ke pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Priok Blok 1 dan 2.

Selain itu, PLTGU Gresik Blok 2 juga memperoleh pasokan dari PT Kangean Energi Indonesia, pasokan gas ke PLTG Muara Tawar Blok 4 dari Pertamina, dan pasokan gas ke PLN Tarakan dari Pertamina EP. Untuk konsumsi batu bara selama 2013 diperkirakan sebesar 46,4 juta ton. Peningkatan penggunakan gas dan batu bara tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya pokok produksi perseroan. Pada tahun ini, PLN menargetkan penjualan listrik sebesar 184,3 terawatthour (tWh) di 2013 dengan memperhitungkan pertumbuhan permintaan listrik sebesar 9%.

Nur Pamudji juga pernah mengatakan penggunaan BBM untuk menyalakan pembangkit listrik dinilai cukup besar. Bahkan, Kementerian Keuangan menilai dengan peningkatan elektrifikasi yang ditargetkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bisa membuat kuota BBM menjadi jebol.

"Setiap tahunnya, PLN mencoba untuk mengurangi penggunaan BBM untuk pembangkit listrik. Seperti pada 2011, penggunaan BBM hampir mencapai 23% dari kuota, namun pada 2012 turun menjadi 15%. Dengan tren yang selalu turun, kami menargetkan pada 2013 bisa mencapai single digit. Paling tidak di bawah 15%," tegas Nur.

Di pihak lain, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro meminta kepada PLN dan Direktorat Jenderal Listrik Kementerian ESDM untuk melihat asumsi pertumbuhan konsumsi listrik. Hal itu agar subsidi listrik tidak membengkak. "Kalau ujungnya cuma kebijakan fiskal yang diandalkan, kita cuma nambah-nambah subsidi listrik, jadi menurut saya growth ditambah harusnya sudah dihitung," ujarnya.

Bambang menjelaskan, PLN atau Ditjen listrik harus bisa memperkirakan. Misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,5 persen, pertumbuhan listriknya juga harus diperkirakan dari awal. "Nah, dari situ dilihat dengan apa dia bisa memenuhi itu, jadi tidak apa-apa pertumbuhan konsumsi listrik sembilan persen, selama pertumbuhan tadi di-generate dengan bahan bakar yang non-BBM," ujar Bambang.