Angkatan Kerja Indonesia Meningkat

Februari 2013

Selasa, 07/05/2013

NERACA

Jakarta – Jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2013 bertambah sebanyak 780 ribu orang dibanding jumlah angkatan kerja pada Februari 2012. Data tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Senin (6/5). “Jumlah angkatan kerja pada Februari 2012 adalah 120,41 juta orang, sementara jumlah angkatan kerja pada Februari 2013 adalah 121,19 juta jiwa atau bertambah sebanyak 780 ribu orang,” kata dia.

Dari total angkatan kerja tersebut, jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2013 mencapai 114 uta orang, atau bertambah 1,2 juta orang dibanding Februari 2012. Dengan begitu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2013 mencapai 5,92% atau mengalami penurunan dibanding TPT Februari 2012 sebesar 6,32%.

Jika dibagi lebih dalam lagi, dari 114 juta orang yang bekerja tersebut, hanya 35,71 juta orang yang menjadi pekerja tidak penuh, yaitu pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu. Sedangkan, pekerja penuh yang waktu kerjanya lebih dari 35 jam seminggu tercatat sebanyak 78,31 juta orang.

Suryamin juga menjelaskan jumlah tenaga kerja pada Februari 2013 berdasarkan pengelompokan bidang lapangan pekerjaan utama. Secara umum, komposisinya tidak berubah, bahwa pertanian masih mendominasi dengan penyerapan sebesar 39,96 juta tenaga kerja atau 35% dari lapangan kerja yang ada.

“Perdagangan menyerap 24,81 juta tenaga kerja atau 21,76% lapangan pekerjaan. Jasa kemasyarakatan menyerap 17,53 juta tenaga kerja atau 15,37% lapangan kerja. Sementara industri pengolahan menyerap 14,78 juta tenaga kerja atau 12,97% lapangan kerja,” jelas Suryamin.

Struktur lapangan kerja didominasi oleh empat sektor ini. Sektor lainnya berkontribusi kurang dari 10% lapangan kerja. Dalam rentang setahun dari Februari 2012 sampai Februari 2013, jumlah penduduk yang bekerja mengalami kenaikan terutama di sektor perdagangan sebanyak 790 ribu orang (3,29%), sektor konstruksi sebanyak 790 ribu orang (12,95%), serta sektor industri sebanyak 570 ribu orang (4,01%).

Beberapa sektor yang mengalami penurunan adalah sektor pertanian dan sektor lainnya, yang masing-masing mengalami penurunan jumlah penduduk bekerja sebesar 3,01% dan 5,73%.

Pada Februari 2013, penduduk bekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi, yaitu sebanyak 54,6 juta orang atau (47,90%), sedangkan penduduk bekerja dengan pendidikan diploma sebanyak 3,2 juta orang (2,82%), dan penduduk bekerja dengan pendidikan universitas hanya sebanyak 7,9 juta orang (6,96%).

Tenaga formal bertambah

Sementara Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Wynandin Imawan, mengatakan jumlah tenaga kerja formal bertambah sedangkan tenaga kerja informal berkurang, meskipun masih mendominasi. Pada Februari 2013, BPS mencatat tenaga kerja formal bertambah sebanyak 3,5 juta orang menjadi 45,6 juta orang atau 39,98% dari total tenaga kerja.

Sedangkan tenaga kerja informal berkurang 2,3 juta jiwa menjadi 68,4 juta orang atau 60,02% dari seluruh tenaga kerja. “Ini bagus, walaupun yang formal kebanyakan pekerja. Yang lebih bagus itu, tenaga kerja formalnya adalah wirausaha yang dapat menciptakan pekerjaan,” kata Imawan.

Data statistik juga menyebutkan bahwa jumlah wirausahawan yang dibantu buruh tetap bertambah jumlahnya sebanyak 100 ribu orang, dari 3,93 juta orang pada Februari 2012 menjadi 4,03 juta orang pada Februari 2013. “Ini besar, menambah 100 ribuan pengusaha. Kalau 100 ribu pengusaha itu menciptakan lapangan kerja 100-1.000 orang per pengusaha, itu kan besar,” tukasnya. [iqbal]