Transfer Dana Tiga Prinsipal Mulai Berjalan

Juli 2013

Selasa, 07/05/2013

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai kerja sama tiga prinsipal domestik yakni PT Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama), PT Rintis Sejahtera (ATM Prima) dan PT Alto Network (ALTO), memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi elektronik. Dengan demikian, nasabah tidak perlu memegang banyak kartu debit. Hal ini juga menciptakan jaringan (network) yang lebih kuat dalam sistem pembayaran.

Menurut Gubernur BI Darmin Nasution, melalui interkoneksi layanan ini, para nasabah dapat akan mendapatkan beberapa manfaat, antara lain, nasabah dapat dengan mudah melakukan transaksi transfer antarbank melalui ATM secara real time dari dan ke seluruh wilayah Indonesia. Kemudian, mendapatkan perluasan layanan transfer tanpa biaya tambahan, dimudahkan memahami menu layanan ATM serta memperoleh keseragaman biaya layanan transfer melalui ATM. “Selama puluhan tahun, nasabah pemegang kartu tidak bisa saling transfer (antar prinsipal). Sekitar dua tahun lalu, saya sempat memanggil Pak Zulkifli (Zaini, mantan Dirut Bank Mandiri) dan Pak Jahja (Setiaatmadja, Dirut BCA) untuk berdiskusi. Alhasil, Mandiri masuk ke prinsipal BCA,” tutur Darmin di Jakarta, Senin (6/5).

Tiga prinsipal domestik yang menyediakan layanan jaringan ATM/Debit atau yang biasanya disebut perusahaan switching ini menandatangani nota kesepakatan (Memorandum of Understanding/MoU) untuk kerja sama Layanan Transfer Dana Antar Prinsipal. Penandatangan MoU tersebut merupakan langkah awal sebelum launching yang akan dilakukan pada Juli 2013 mendatang.

“Kita harapkan bulan Juli sudah bisa terlaksana di lapangan. Apalagi di bulan Juli sudah memasuki bulan ramadan. Perputaran uang dan transaksi pasti tinggi. Kita mulai dengan sosialisasi kepada nasabah, lalu launching. Jadwal persiapan memang kelihatannya pendek, tapi secara teknis kita tidak pernah ada masalah. BI sebagai otoritas yang mengatur sistem pembayaran di Indonesia sangat mendukung kerja sama strategis ini,” tegas Darmin. Kerja sama ini, kata dia, merupakan upaya bersama industri pembayaran nasional untuk menjawab kebutuhan transfer dana para nasabah. Di mana pertumbuhan transfer dana cukup tinggi, baik dari segi frekuensi maupun nominal. Namun yang disayangkan adalah jumlah mesin ATM di Indonesia tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Brazil, China, dan Korea.

Dikuasai 6 bank besar

Dalam kurun waktu 13 tahun, hanya ada enam bank yang secara kontinyu berinvestasi di ATM, empat di antaranya perbankan besar (Mandiri, BCA, BNI dan BRI) yang jumlah ATM-nya di atas 2.000 unit. Sementara total pangsa ATM mereka mencapai 47% dari total ATM yang ada. “Yang paling banyak dilakukan nasabah melalui ATM adalah transfer antarbank. Selama tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan transfer antarbank di atas 52%, atau lebih tinggi dari jenis transaksi lain. Jadi, kita mendorong interkoneksi,” ungkap Darmin. Pada kesempatan yang sama, Arya Damar, Direktur Utama Artajasa menerangkan bahwa persiapan selama tiga bulan itu diperlukan untuk mempersiapkan teknis, peraturan, prosedur serta infrastruktur.

“Jadi bukan karena ada keberatan antar prinsipal (untuk kerja sama ini). Hanya saja kami perlu waktu untuk persiapan. Terkait infrastruktur, kami masih saling komunikasi kemudian membuat aplikasinya supaya terhubung. Untuk implementasi, misalnya, ATM kita nanti ada kode BCA. Kalau dahulu belum ada. Yang tidak ada kode bank di sana akan dimasukkan,” jelas Arya. Ronald Waas, Deputi Gubernur BI menambahkan, bank sentral menargetkan industri untuk menumbuhkan transaksi non tunai sebesar 25% di tahun ini, terutama setelah implementasi kerjasama antar prinsipal ini berjalan. “Sekarang ATM masih lebih banyak dipakai untuk tarik tunai. Sedangkan kita maunya mendorong transaksi non tunai seperti bayar listrik, transfer uang, dan lain-lain,” ungkapnya. [ria]