Ciptakan Generasi Emas Sambut Bonus Demografi

Tingkatkan Daya Saing Global

Selasa, 07/05/2013
Ahmad Nabhani - NERACA Banyak anak banyak rezeki, itulah pepatah orang dulu. Namun kini pepatah tersebut banyak disalah artikan, dengan menambah banyak anak diyakini rezeki juga akan terus bertambah tanpa usaha yang giat. Alhasil, saat ini banyak keluarga yang memiliki banyak anak sebaliknya keteteran karena biaya hidup semakin bertambah dan imbasnya anak terlantar akan kesehatannya, gizinya, pendidikan dan kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, sudah saatnya mindset tentang banyak anak banyak rezeki perlu dievaluasi kembali dengan memperhitungkan persiapan dan perencanaan yang matang. Pasalnya, pertumbuhan penduduk tanpa diimbangi dengan perencanaan dan kesiapan yang matang akan menjadi ledakan penduduk yang membawa bencana dan menjadi beban negara. Apalagi Indonesia tercatat menjadi negara dengan populasi penduduk terbesar ke empat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,6 juta jiwa menurut hasil sensus penduduk tahun 2010. Dibandingkan dengan hasil sensus tahun 2000, selama dekade terakhir ini penduduk Indonesia bertambah sekitar 32 juta manusia atau rata-rata 3,2 juta per tahun dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sekitar 1,49 %. Menurut Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sudibyo Alimoeso mengatakan, tahun 2013 ini penduduk Indonesia berjumlah sekitar 250 juta jiwa. "Tahun 2013 diperkirakan penduduk Indonesia capai 250 juta,"ujarnya. Dengan jumlah penduduk yang besar dan LPP yang tergolong tinggi tersebut, dalam beberapa dekade mendatang Indonesia akan menghadapi "dinamika kependudukan" yang menarik dan sekaligus menantang. Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2030. Bonus demografi adalah keadaan dimana jumlah penduduk produktif (15-64 tahun) lebih besar atau sekitar 70% dibandingkan jumlah penduduk muda (dibawah 15 tahun) dan lanjut usia (65 tahun keatas) atau tidak produktif sebesar 30%. Disebutkan, pada puncak bonus demografi kondisi demografi Indonesia diantara 100 penduduk produktif terdapat 44 penduduk muda dan lanjut usia. Oleh karena itu, bonus demografi ini menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia sehingga perlu dikelola semaksimal mungkin. Pasalnya, bila tidak dipersiapkan hanya akan menjadi ancaman bagi perekonmian negara karena dampaknya bisa menimbulkan masalah gejolak sosial mulai dari angka kemiskinan makin meningkat dan jumlah pengangguran bertambah. Maka untuk menghadapi bonus demografi tersebut, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi perhatian utama. Plh Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Ida Bagus Permana pernah bilang, bonus demografi dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia, dengan syarat pemerintah harus menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi, peningkatan SDM-nya melalui pendidikan, kesehatan, penyediaan lapangan kerja dan investasi. Pada tahun 2020-2030, Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedang usia tidak produktif sekitara 60 juta jiwa, atau 10 orang usia produktif hanya menanggung 3-4 orang usia tidak produktif, sehingga akan terjadi peningkatan tabungan masyarakat dan tabungan nasional. Mutu Pendidikan Menurut Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Budi Susilo Soepandji, hal wajib dilakukan dan dipersiapkan menyambut bonus demografi adalah peningkatan mutu pendidikan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. “Dilandasi oleh kekayaan alam dan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Indonesia, maka pengembangan pendidikan nasional adalah sesuatu yang sangat urgen demi memberdayakan potensi demografi dan geografi Indonesia,“tandasnya. Dalam mengembangkan generasi berkualitas, lanjutnya, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi harus dilakukan secara terpadu dan komprehensif. Dimana fokus utamanya adalah pengetahuan, kecakapan, keterampilan, sikap dan nilai kemandirian, kreativitas dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. “Selain dibekali oleh pendidikan dan layanan kesehatan yang baik, maka perlu ditanamkan nilai nilai pancasila dan wawasana kebangsaan untuk menciptakan generasi yang bermoral,”tuturnya. Sudah menjadi tuntutan, peningkatan jumlah penduduk produktif harus dibarengi dengan peningkatan kualitasnya agar mampu bersaing dalam berkerja ataupun menciptakan lapangan kerja. Apalagi, Indonesia memasuki perdagangan bebas dunia, termasuk dengan Cina dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Maka agar Indonesia tidak kalah bersaing ataupun menjadi beban negara dari bonus demografi tersebut, selain peningkatan SDM melalui pendidikan bermutu dan layanan kesehatan, strategi berikutnya adalah mencetak pelaku usaha baru dengan terus mengedukasi wirasusaha muda dan memberikan bantuan serta membuka pasar. Ciptakan Entrepreneurship Kata Wakil Himpunan Pengusaha Putra Indonesia (HIPPI), Adisatrya Suryo, mencetak pelaku usaha baru dinilai lebih baik ketimbang mencetak kaum pekerja. “HIPPI mendukung bahkan berupaya berperan aktif dalam meningkatkan jumlah wirausahawan. Ini akan dilakukan agar wirausahawan kita mencapai jumlah ideal bagi suatu negara, yakni sebesar 2%,”tuturnya. Dia menambahkan, peningkatan mutu pendidikan guna menghadirkan generasi berkualitas dan menciptakan lapangan kerja melalui wirausaha menjadi jawaban terhadap tantangan bonus demografi. Apalagi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nasional yang dirilis UNDP berada diurutan ke-6. Peringkat ini turun drastis ke peringkat 124 dari 187 negara pada tahun 2011. Padahal, IPM Indonesia pada 2010 ada di rangking 108 dari 169 negara. Laporan itu juga menyebutkan, IPM Indonesia tertinggal di semua sektor jika dibanding Malaysia. Untuk indeks kesehatan misalnya, salah satu yang indikatornya adalah angka harapan hidup. Harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 69,4 tahun. Sedangkan malaysia 74,2 tahun. Karena itu, menyukseskan bonus demografi menjadi berkualitas tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan stakeholder. Tetapi perlu partisipasi masyarakat dan peran penting pihak swasta sebagai pelaku usaha. Harapannya, bonus demografi sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat menjadi sebuah keniscayaan*