Rasio Elektrifikasi Ditargetkan 99% di 2020

Sektor Kelistrikan

Selasa, 07/05/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman menargetkan pada 2020, rasio eletrifikasi di Indonesia mencapai 99%. Untuk saat ini, tercatat sekitar 14,7 juta rumah tangga atau mencapai 23,5% belum terhubung listrik.

"Di 2020 kita targetkan elektrifikasi bisa mencapai 99%, artinya hampir seluruh rumah tangga di Indonesia bisa teraliri listrik," ujar Jarman di Jakarta, Senin (6/5).

Guna mencapai rasio elektrifikasi 99% di 2020, kata Jarman, setidaknya dalam satu tahun ada tambahan pemasangan listrik sebanyak 3 juta rumah tangga. "Tahun ini paling tidak ada sekitar 2,9 juta pelanggan rumah tangga baru, jadi dengan tambahan rumah tangga baru yang teraliri listrik sekitar 3 juta per tahun maka diharapkan pada 2020 elektrifikasi bisa mencapai 99%," jelasnya.

Apalagi seiring dengan pertumbuhan ekonomi, kata Jarman, Indonesia harus menambah kapasitas listriknya per tahun sebanyak 5.000 megawatt (MW). "Agar biayanya tidak besar, maka penggunaan BBM harus dikurangi, tahun ini penggunaan BBM hanya sebesar 6 juta KL (kiloliter) dari tahun sebelumnya 8,2 juta KL. Untuk mengurangi penggunaan BBM hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan energi lainnya seperti gas, solar panel, air dan lainnya," tandasnya.

Sebelumnya, Jarman mengatakan bahwa setiap tahunnya Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$9,6 miliar untuk memenuhi kebutuhan lisrik rata-rata sebesar 5.000 megawatt (MW). Investasi untuk listrik sangat dibutuhkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,5%.

Menurut dia, sampai 2020 Indonesia harus menambah kapasitas listrik sebesar 5.000 MW setiap tahunnya. Adapun dana sebesar US$ 9,6 miliar tersebut digunakan untuk pembangkit listrik dan transmisi. Untuk bisa mencapai target 5.000 MW setiap tahunnya dibutuhkan investasi juga dari swasta.

Pembagian investasi tersebut sebanyak 60 % untuk investasi pembangkit dan 40 % untuk transmisi. Tahun ini, kata Jarman, ditargetkan ada tambahan kapasitas listrik sebesar 5.500 MW. Jumlah tersebut berasal dari FTP tahap I PLN sebesar 2.000 MW sementara Independent Power Plant (IPP/Proyek lpembangkit listrik swasta) sebesar 2.500 MW.

Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan yang kini menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai bahwa rasio elektrifikasi Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. "Rasio elektrifikasi tahun 2012 baru 78% yang berarti 22% penduduk Indoensia belum dialiri listrik," ucapnya.

Agus menambahkan, dengan capaian 78%, tingkat elektrifikasi Indonesia rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lain. Singapura, misalnya, rasio elektrifikasinya mencapai 100% sementara Malaysia 99,4% serta Filipina 89,7%. Indonesia bahkan kalah jauh dengan Vietnam yang rasio elektrifikasinya mencapai 97,6%.

Ia pun mengakui sulit bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan maksimal jika tidak didukung oleh sumber listrik yang memadai. Padahal, ekonomi Indonesia sedang tumbuh tinggi. "Setiap satu persen pertumbuhan membutuhkan 1,2-1,5% pertumbuhan suplai listrik," tandasnya. Sebagai upaya untuk meningkatkan rasio elektrifikasi itulah, pemerintah yang diwakili 11 Kementerian/Lembaga (K/L) akan membantu PT PLN untuk mencapai rasio elektrifikasi yang seharusnya.

Belum Merata

Rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia dari tahun 2008 sampai 2012 dinilai oleh Anggota DPR RI Komisi VII Daryatmo Mardiyanto belum merata. Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua masih menjadi daerah yang paling terendah rasionya. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data selama empat tahun terakhir yang dimiliki DPR, belum terlihat ada perubahan peringkat terendah rasio elektrifikasi.

Padahal dalam pemaparan yang disampaikan oleh Jero Wacik, total rasio elektrifikasi pada tahun lalu mampu melebihi target 73,60% menjadi 76,56%. "Data kami selama lima tahun ini, beberapa daerah tertinggal masih tetap rendah dalam pemenuhan fasilitas jaringan listrtik. Oleh karena, angggaran dana PLN yang tidak terserah harus dialihkan untuk meningkatkan rasio elektrisitas di daerah-daerah tersebut," jelas Daryatmo.

Dalam data Kementerian ESDM presentase terendah tiga propinsi tersebut yakni NTB (53,63%), (NTT 53,42%), dan Papua (34,62%). Sedangkan beberapa daerah yang menempati tiga peringkat teratas yakni DKI Jakarta (99,9%), Nanggroe Aceh Darrusalam (90,96%) dan Bangka Belitung (94,13%).