Sepanjang Kuartal I, Ekspor Alas Kaki Melandai

Selasa, 07/05/2013

NERACA

Jakarta - Selama tiga bulan pertama 2013, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor produk alas kaki buatan Indonesia mengalami tren penurunan. Pada bulan Januari 2013, ekspor alas kaki atau sepatu Indonesia tercatat mencapai US$ 344,1 juta. Di bulan berikutnya, Februari 2013, kinerja ekspor sepatu anjlok 19,5% menjadi US$ 277,4 juta. Lantas turun lagi menjadi US$ 276,7 juta di Maret 2013.

Menurut Binsar Marpaung, Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), di awal tahun ini, industri sepatu terkendala kenaikkan berbagai komponen biaya produksi. Kondisi ini membuat pembeli asing menunda pesanan sehingga kinerja ekspor di awal tahun cenderung menurun.

Kalaupun hasil ekspor sepatu di Januari lebih besar lantaran ada sisa pengiriman ekspor hasil pesanan tahun lalu. \"Sehingga memasuki Februari dan Maret ada penurunan,\" katanya di Jakarta, Senin.

Selain itu, aspek harga untuk produk alas kaki ekspor pun menjadi salah satu faktor yang memengaruhi. Dengan kenaikkan upah buruh yang signifikan menyebabkan kenaikan rata-rata harga jual ekspor alas kaki sebesar US$1 per pasang Padahal sebelumnya, rata-rata kenaikan harga alas kaki tiap tahunnya hanya mencapai 20 sen alias seperlima dari kenaikan yang terjadi pada tahun ini.

Meski terjadi tren penurunan selama dua bulan berturut-turut namun secara year on year kinerja ekspor alas kaki pada kuartal I tahun ini naik 10,7% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada triwulan pertama 2012, ekspor alas kaki mencapai US$ 811,2 juta dan melonjak menjadi US$ 898,1 juta pada tiga bulan pertama tahun ini.

Sementara untuk ekspor alas kaki sepanjang tahun ini, dia mengaku belum bisa memprediksi. Lantaran masih awal tahun dan berbagai faktor bisa memengaruhi kinerja ekspor sepatu. Sepanjang tahun 2012 sendiri, ekspor alas kaki dari Indonesia mencapai US$ 3,5 miliar. Jumlah ini naik 6% dibanding kinerja ekspor 2012 yang sebepar US$ 3,3 miliar.

Nike Optimistis

Meski pasar ekspor cenderung lesu, namun pemilik merek alas kaki global mengaku optimistis dengan penjualan sepatu di jpasar domestik. PT Nike Indonesia misalnya masih yakin produksi berbagai produk merek Nike di Indonesia bisa makin besar.

Panggah Susanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian mengatakan Nike Indonesia ingin menggenjot produksi mereka di Indonesia yang saat ini masih berada di posisi ketiga di Asia di bawah China daiii Vietnam. \"Indonesia saat ini produsen sepatu terbesar nomor tiga untuk Nike. Mereka yakin masih bisa digenjot jadi nomer satu,\" katanya.

Salah satu langkah yang akan digenjot Nike di antaranya menambah mitra kerja di Indonesia. Tahun lalu, Nike sudah memiliki sekitar 38 mitra kerja yang merupakan pabrikan sepatu. Tanpa memerinci target penambahan mitra, Panggah menyebut bahwa Nike akan mengincar mitra kerja yang berlokasi di Jawa Tengah. Maklum, kenaikan upah pekerja di wilayah Jabodetabek sudah naik cukup signifikan. Beda dengan di Jawa Tengah yang kenaikan upahnya tidak sebesar di Jabodetabek.

Lewat cara ini, Nike Indonesia yakin bisa menggenjot ekspor produk Nike asal Indonesia. Pasalnya, sebagian besar produksi Nike di Indonesia untuk pasar ekspor. Tahun lalu, kontribusi produk ekspor 98% dari total produksi.

Produksi Terhambat

Sementara itu, terkait dengan peringatan Hari Buruh awal bulan lalu, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan aksi unjuk rasa yang dilakukan para buruh dalam perhelatan hari buruh sedunia sangat mengganggu dunia usaha.

Aprisindo memprediksi pengusaha sepatu di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Sukabumi mengalami kerugian hingga US$100 juta dalam satu hari. \"Kegiatan produksi terhambat, distribusi barang juga terganggu akibat macet, belum lagi ekspor jadi turun,\" katanya.

Untuk menghindari terulangnya kejadian seperti ini, paparnya, ke depannya kalangan buruh diharapkan merayakannya dengan yang sewajarnya, \"Aksi unjuk rasa adalah hak setiap warga negara, namun hendaknya tidak sampai merugikan orang lain,” ungkapnya.

Menyinggung tuntutan buruh, dia mengakui tuntutan buruh dari tahun ke tahun relatif sama khususnya terkait dengan penaikan upah minimum regional (UMR). \"Seringkali permintaan buruh/pekerja di luar kemampuan pengusaha. Bahkan sering tidak sesuai dengan prosedur,” tandasnya.

Belum lagi mengenai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang diminta oleh kalangan buruh. \"Saat ini KHL yang diterima oleh buruh sudah 60 item, namun saat ini minta tambahan hingga 84 item. “Permintaan mereka di luar kemampuan kami,” ungkapnya.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan kegiatan aksi unjuk rasa besar-besaran seperti saat ini sangat mengganggu kegiatan produksi. Dia mengusulkan, agar ke depannya perayaan dilakukan dengan hal-hal yang lebih berguna.