"Gorengan" Saham Penyebab Terpuruknya 5 Emiten Baru - HARGA KEMAHALAN KURANG DIMINATI

Jakarta – Sejatinya, emiten yang baru listing di pasar modal mampu memberikan ekspektasi lebih besar bagi pemegang saham untuk melihat pergerakan sahamnya, setidaknya mampu mencatatkan penguatan harga saat pembukaan pasar perdana. Namun ironisnya, tercatat 5 emiten baru untuk pertama kalinya listing di Bursa Efek Indonesia, harga sahamnya langsung anjlok.

NERACA

Sebut saja, awal pekan kemarin saham perdana PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) yang tercatat sebesar Rp 240 per saham. Dimana awalnya, emiten properti ini dibuka naik 4% ke level Rp 250 per saham, kemudian anjlok 18,75% ke level Rp 195 per saham. Bahkan hingga penutupan pasar, harganya masih sama saat listing, yaitu Rp 240 per lembar, dengan transaksi dagang 1.701 kali, volume transaksi sebesar 159.884 ribu, serta nilai kapitalisasi pasar Rp 35.118.570.500.

Kemudian saham PT Megapolitan Development Tbk (EMDE), yang mencatatkan saham perdana senilai Rp 210 per saham mengalami penurunan hingga menjadi Rp 165 per saham pada penutupan perdagangan saham kemarin (20/6).

Menyusul emiten PT Martina Berto Tbk (MBTO), dimana harga saham perdananya Rp 740 per saham turun menjadi Rp 495 per saham. Perusahaan penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), dari Rp 750 melorot jadi Rp 530 per saham. Juga saham PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA), yang mencatatkan harga perdana Rp 500 turun menjadi Rp 450 per saham pada transaksi penutupan perdagangan bursa kemarin.

Melihat data tersebut, pengamat pasar modal Yanuar Rizki mengaku tidak heran dengan fenomena jatuhnya nilai saham emiten yang belum lama melantai di pasar saham. Pasalnya, naik turunnya nilai saham di Indonesia memang tidak jauh dari praktik "goreng-menggoreng" alias rekayasa menaikkan nilai saham.

“Permainan (saham) memang seputar praktik seperti itu. Bahkan, perusahaan emiten itu sendiri yang melakukannya. Jadi wajar jika beberapa waktu setelah listing, nilainya jatuh,” tegasnya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, pada saatnya nanti, nilai saham yang akan "digoreng" lagi sehingga investor tertarik untuk membelinya. Pada prinsipnya, pemain saham hanya mencari selisih meski hal ini merugikan investor yang kurang mewaspadai cara demikian.

Lebih lanjut, dia memaparkan, nilai saham yang bertahan stabil hanya dimiliki oleh perusahaan yang berada di sektor industri mapan. Efek dominonya, ketika performa industrinya baik maka ada standing buyer-nya. “Di luar itu, ya saham "gorengan",”tandasnya.

Sentimen Bursa

Namun Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito berpendapat, sentimen bursa saham yang kurang baik mempengaruhi pelemahan saham-saham tersebut, meski performance emiten menjanjikan.

Menurut Eddy, sentimen pasar dinilai sangat penting dalam pencatatan saham perdana di BEI, karena saat indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami pelemahan, merupakan waktu tepat bagi investor untuk masuk ke bursa saham tercatat (listed).

Meski demikian, bagi pelaku pasar yang paham mengenai fundamental perusahaan tidak perlu panik karena ini jangka pendek sesaat. Harus dilihat juga struktur dari IPO-nya, strategi harga, dan distribusi kepada investor ke publik. Karena strateginya bagus, pasti baik pula hasilnya. “Yang pasti, saat listing apapun juga performance dari perusahaan menjanjikan tetapi sentimen pasar sangat penting untuk kenaikan dan penurunan pada hari pertama," ujarnya.

Sementara itu, pengamat pasar modal Edwin Sinaga mengungkapkan, jatuhnya saham emiten tersebut karena pada saat listing di lantai bursa tidak ‘dikawal’ para issuer. “Selain Garuda Indonesia yang perusahaan besar, keempat perusahaan lainnya merupakan menengah. Harusnya di-maintain supaya minat investor tersedot. Ini kan tidak,” ujarnya kemarin.

Edwin menambahkan, secara makro tidak terlalu berpengaruh kepada harga saham ke lima emiten ini. Tetapi, lanjut dia, market demand-nya dianggap terlalu besar sehingga investor yang ingin membeli jarang yang long-term melainkan short-term. “Khusus untuk Garuda. Saya kira kemahalan di harga Rp 750 per saham. Yang bagusnya kisaran Rp 550-600 per saham,” paparnya.

Hal senada dengan Eddy, analis Ecocapital Securities Cece Ridwan menilai, anjloknya saham-saham emiten yang baru IPO tidak perlu dikhawatirkan. “Banyak buyer yang melepas sahamnya saat harga jatuh. Seharusnya tidak perlu panik menghadapi kondisi seperti ini,”jelasnya.

Menurut Cece, ada beberapa faktor yang dapat dilakukan oleh perusahaan pemilik saham agar keanjlokan ini tidak terjadi. Pertama yang harus diperhatikan adalah penentuan harga saham agar tidak terlalu mahal. Kemudian saat IPO, haruslah pada saat yang tepat. Diperhatikan juga kesiapan dari penjamin emisi, jika harga jatuh tetap ada yang membeli. “Akan sangat positif jika institusi yang membeli. Jadi sisi buyernya juga dikontrol,”paparnya.

Hal yang sama juga disampaikan analis dari Kresna Securities, Andrew Haswin mengatakan, para emiten seharusnya mengevaluasi terlebih dahulu ,apakah saham yang dijual itu terlalu mahal,atau industrinya yang tidak menarik pangsa pasar. “Kalau faktor faktor tersebut tidak segera dibenahi,tentu saja masyarakat takut untuk membeli saham dari emiten tersebut,”ungkapnya.

Menurut analis Corfina Capital Deni Hamzah, penurunan tajam saham emiten milik Grup Ciputra ini disebabkan harga penawaran yang agak terlalu mahal di tengah kondisi pasar yang masih belum kondusif. Apalagi, dia melihat para investor akan mengamankan portofolionya saat ini dengan lebih baik memegang cash. Apalagi dia memperkirakan pasar akan sangat fluktuatif pekan ini. iwan/vanya/inung/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Intervensi Pemerintah atas Harga CPO via Implementasi B20

Oleh: Piten J Sitorus, Mahasiswa D3 Alih Program PKN STAN Pada tahun 2017 Indonesia memproduksi sebesar 38,17 juta ton Crude Palm…

Bukaka Kuasai 25% Saham Poso Energy

PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) kembali menguasai 25% saham PT Poso Energy. Sebelumnya, Bukaka sempat melepas 4,49% sehingga kepemlikan…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indonesia Terlambat Kembangkan Ekonomi Syariah

  NERACA Surabaya - Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim perlu lebih cepat mengejar ketertinggalan ekonomi syariah dibanding negara-negara…

DJP TERIMA DATA DARI SWISS PADA SEPTEMBER 2019 - KPK: Pasar Modal Rentan Kegiatan TPPU

Jakarta-Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengungkapkan, pasar modal merupakan salah satu sektor yang rentan terhadap tindak pidana pencucian uang (TPPU).…

LBH Minta OJK Tuntaskan Kasus Fintech - LBH DAN YLKI TERIMA BANYAK PENGADUAN PINJAMAN ONLINE

Jakarta- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta diketahui telah menerima pengaduan 1.330 korban pinjaman online selama kurun waktu 4-25 November 2018.…