PHE ONWJ Klaim Produksi Minyak Lampaui Target

NERACA

Jakarta - Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) mengklaim produksi minyak pada kuartal I tahun 2013 telah melebihi target dalam WP&B yang disetujui oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Saat ini, produksi minyak di PHE ONWJ telah mencapai 37.900 (barel oil per day/BOPD) atau mengalami peningkatan sebesar 4% dari target.

Senior Manager Subsurface PHE ONWJ Ahmad Jaelani menjelaskan bahwa tidak hanya produksi minyak saja yang mengalami peningkatan, namun juga untuk produksi gas. Saat ini, produksi gas PHE ONWJ telah mencapai 212 mmscfd atau mengalami peningkatan 10% dari target WP&B. \"PHE ONWJ tercatat sebagai salah satu penyumbang produksi minyak dan gas terbesar di Indonesia,\" tambah Jaelani di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Pada saat Pertamina ambil alih pada Juli 2009, realisasi produksi minyak telah mencapai 23.100 BOPD. Sementara pada 2010 telah terjadi peningkatan produksi hingga mencapai 27.400 BOPD. \"Saat ini kita berada di posisi nomer tujuh di antara seluruh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS),\" imbuhnya.

Sementara pada 2011, produksi kembali peningkatan hingga mencapai 32.300 BOPD. Di 2012, produksi hanya mengalami peningkatan sedikit sebesar 33.300 BOPD. Dan pada 2013, produksi minyak bertambah sebesar 38.300 BOPD. \"Kita telah melewati target produksi minyak yang telah ditetapkan sebesar 36.400 BOPD, bahkan sekarang telah menduduki di posisi nomer 4 besar diantara KKKS, justru kinerja Pertamina sangat baik di awal tahun 2013,\" tuturnya.

Ia pun optimis dengan realisasi kinerja produksi minyak yang terus mengalami peningkatan, maka di prediksi produksi minyak akan meningkat. \"Di awal Januari saja produksi dikisaran 35.000-40.000 BOPD. Puncaknya di 1 Mei yang produksi minyak yang akan mencapai 42.200 BOPD,\" tambahnya.

Tak hanya itu, PHE ONWJ juga telah merampungkan proses akusisi terhadap Participating Interest (PI) dari Talisman Resources (North West Java) di Blok Offshore North West Java (ONWJ) sebesar 5,0295%. Dengan selesainya proses akuisisi tersebut, maka komposisi kepemilikan PI di Blok ONWJ dimiliki PHE ONWJ yang sekaligus sebagai operator sebesar 58,2795%, EMP ONWJ sebesar 36,7205%, dan Risco Energy ONWJ sebesar 5,000%.

Lanjut Jaelani, dengan dilakukannya akuisisi kepemilikan PI ini, maka target produksi dan pendapatan PHE ONWJ akan mengalami peningkatan yang menunjang pertumbuhan agresif sektor hulu di Pertamina secara keseluruhan.

Vice President Executive dan General Manager PHE ONWJ, Jonly Sinulingga mengatakan, pada Agutus 2013, pihaknya akan melakukan peninggian empat fasilitas produksi lepas pantai yang sudah mulai turun, hingga empat meter lebih tinggi. \"Proyek ini memakan biaya US$130 juta.”

Menurut dia, proyek pengangkatan dan peninggian tersebut memakai teknologi yang pertama kalinya digunakan dan baru diujicobakan di Amerika. \"Teknologi ini diciptakan khusus untuk PHE,\" ujarnya.

Selama pekerjaan berlangsung maka kegiatan operasi akan dihentikan sementara. \"Harus shutdown dulu, kira-kira dua bulan,\" tuturnya. Jonly menambahkan pada 2013, pihaknya akan mengebor lima sumur eksplorasi untuk menambah cadangan.

Lifiting Tak Tercapai

Dalam 5 tahun terakhir, produksi minyak selalu tak sesuai dengan target lifting di Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Untuk itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto meminta agar tata kelola hulu migas harus dibenahi. \"Ini dari tata kelola hulu migas yang keliru dan kita pertahankan terus menerus hingga kini sehingga iklim investasi untuk kegiatan eksplorasi menjadi sangat tidak menarik,\" kata Pri Agung.

Menurut Pri, tata kelola itu menjadi titik nadir sehingga harus segera ada perubahan mendasar dalam mengelola hulu migas dengan memaksimalkan peran Kontraktor Kontrak Kerja Sama KKKS agar lebih baik lagi.

Pri menambahkan, akibat dari tata kelola migas yang keliru tersebut, bahkan pemerintah turut merevisi produksi minyak nasional (lifting) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013. \"Produksi minyak yang semula ditargetkan di 2013 sebesar 900 ribu barel per hari (bph), kemudian direvisi menjadi rata-rata 850 ribu-900 ribu bph,\" ujar Pri.

Menurut Pri, hal tersebut dikarenakan pada tahun ini Indonesia berada dalam titik nadir atau titik terendah dalam produksi minyak nasional. Dan yang bisa dilakukan saat ini terkait pencapaian target lifting hanyalah optimalisasi dari lapangan-lapangan yang ada.

Related posts