Menakar Peluang Global Bond Modernland Realty - Terbitkan Bulan Juni Senilai US$ 300 Juta

NERACA

Jakarta – Kondisi pasar saham yang sangat baik, menjadi memontum tepat bagi perseroan untuk melancarkan aksi korporasi dan termasuk menerbitkan surat utang. Rencana inilah yang juga dilakukan PT Modernland Realty Tbk (MDLN). Dimana perseroan berencana menerbitkan surat utang global sebesar US$ 300 juta pada pertengahan tahun ini.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta akhir pekan kemarin. Disebutkan, penerbitan surat utang ini dilakukan untuk mendukung ekspansi dan pembayaran utang jangka panjang perseroan.

Oleh karena itu, perseroan bakal menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS-LB) pada 3 Juni 2013 mendatang. Adapun global bonds tersebut memiliki tingkat suku bunga paling tinggi mencapai 10%, dengan jangka waktu selama-lamanya 5 tahun. Dalam penerbitan obligasi itu, perseroan menggunakan laporan keuangan per 31 Desember 2012. Sebagai informasi, laporan keuangan per 31 Desember 2012, perseroan memiliki utang jangka panjang sebesar Rp447,21 miliar. Perseroan berharap dapat melakukan pembayaran utang jangka panjang dengan biaya yang lebih efisien.

Selain itu, perseroan juga perseroan memiliki dana segar sebesar Rp3,9 triliun dari penjualan lahan seluas 170 ha dan penerbitan obligasi pada akhir tahun lalu.

Analis pasar modal dari Dana Reksa, Candra Pasaribu pernah bilang, penerbitan surat utang dengan nilai dolar atau global bond dinilai mempunyai risiko besar dan termasuk potensi gagal bayar atau default, khususnya emiten yang tidak mempunyai pendapatan dalam bentuk dolar, “Utang dolar harus dibayar dolar, emiten yang memiliki pendapatan dalam rupiah harus cari di market untuk mendapatkan dolar. Hal ini juga semakin menjatuhkan nilai rupiah,”ujarnya.

Menurutnya, emiten yang tidak memiliki pendapatan dolar akan sulit untuk mengembalikan utangnya. Pasalnya, banyak hal yang justru akan merugikan perusahaan. Disamping penerbitan global bond juga cenderung lemahkan rupiah.

Disamping itu, global bond harus mempertimbangkan beberapa aspek seperti bunga serta jangka waktu pengembalian. Kendatipun demikian, sisi positif global bond juga memiliki keuntungan bunga yang lebih rendah.

Hal senada juga disampaikan analis obligasi dari PT Penilai Peringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fakhrul Aufa, penerbitan obligasi global (global bond) akan banyak membebankan emiten tersebut. Pasalnya, harus mengkonversi pembayaran utang dalam bentuk dolar, “Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan mempengaruhi biaya pembayaran utang dalam dolar tersebut,”ungkapnya.

Sementara dari sisi keuntungan, global bond memberikan yield yang lebih rendah, sehingga beban utang yang harus ditanggung oleh emiten akan lebih murah. Oleh karena itu, lanjutnya, global bond sebaiknya hanya untuk jangka pendek.

Kata Fakhrul, emiten bisa menerbitkan obligasi denominasi dolar karena yield yang rendah serta likuiditas global yang masih tinggi sehingga kemungkinan besar akan oversubscribed. (bani)

Related posts