Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Rp133,15 Triliun

Kuartal IV 2012

Senin, 06/05/2013

NERACA

Jakarta - Industri asuransi jiwa Indonesia berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp133,15 triliun di kuartal IV 2012, tumbuh 20,65%, dari periode sama di 2011 yang sebesar Rp110,36 triliun. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim, menuturkan total klaim dan manfaat yang dibayarkan industri asuransi jiwa mencapai Rp64,02 triliun, meningkat 15,96% dari kuartal IV 2011. "Pada dasarnya, fungsi utama asuransi adalah untuk memberikan perlindungan keuangan diri dan keluarga saat terjadinya risiko yang tidak diinginkan. Untuk itu, semua klaim dengan persyaratan lengkap dan sesuai dengan manfaat polis yang dimiliki wajib dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada para pemegang polis atau ahli warisnya," kata Hendrisman di Jakarta, Jumat (3/5) pekan lalu.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, klaim dan manfaat yang dibayarkan pada tahun lalu meliputi polis yang berakhir masa kontraknya berjumlah Rp7,9 triliun. Jumlah ini meningkat 23,57% dibandingkan tahun sebelumnya Rp6,4 triliun. Lalu, klaim meninggal dunia sebesar Rp5,47 triliun. Jumlah ini naik sebesar 64,18% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp3,33 triliun.

Sedangkan polis yang ditebus meningkat sebesar 11,68%, dari Rp39,87 triliun menjadi Rp44,52 triliun. Terakhir adalah klaim kesehatan dan lain-lain senilai Rp6,11 triliun. Jumlah ini naik 15,97% dari tahun sebelumnya Rp5,31 triliun. Menurut laporan AAJI, di samping total pendapatan dan klaim serta manfaat yang dibayarkan, dalam kinerja industri asuransi jiwa 2012, menunjukkan bahwa total pendapatan premi meningkat 11,48% dari Rp94,19 triliun menjadi Rp107,73 triliun.

Total premi baru sebesar Rp75,01 triliun, atau meningkat sebesar 11,28% dari tahun sebelumnya Rp67,40 triliun. Kemudian, jumlah investasi tercatat Rp227,07 triliun dari sebelumnya Rp197,54 triliun. Sementara itu, total aset yang dimiliki industri asuransi jiwa sebesar Rp267,56 triliun. Jumlah tersebut meningkat sebesar 18,78% dari 2011 yang mencapai Rp225,25 triliun. Total dana kelolaan terbukukan Rp112,78 triliun, atau meningkat 22,3% dari sebelumnya Rp92,22 triliun.

Hendrisman juga menjelaskan, untuk jumlah total tertanggung, AAJI mencatat penurunan sekitar 8,12%, yaitu dari 49,8 juta orang menjadi 45,7 juta orang. Hal ini karena adanya pengurangan tertanggung kumpulan, yaitu dari 40,82 juta orang menjadi 34,78 juta orang. Sedangkan untuk agen berlisensi, jumlahnya meningkat 19,12%, yaitu dari 256.463 orang pada 2011 menjadi 303.115 orang pada tahun berikutnya.

AAJI juga mencatat bahwa dari total penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta jiwa, hanya 18% atau 43,6 juta orang yang memiliki perlindungan asuransi jiwa. Dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 11 juta orang saja yang memiliki asuransi jiwa individual, atau sekitar 4% dari total populasi. Bahkan, jumlah total nasabah asuransi jiwa turun sebesar 8,21%. Jika dilihat secara terpisah hal ini didorong oleh penurunan jumlah nasabah dari asuransi kumpulan sebesar 14,80% dibandingkan tahun 2011. Namun kepemilikan asuransi individual meningkat pesat sebesar 22,14% dari 8,99 juta tertanggung di tahun 2011 menjadi 10,98 juta tertanggung di tahun 2012.

Tumbuh positif

Sementara Maryoso Sumaryono, Ketua Bidang Aktuaria dan Riset AAJI menjelaskan, total pendapatan tersebut didominasi oleh pendapatan premi yang naik 14,38% menjadi Rp107,73 triliun, dibandingkan akhir 2011 yang sebesar Rp94,19 triliun. Sumbangan pendapatan lain adalah dari hasil investasi dan klaim reasuransi. “Pertumbuhan total premi didorong oleh pertumbuhan positif di seluruh saluran pemasaran. Bancassurance memberi kontribusi sebesar 40,4% dari total premi, sementara saluran pemasaran keagenan berkontribusi sebesar 38,3% dan saluran pemasaran alternatif sebesar 21,3%,” jelasnya.

Selain itu, tambahnya, premi bisnis baru menyumbang hampir 70% dari pendapatan total premi, di mana tercatat pertumbuhan sebesar 11,28% menjadi Rp75,01 triliun. Sedangkan premi lanjutan memberikan kontribusi sebesar 32% dengan kenaikan sebesar 22,17% menjadi Rp32,72 triliun. Untuk premi produksi baru ini, produk tradisional dan unit link hampir berimbang, yakni 52% berbanding 48%. Namun di premi lanjutan, unit link lebih tinggi yaitu 62%, sedangkan tradisional 38%. “Jadi produk tradisional dan unit link sama-sama mendorong pertumbuhan bisnis baru industri asuransi jiwa. Ini menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia, terutama tertanggung individual, semakin memahami pentingnya perlindungan asuransi jiwa dalam perencanaan keuangan jangka panjang,” tuturnya.

Kontribusi dari unitlink terhadap pendapatan total premi sebenarnya menurun jika dibandingkan di 2011. Benny Waworuntu, Direktur Eksekutif AAJI, mengungkap adalah suatu hal yang wajar. “Ya, itu wajar, karena kalau misalnya pasar saham sedang naik, memang karena unitlink bukan murni investasi, tapi ada asuransinya juga. Kalau orang yang mau betul-betul berinvestasi mungkin dia akan masuk pasar modal secara langsung, apakah itu reksadana atau saham,” terangnya. Menurunnya pendapatan premi dari unit link juga disebabkan berkurangnya premi tunggal dari produk tersebut. Kemudian, produk lain yang berkebalikan hasilnya dari unit link adalah bancassurance. Produk ini memang sedang marak dalam waktu setahun terakhir. [ria]