Pemerintah targetkan Pendapatan Per Kapita US$15.500

Tahun 2025

Senin, 06/05/2013

NERACA

Manado - Pemerintah Indonesia menargetkan pendapatan per kapita pada tahun 2025 bisa mencapai US$14.250-15.500. Hal ini sejalan dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), sehingga Indonesia menjadi 12 besar kekuataan dunia tahun 2025. Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Pelaksana Tugas Menteri Keuangan Hatta Rajasa dalam kuliah umum di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Jumat (3/5) pekan lalu.

Dia mengatakan, pada tahun 2011, pendapatan per kapita Indonesia mencapai US$3.500 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD820 miliar, Tahun 2012 pendapatan per kapita meningkat menjadi US$3.563 dengan PDB sebesar US$900 miliar, Sementara itu, tahun 2013 pendapatan per kapita ditargetkan mencapai US$4.500 dan PDB bisa mencapai US$997 miliar.

"Tahun 2025, pendapatan per kapita bisa sekitar US$14.250-15.500 dengan penduduk 280-an juta. Jadi tidak mungkin kita melakukannya tanpa ada percepatan akselerasi lewat MP3EI. Apalagi tahun 2025 Indonesia menjadi 12 kekuataan dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan," tandasnya.

Apalagi, sambungnya, saat ini Indonesia telah menciptakan kelas menengah baru, di mana meningkat dari tahun 2003 yaitu sekitar 30% dan sekarang menjadi sekitar 60% atau 131 juta orang dengan mengukur spending sebesar US$2 per hari. Kendati demikian, masih banyak kelompok masyarakat yang harus diperhatikan oleh pemerintah yaitu sebanyak 30 juta sangat miskin dan 70 juta vulnerable. "Dengan 131 juta kelas menengah dan 0,2% super kaya maka perlu dijaga jangan sampai ketimpangan menjadi melebar," jelasnya.

Menurutnya, kelas menengah ini diharapkan mampu membawa perubahan dan mendorong pembangunan bukan hanya konsumtif. "Mckinsey mengatakan tahun 2030 spending kelas menengah USD1,8 triliun dan akan terus bertumbuh. Makanya kita harus mendorong middle class ke sektor yang produktif," pungkasnya.

Peran kelas menengah, lanjut Hatta, hendaknya meluas menjadi produsen yang berarti turut memperluas lapangan kerja yang hingga kini masih menjadi masalah perekonomian bangsa. Salah satu upaya memperluas peran kelas menengah dalam perekonomian nasional, katanya, adalah melalui pengembangan ekonomi kreatif.

"Ekonomi kreatif dipercaya akan dapat memberi ruang peran yang lebih optimal kepada kalangan kelas menengah dalam mendorong perekonomian nasional. Terlebih, kalangan kelas menengah sesungguhnya merupakan kelompok yang lebih terdidik, lebih rasional, dan lebih mandiri dengan segala karakteristiknya yang khas," ujar Hatta.

Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif ini setidaknya cocok dikembangkan di wilayah Bali-Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan koridor V MP3EI, sehingga, ke depan Bali akan menjadi basis wirausaha yang akan berkontribusi positip bagi pembangunan daerah. [iqbal]