Mitra Investindo Bagikan Dividen Rp 2 Persaham

Senin, 06/05/2013

NERACA

Jakarta – Sejak tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 1997, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) untuk pertama kalinya membagikan dividen Rp 2 perlembar saham atau 30% dari laba bersih.

“Sejak 1997 kami terdacatat di BEI, baru kali ini kami dapat membagikan dividen untuk pemegang saham, karena sejak tahun 1997, langsung dilanda krisis moneter yang menyebabkan keuangan kami sulit. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir kami sudah mendapatkan profit, hanya saja akumulasi lost besar sehingga baru saat ini kami dapat bagikan dividen, “kata Direktur PT Mitra Investindo Tbk, Diah P.Gandhi di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, sisa laba tersebut akan disimpan untuk cadangan perseroan. Selain itu, guna meningkatkan kapasitas produksi granit, perseroan tahun ini akan menambah satu unit mesin dengan nilai investasi sekitar US$ 1,5 juta. Asal tahu saja, perseroan menargetkan produksi tumbuh 20%-30% menjadi sekitar 2 juta ton dan saat ini cadangan perseroan sebesar 9,5 juta ton.

Sepanjang tahun 2012, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 22,09 miliar dari penjualan mencapai Rp 150,83 miliar. Disebutkan, penjualan granit meningkat 8,2% dari total 1,57 juta ton pada 2011 menjadi 1,62 juta ton pada 2012.

Setelah dilakukan kuasi reorganisasi untuk periode 31 Maret 2012, perseroan berhasil mencatatkan ekuitas bersih sebesar Rp 94,81 miliar pada akhir Desember 2012, “Saat ini mesin yang ada sebanyak 5, namun ada 2 mesin yang kami combine karena sudah tua jadi total seluruh mesin 4 unti termasuk yang baru,”ungkapnya.

Saat ini MITI memiliki tambang yang dibeli dari PT Antam Tbk sejak tahun 1991 dengan luas 67 Ha di Bintan. Perseroan memiliki rencana untuk akuisisi di Karimun, hanya saja terganjal masalah lahan dan administrasi, “Di Karimun ada lahan yang mau kita akuisisi hanya ssaja kecocokan harga belum. ijin dari pemerintah dan penduduk setempat juga belum selesai karena wilayah tersebut berada di kawasan hutan lindung”, jelas Andreas Tjahjadi, Presiden Komisaris MITI.

Sementara itu, menurut Direktur Operasional MITI, Ka Nen menyatakan bahwa hampir semua tambang, khususnya MITI tidak bisa jalan karena peraturan pemerintah mengenai ekspor, “Harga pemerintah yang tentukan, dan pajaknya besar, kami tidak mapu membayar pajak yang demikian besar. Paddahal sampai saat ini permintaan dari luar banyak, sekitar 1 juta ton. tapi karena masalah ini, belum bisa kami penuhi, pemasaran hanya untuk domestik saja,”jelasnya.

Disebutkan, selama ini lokal market memang besar terutama diserap Batam sebanyak 70% untuk infrastruktur jalan dan properti. Dimana kebanyakan dikonsumsi proyek pemerintah dan infrastruktur, “Konsumen kami ada Wijaya Karya, Nindya Karya, Duta graha dan masih ada beberapa,”paparnya.

Mengenai target ekspansi usaha MITI kedepan, Andreas menyatakan bahwa ada rencana perseroan untuk ekspansi usaha ke sumber energi lain. Namun dirinya menyatakan bahwa ekspansi tidak akan jauh dari urusan tambang mineral dan energi, “Batubara dan plantation pernah coba, namun saat itu posisi kami sulit untuk pinjam bank karena masih baru apalagi untuk right issue atau obligasi,”tandasnya. (nurul)