Plin Plan Pemerintah Bikin Pasar Suram

Imbas S&P Turunkan Outlook Indonesia

Senin, 06/05/2013

NERACA

Jakarta- Sikap plin plan pemerintah menetapkan keputusan terkait kebijakan bahan bakar minyak (BBM) pada akhirnya juga berimbas pada kondisi pasar saham Indonesia. Terlebih setelah keluarnya informasi mengenai revisi outlook peringkat utang RI oleh Standard and Poors. “Bak tanah longsor di mana IHSG melanjutkan longsornya hingga menjauhi area overbought dari sehari sebelumnya pasca kabar negatif dari S&P.” kata analis saham dari Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, setelah menyentuh level tertingginya diiringi kekhawatiran akan longsornya IHSG di bulan Mei dan mulai berbalik arahnya bursa saham Asia menjadi negatif telah membuat pelaku pasar lebih memilih melepas posisi. “Asing pun juga mulai jualan, namun masih tercatat nett buy dengan adanya crossing saham IMAS senilai Rp7,87T pada harga rata-rata Rp5.312.” ujarnya.

Adanya laporan S&P terkait diturunkannya peringkat outlook utang Indonesia dari positif ke stabil dengan galaunya kebijakan pemerintah, lanjut dia, semakin membuat kondisi IHSG semakin suram. Sepanjang pekan kemarin, IHSG mengalami penurunan sebesar 53,03 poin (-1,07%) melanjutkan penurunan lebih dalam dari sebelumnya -19,95 poin (-0,40%).

Pelemahan diikuti dengan merahnya indeks utama lainnya, di mana indeks MBX memimpin penurunan -1,08% dan diikuti indeks LQ45 dan DBX yang masing-masing melemah -0,99% dan -0,90%. Hanya indeks JII yang mencatatkan pergerakan positif sebesar 0,12%. Di sisi lain, hanya tiga sektor yang mencatatkan penguatan, yaitu konsumer yang naik 4,80% dan diikuti oleh indeks manufaktur sebesar 1,04%, dan industri dasar sebesar 0,40%.

Disebutkan Reza, selama sepekan asing mencatatkan aksi jual (nett sell) sebesar Rp398,26 miliar atau lebih rendah dari pekan sebelumnya sebesar Rp475,97 miliar. Ke depan, dia memperkirakan IHSG akan berada pada rentang Support 4835-4867 dan Resisten 5022-5175. “Posisi IHSG yang masih berada di area overbought secara teknikal mingguan dan tidak adanya tambahan sentimen positif dari rilis kinerja emiten membuat IHSG masih rentan melemah.” jelasnya.

Karena itu, untuk menghalau laju IHSG menuju ke gap berikutnya di bawah diharapkan positifnya rilis data-data ekonomi dan berita-berita umum emiten. Pelaku pasar dapat mencermati sektor industri dasar, keuangan, konsumer, infrastruktur, dan properti. Sejumlah saham yang dapat diperhatikan antara lain SMGR, CPIN, BBCA, SMCB, BMRI, MAIN, BBKP, BDMN, PGAS, BSDE, APLN, AISA, dan MYOR.

Dia menambahkan, adanya laporan S&P juga berdampak pada penguatan laju rupiah yang sempat naik tipis seiring dengan pernyataan The Fed sebelumnya yang akan tetap mempertahankan bond buying programnya dengan tidak mengubah besarannya di level US$85 miliyar. “Penguatan ini dibatasi dengan langkah S&P yang merevisi peringkat utang Indonesia karena pemerintah Indonesia dinilai telah mengulur-ulur momentum reformasi ekonomi sehingga potensi Indonesia untuk mendapatkan peningkatan rating kian berkurang.” paparnya. (lia)