Adaro Yakin Pasar Ekspor Pulih Tahun ini

Jumat, 03/05/2013

NERACA

Jakarta-PT Adaro Energy Tbk (ADRO) optimistis permintaan untuk pasar ekspor atas komoditi tambang, khususnya batubara masih akan mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik di tahun ini. Meskipun pertumbuhan ekonomi di negara buyer terbesar batu bara, Cina sedang mengalami pelemahan. “Ekspor ke China masih tinggi, tahun kemarin saja 240 juta ton lebih permintaannya. Sedangkan India sekitar 140 juta ton,” kata Direktur Keuangan PT Adaro, David Tendian di Jakarta, Kamis (2/5)

Menurutnya, di tahun ini perseroan memproduksi batu bara sebanyak 50-53 juta ton, dan telah masuk dalam kontrak produksi tahun ini. Pemindahan lapisan penutup turun 11% menjadi 62,25 Mbcm (juta bcm). Hal tersebut dikarenakan perseroan memutuskan untuk mengurangi nisbah kupas rata-rata yang direncanakan dari 6,4 x pada tahun 2012 menjadi 5,75 x pada tahun 2013.

Hingga kuartal pertama 2013, produksi batubara meningkat sebesar 4% menjadi 11,42 juta ton, dan volume penjualan relatif stabil di angka 11,23 juta ton. Pada posisi ini produksi batubara dari Paringin melonjak 310% menjadi 0,9 juta ton dan Wara meningkat 7% menjadi 1,77 juta ton, sedang Tutupan menurun 4% menjadi 8,75 juta ton.

Sementara untuk harga jual batu bara turun sebesar 18%. hal itu karena pengaruh lambatnya harga dan melemahnya indeks harga batubara global. Meskipun demikian, untuk harga batu bara di tahun ini, pihaknya memproyeksikan akan kembali stabil pada kuartal keempat 2013, atau mencapai US$100 juta metrik per ton.

Perkiraan akan membaiknya harga batu bara pada kuartal keempat, yaitu dengan membandingkan harga batu bara di Australia sebesar US$95 juta sampai US$100 juta metrik juta ton. Sedangkan untuk saat ini berkisar antara US$88 juta sampai US$92 juta meterik per ton. “Kami memperkirakan bahwa permintaan yang kuat di wilayah Asia pasifik untuk batubara peringkat menengah dan rendah akan terus berlanjut pada jangka menengah.” jelasnya.

Untuk meningkatkan kinerja di tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$150 juta-US$200 juta yang berasal dari kas internal perseroan serta standby facility.

Penggunaan dana tersebut antara lain akan digunakan perseroan untuk pengembagan usaha, seperti mengakuisisi lahan dan maintanance alat-alat produksi. “Fifty-fifty akan kami gunakan untuk akusisi lahan dan peningkatan usaha perseroan,” jelasnya.

Dalam rencana bisnisnya, perseroan menyebutkan akan membangun Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang akan digarap perseroan di wilayah Batang, Jawa Tengah. Total investasi untuk proyek ini diperkirakan sebesar US$4 miliar untuk pembangunan PLTU, dan diharapkan pada 2017 akan mulai beroperasi.

Disebutkan, pembangunan PLTU ini berkapasitas 2x1.000 megawatt (mw) dan berkontribusiuntuk penyediaan listrik se Jawa-Bali. Dalam operasionalnya, PLTU tersebut diperkirakan akan mengonsumsi sebesar 7,5 juta ton batu bara dengan kadar kalori sebesar 4.500 kilo calori (kcal) per kilogram (kg). Adapun penyuplainya yaitu, PT Kaltim Prima Coal dan Adaro. Pembangunan PLTU ini juga merupakan bagian dari program private publik dan saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan, serta menyangkut Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). (lia)