Harga BBM Naik, Penjualan Mobil Turun

NERACA

Jakarta - Kabar Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk saat ini masih menggantung. Pemerintah ibarat tidak punya nyali untuk mengambil keputusan. Terlepas dari sikap pemerintah yang maju mundur, industri mobil mulai bersiap menghadapi gelombang efek kenaikan harga BBM bersubsidi. Sebagian besar pemain produsen mobil memprediksi, dampak harga BBM tidak akan awet lebih dari tiga bulan.

Joko Trisanyoto, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), menuturkan, kenaikan harga BBM bukan satu satunya faktor yang wajib diantisipasi pebisnis otomotif. Mereka juga mencermati tren harga komoditas yang melandai, yang bisa berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Situasi keamanan serta stabilitas politik juga diperhitungkan para pebisnis kendaraan bermotor. “Kurangnya kenyamanan dalam keamanan dan politik, bisa menahan masyarakat untuk membeli sesuatu,” tutur Joko.

Dari berbagai ancaman yang mengepung, ucap Joko, paling efektif memicu kemerosotan penjualan mobil adalah tingkat pertumbuhan ekonomi dan laju infl asi. Joko mencontohkan, penjualan mobil pernah jatuh sekitar tahun 2006 karena kenaikan harga BBM yang ujung-ujungnya menciptakan inflasi tinggi serta jebloknya pertumbuhan ekonomi.

Tak heran, bila pengelola perusahaan otomotif kini mencermati dampak kenaikan harga BBM terhadap pertumbuhan ekonomi dan lonjakan infl asi. “Kalau cuma bensin naik dan tak ada dampak ke pertumbuhan ekonomi dan inflasi, saya kira efek ke pasar mobil tidak akan lama,” tutur Joko.

Beberapa pemain sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM. Namun, tidak satu pun pemain otomotif yang merevisi target penjualan. Menurut perkiraan Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra, kenaikan harga BBM memang berdampak terhadap penjualan mobil. Tetapi, dampak kenaikan harga BBM tahun ini diprediksi singkat. “Menurut hitungan.”kami, mungkin cuma tiga bulan. Setelah itu normal kembali,” ujar Amelia.

Kebijakan Tak Jelas

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini serta kenaikan pendapatan per kapita bisa menyeimbangkan kenaikan harga BBM. “Kuartal 1 penjualan hampir 300.000 unit. Jika dikalikan empat kuartal jumlahnya 1,2 juta unit. Kalau apes, penjualan turun, 1,1 juta unit tetap tercapai,” kata Jongkie.

Tahun lalu, penjualan mobil mencapai 1,16 juta unit. Di Tahun ini, Gaikindo menargetkan, jumlah mobil yang terjual setidaknya sama dengan angka tahun lalu. Selama kuartal pertama tahun ini penjualan mobil 295.909 unit.

Pengamat otomotif Soehari Sargo menduga, dampak harga BBM tak akan besar ke pasar mobil. Tapi, penjualan tahun ini tetap bisa terpangkas hingga 100.000 unit. Untuk menekan dampak kenaikan harga BBM, Soehari menyarankan pemerintah memberikan pemahaman bahwa subsidi BBM sebesar Rp 230 triliun akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur. Jadi, ujung-ujungnya akan menghemat penggunaan BBM pada kendaraan.

Akan tetapi, Kementerian Perindustrian memastikan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tidak akan mengganggu pertumbuhan industri otomotif. Sampai saat ini, industri dipastikan aman dari dampak kenaikan harga BBM bersubsidi.

MS Hidayat, Menteri Perindustrian, mengatakan industri otomotif masih dapat mengelola biaya produksi dari dampak rencana kenaikan harga BBM tersebut. \"Kalau harga BBM bersubsidi naik sekitar Rp 6.500 per liter, dampak ke industri masih kecil dari biaya produksinya, masih managable,\" kata Hidayat.

Hidayat menambahkan, rencana kenaikan harga BBM bersubsidi diperkirakan juga tidak akan mengganggu industri usaha kecil dan menengah (UKM). Sebab, besaran kenaikan harga BBM tersebut dinilai belum signifikan. Namun, kata Hidayat, pemerintah mengantisipasi bahwa rencana kenaikan harga BBM ini justru akan menyebabkan kenaikan harga bahan-bahan pokok serta harga barang lainnya. \"Yang ditakutkan adalah harga (barang) naik sebagai imbas psikologis kenaikan harga BBM,\" tambahnya.

Sebelumnya, Hidayat optimis konsep mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) bakal diterima baik di masyarakat. Terutama setelah muncul rencana kenaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) untuk mobil pribadi.

Dia memperkirakan, ke depan akan banyak masyarakat beralih membeli mobil murah ramah lingkungan. \"Akan ada shifting, ada peralihan, orang akan membeli mobil murah yang irit, LCGC itu diperketat spec-nya sedemikian rupa, sehingga sebagai green car dia itu bisa 1 liter 22 kilometer, dibandingkan sekarang, itu bagus buat kita,\" ungkapnya.

Related posts