BondRI dan AWAI Gelar Edukasi Pasar Obligasi - Mengenal Risiko Investasi Lebih Dini

NERACA

Jakarta – Keyakinan pasar obligasi dalam dua tahun kedepan masih prospektik sebagai sumber pendanaan, kini mulai dilirik perusahaan atau emiten untuk memanfaatkan pasar obligasi yang tengah marak untuk dijadikan sumber pendaan. Oleh karena itu, sudah saatnya investor juga memanfaatkan pasar obligasi sebagai investasi jangka panjang.

Maka dalam rangka meningkatkan edukasi investor, Direktur Utama Bond Research Institute (BondRI), Tumpal Sihombing menjalin kerjasama dengan ketua Asosiasi Wali Amanat Indonesia dan (AWAI), Rifat Siregar untuk mengedukasi perihal valuasi perusahaan dan obligasinya bagi para anggota AWAI, “Kami menilai bawa kualitas valuasi perusahaan yang dilakukan bondholder masih perlu ditingkatkan melaui public capacity building, “katanya dalam siaran persnya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (2/5).

Menurut Tumpal, kerjasama BondRI dengan AWAI ini diharapkan dapat menjadi sinergi yang efektif untuk inisiatif tersebut. Sebagai informasi, Wali Amanat adalah pihak yang menyertai investor sepanjang periode investasi. Selain itu, Wali Amanat juga lembaga yang memiliki kewenangan fidusial dalam mengawasi pelaksanaan serta penegakan ragam klausula definitif dalam perjanjian antar pihak terkait dalam berinvestasi di obligasi.

Tiga Poin Penting

Kata Tumpal, dalam berinvestasi obligasi, poin pertama yang patutu diperhatikan investor memahami tingkat risiko sebelum memutuskan berinvestasi di obligasi. Prinsip KYC (Know Your Customers) dalam kegiatan risk-profiling yang dilakukan para agen distribusi dinilai salah satu metode edukasi yang efektif untuk melindungi kepentingan investor.

Kedua, investor perlu pengetahuan yang memadai mengenai kondisi historis dan terkini mengenai pasar surat berharga, sehingga investor dapat menjadi lebih waspada terhadap potensi risiko sistem sistematik, “Pengetahuan merupakan suatu modal yang penting bagi investor sebagai upaya preventif terhadap peluang kerugian dalam berinvestasi obligasi, “ungkapkanya.

Berikutnya yang ketiga, investor juga sebaiknya well-informed dan high-involved mengenai emiten dan efek obligasinya. Sementara Ketua AWAI, Rifat Siregar menuturkan, kedekatan dengan investor bisa dijadikan pengawasan yang lebih efektif dan preventif terhadap kondisi positive dan negative covenant,. \\\"Melalui edukasi perihal valuasi perusahaan dan obligasinya, BondRI dan AWAI berharap dapat meningkatkan posisi tawar Wali Amanat dalam perjanjian dengan pihak-pihak terkait dalam perumusan perjanjian,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Produk Indonesia Jelajah Lebih dari 100 Negara

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengaku senang karena ada produk dengan merek asli Indonesia yang telah "menjajah" lebih dari…

Tunjukkan Tren Lebih Rendah - Peringkat Utang BUMI Dipangkas Jadi Negatif

NERACA Jakarta – Semangat manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memangkas beban utang dengan persiapan melakukan pembayaran utang yang bakal…

Pemda Kalsel Tertarik Untuk Obligasi Daerah

NERACA Banjarmasin -Wakil Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Rudy Resnawan menyatakan tertarik dengan potensi pengembangan obligasi daerah sebagai sumber pendanaan untuk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PPRO Berikan Kran Air Siap Minum di Semarang

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT PP Properti Tbk (PPRO) bersama…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Mandom Targetkan Penjualan Tumbuh 10%

Sepanjang tahun 2019, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 5% hingga 10%. Hal itu ditopang pertumbuhan penjualan…