Indonesia-Tatarstan Kerja Sama 5 Sektor

Jumat, 03/05/2013

NERACA

Jakarta - Republik Tatarstan, sebuah negara federasi di bawah Rusia, ingin bekerjasama lima sektor dengan Indonesia. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, ke lima sektor tersebut adalah minyak dan gas, pangan dan produk halal, perkebunan, manufaktur dan industri serta investasi, perdagangan dan riset. “Kami menyambut baik kedatangan rombongan pejabat Tatarstan dan kami siap kerja sama dengan negara berpenduduk hanya 3,8 juta jiwa atau 1,5% dari penduduk Indonesia,” ujar Hatta di Jakarta, Kamis (2/5). Sektor pertama yaitu energi. Hatta mengungkap bahwa Rusia sebagai salah satu negara berpenghasil migas besar dunia. Sementara Tatarstan adalah negara penghasil minyak.

Seperti diketahui, sejak 2006, Indonesia telah menjadi negara pengimpor minyak lantaran semakin minimnya produksi minyak mentah dalam negeri. “Kita terus mengimpor minyak, memerlukan minyak, dan juga memerlukan produk-produk petrokimia yang berbasis minyak mentah (crude oil). Jadi konteksnya energy security. Ini yang kita kembangkan ke depan,” jelas Hatta. Sektor kedua, kata dia, adalah kerja sama bidang pangan. “Jangan lupa kalau konsumsi gandum kita meningkat, dan gandum sudah menjadi makanan pokok kedua setelah beras. Sementara kita bukan produsen gandum karena alasan iklim. Mereka (Tatarstan) kuat dengan gandum dan pangan kita untuk produk-produk perkebunan, juga kuat,” klaim Hatta.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, antara Rusia dengan Indonesia telah memiliki Komisi Bersama (Joint Commission) yang pada Juni 2012 sudah mengadakan pertemuan ke delapan. Dalam Joint Commission itu, Indonesia mendorong produk-produk unggulannya untuk lebih banyak diekspor ke negeri Beruang Putih tersebut, terutama karet. Pasalnya, imbuh Hatta, Rusia sudah terkenal dalam mengembangkan karet sintetik. “Indonesia akan menawarkan karet alam untuk menjadi andalan. Kita juga akan menawarkan produk-produk komoditas lain seperti teh, kopi, dan kelapa sawit, yang termasuk produk-produk unggulan. Tujuannya agar kita bisa penetrasi pasar di Kazakhstan dan Belarusia,” kata Hatta. Informasi saja, Tatarstan memiliki semacam wilayah perdagangan bebas (free trade area) dengan negara-negara bekas Uni Soviet yang masih berada di bawah pengaruh Rusia. Selain produk-produk perkebunan, Indonesia juga berpotensi menginisiasi produk-produk pangan halal ke Rusia.

Buka kantor regional

Tuntutan produk halal makin meningkat. Tidak hanya muslim, tetapi juga nonmuslim juga membutuhkan produk halal lantaran kehigienisan dan keterjaminannya. “Produk-produk pangan kita, terutama yang packaging itu sudah berlabel halal. Pangsa pasar Rusia sangat besar karena ada 20 juta penduduk Rusia yang muslim. Dan kita sangat terkenal dengan makanan halal food-nya. Makanya, kita ingin ekspor (makanan halal) ke sana,” ungkap dia.

Potensi kerja sama ketiga yang bisa dikembangkan antara Indonesia dan Tatarstan adalah sektor manufaktur dan industri. Tatarstan memiliki teknologi yang cukup kuat, terutama industri penerbangan. Hal itu karena hasil warisan dari Uni Soviet. Industri penerbangan Tatarstan memproduksi pesawat komersil tipe Tu-214 dan helikopter. Pabrik helikopter Kazan adalah salah satu produsen helikopter terbesar di dunia. Tatarstan, lanjut Hatta, juga kuat di bidang petrochemical dan perakitan mesin, seperti kendaraan berat merek KamAZ. Produsen truk KamAZ adalah perusahaan terbesar di Tartastan yang mempekerjakan sekitar 1/5 dari tenaga kerja di negara itu.

“Laporan BPS menyebut kalau industri manufaktur kita meningkat kuat. Artinya, industri kita berkembang pesat. Nah ke depan, Indonesia akan jadi production base, terutama di industri penerbangan,” katanya. Hal keempat yang bisa dikerjasamakan adalah sektor investasi dan perdagangan. Terakhir riset. Tidak hanya terbatas di riset saja, tetapi juag didorong pertukaran pendidikan dan budaya. “Kita mengusulkan industri dari Tatarstan mempertimbangkan untuk membuka kantor regional di Indonesia. Ini adalah kali pertama Indonesia membangun hubungan bilateral dengan Tatarstan. Untuk pertemuan lanjutan akan dilaksanakan di Kazan, ibukota Tatarstan,” tandas Hatta. Seperti diketahui, total perdagangan Indonesia dengan Federasi Rusia mencapai US$3,37 miliar pada 2012. Namun, neraca perdagangan Indonesia terhadap Rusia masih defisit lantaran impor peralatan industri dan militer. [iqbal]