Konsumen Indonesia Paling Doyan Belanja

Survei Nielsen

Jumat, 03/05/2013

NERACA

Jakarta - Riset Nielsen menyebut bahwa Indonesia berada di posisi teratas karena memiliki nilai indeks tertinggi di dunia dari 58 negara dalam hal kepercayaan konsumen. Hasil survei yang dilakukan pada kuartal pertama 2013 ini memperlihatkan bahwa konsumen Indonesia adalah konsumen yang bersifat konsumtif dan mempunyai keinginan besar untuk berbelanja jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti India dan Filipina.

"Faktor utama yang menyebabkan mengapa indeks kepercayaan konsumen Indonesia paling tinggi adalah karena perekonomian Indonesia tumbuh positif dan stabil di atas 6%. Menurut dia, dengan semakin berkembangnya perekonomian di Indonesia, membuat kepercayaan konsumen untuk membeli barang atau produk untuk kebutuhan hidup juga semakin tinggi," ujar Managing Director PT Nielsen Company Indonesia, Catherine Eddy di Jakarta, Kamis (2/5).

Menurut dia, saat ini Indonesia menduduki peringkat pertama dari 58 negara di dunia dengan nilai indeks mencapai 122 atau meningkat 5 poin dari kuartal pertama di 2012 yang hanya mempunyai nilai 117. Lebih jauh, Catherine mengatakan bahwa posisi kedua diduduki India dengan indeks 120, disusul Filipina dengan indeks 118, sedangkan China berada di peringkat ketujuh dengan indeks 108.

Ditambahkannya, hal menarik lain yang diperoleh dari hasil survei itu adalah bahwa 74% konsumen di Indonesia lebih suka menabung. Menurut Catherine, kebanyakan konsumen memilih untuk menyisihkan dana cadangan ke dalam tabungan, daripada mengeluarkannya untuk kebutuhan yang tidak penting. Menurut dia, Indonesia adalah negara penabung tertinggi kedua di dunia setelah Hong Kong.

Selain itu, Catherine mengatakan bahwa konsumen di Indonesia juga optimistis melihat prospek lapangan kerja di Indonesia akan semakin membaik, seiring dengan meningkatnya perekonomian. Menurutnya, 76% konsumen mengatakan bahwa prospek lapangan kerja akan naik dalam 12 bulan ke depan. "Kelas menengah di Indonesia yang selalu growing termasuk salah satu push factor yang menyebabkan kepercayaan konsumen meningkat tajam, sehingga mereka lebih percaya diri dalam melihat prospek lapangan kerja," tambah dia.

Disebutkan dalam survei tersebut, ada beberapa hal yang mendasari konsumen Indonesia menjadi orang yang paling bahagia yaitu konsumen Indonesia yakin dengan prospek lapangan kerja lokal meningkat setelah sebelumnya secara bertahap menurun selama empat kuartal di 2012. Pada pandangan mengenai keuangan pribadi, survei Nielsen mengungkapkan sebanyak 83% konsumen Indonesia percaya keadaan kondisi keuangan mereka akan sangat baik atau baik dalam 12 bulan ke depan, yang berarti meningkat 5% poin dibandingkan kuartal sebelumnya (78%).

Selanjutnya, dalam hal keinginan berbelanja, 55% konsumer yang disurvei mengindikasikan 12 bulan ke depan akan menjadi waktu yang baik atau sangat baik untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan atau butuhkan, meningkat satu persentase poin dibandingkan kuartal IV 2012. Konsumen Indonesia juga dikatakan saat ini memiliki optimisme besar menjelang pemilu presiden pada 2014 nanti. Pola optimisme ini secara konsisten ternyata terjadi di masa lalu pada setiap menjelang pemilu.

Selain itu, kenaikan upah minimum yang signifikan di seluruh Indonesia berarti bahwa konsumen yang bekerja di sektor formal memiliki pendapatan yang siap dibelanjakan lebih banyak, yang membuat manajemen kondisi finansial mereka sedikit lebih mudah. "Kami juga melihat bahwa kepercayaan konsumen juga mengarah kuat pada lebih banyak brand dan produk premium, yang lagi-lagi memberikan indikasi bahwa konsumen Indonesia memiliki pendapatan yang siap dibelanjakan untuk brand dan produk tersebut," jelas Catherine.

Kepercayaan Menurun

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa indeks kepercayaan konsumen akan mengalami penurunan ketika dihadapi dengan kenaikan harga bahan pangan. Menurut survei terakhir, konsumen yang menyatakan kekhawatiran mereka terhadap harga pangan yang tinggi memang naik dari 65,1% pada Januari menjadi 72,3% pada Februari. Selain itu, kenaikan tarif listrik baru-baru ini tampaknya juga membuat sentimen menurun.

Pada Februari, konsumen merasa yakin tekanan inflasi akan sedikit meningkat dalam enam bulan mendatang. Indeks yang mengukur sentimen konsumen terhadap inflasi naik sebesar 0,7% menjadi 190,3 pada Februari. Ini merupakan level tertinggi dalam 6 bulan terakhir. Ekspektasi kenaikan harga ini tidaklah mengherankan karena harga-harga bahan makanan biasanya cenderung naik pada akhir dan awal tahun karena musim paceklik (panen raya biasanya mulai pada Maret).

Kedua komponen utama yang membentuk IKK pada Februari menurun. Komponen yang menunjukkan keadaan saat ini (Indeks Situasi Sekarang/ISS) turun 5,4% menjadi 75,4 karena konsumen memberi penilaian yang lebih buruk terhadap keadaan ekonomi nasional maupun lokal serta keadaan lapangan kerja saat ini.

Sementara itu, komponen IKK lainnya yang menunjukkan keadaan masa depan (Indeks Ekspektasi/IE) mengalami penurunan 1,3% menjadi 105,0 pada Februari. Ini berarti optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi secara keseluruhan dalam enam bulan mendatang menurun.