Saya ini Pekerja Keras

DIRUT BANK SULSELBAR ELLONG TJANDRA

Sabtu, 04/05/2013

DIRUT BANK SULSELBAR

ELLONG TJANDRA

Saya ini Pekerja Keras

Mens sana in corpora sano. Itulah ungkapan Romawi kuno yang pas untuk menggambarkan sosok seorang Ellong Tjandra. Jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Ungkapan itu jamak dipakai di kalangan olah ragawan, termasuk Ellong. Dia adalah Ketua Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Sulawesi Selatan (Sulsel). Pria kelahiran Makassar 26 April 1952 itu juga pernah tercatat sebagai mantan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB Forki. Dia juga ketua umum Pengurus Provinsi Persatuan Golf Indonesia (Pengprov PGI) Sulsel untuk periode 2012-2016.

“Sebagai olahragawan, saya ini pekerja keras,” tutur Ellong kepada Neraca, belum lama ini. Bagi dia, etos seorang olahragawan sangat penting dalam menunjang karakternya dalam berkarier di bidang perbankan. Lebih mementingkan karier, Ellong pun tak mau terjun ke dunia politik praktis.

“Dalam dunia politik, saya memilih netral, tidak mau terlibat, sebab di sana bisa terkotak-kotak oleh kepentingan kelompok,” ujarnya. Menurut pria penyandang sabuk hitam dan 7 itu, dirinya lebih fokus pada upaya bagaimana membangun negerinya dengan segenap jiwa nasionalisme. Berhubung lebih banyak di daerah, jiwa nasionalime itu pun diramunya dengan etos otonomi daerah.

“Sangat kebetulan, di bank pembangunan daerah ini lebih terasa nuansanya sebagai agent of regional development, itu dibandingkan dengan bank lainnya,” kata Direktur Utama Bank Sulselbar ini. Dia menduduki jabatan itu sejak Agustus 2009. Berkat kerja kerasnya itulah, kini Bank Sulselbar tercatat sebagai bank daerah yang paling efisien.

Sejak 2008-2012, Bank Sulselbar membukukan modal intinya meningkat hingga 94%, dan kini pada posisi Rp 528,74 miliar. Selama kurun waktu itu, dividen yang dibagikan mencapai Rp 712,24 miliar atau 135% dari modalnya. Menurut dia, mudah bagi Bank Sulselbar untuk menghimpun modal usaha. Antara lain bisa dengan menerbitkan obligasi subordinasi. Bunga obligasi tentu lebih menarik karena nilainya jauh lebih besar dari pada bunga deposito.

Bahkan, diam-diam bank yang dipimpinnya itu telah dilirik konglomerat Chairul Tandjung, pemimpin CT Corp. CT, sapaan Chairul berminat membeli 30% saham Bank Sulselbar. “Itu menunjukkan bahwa bank ini bukan sekadar bank daerah yang kecil, tapi bank yang memiliki pesona yang mampu menarik minat banyak orang,” kata dia.

Saat ini, Ellong bersama petinggi bank pembangunan daerah (BPD) lainnya yang terhimpun di Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), sedang giat dengan programnya yang prestisius, yaitu mewujudkan BPD sebagai juaranya bank di daerah (bank regional champion) masing-masing. Bersama-sama pula, kalangan BPD itu juga sedang menyusun sistem informasi jaringan terintegrasi secara nasional.

Dari Jakarta ke Daerah

Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin ini meniti kariernya di sektor perbankan di Jakarta. Mula-mula dia bergabung di Bank Dagang Negara (BDN) sebagai analisekonomi daerah dan pembukaan kantor cabang baru di BDN pada 1983. Pada 1992, Ellong ditunjuk menjadi salah seorang wakil kepala cabang bidang administrasi. Setahun berikutnya, dia menjadi wakil kepala cabang bidang operasional.

Jabatan kepala cabang BDN pertama kali diemban pada 1995 dan ditempatkan di kantor kas gedung Indosat. Tiga tahun kemudian, yaitu pada 1998, Ellong pindah tempat menjadi kepala cabang BDN di Gedung Pelni. Saat ini, BDN melebur menjadi Bank Mandiri. Dia memang spesialis kepala cabang. Mulai 2001, dia mengurus kantor cabang Bank Mandiri di Gedung Jalan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Tak lama dia dipindah lagi untuk membuka kantor cabang Bank Mandiri di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan.

Alumnus program Magister Manajemen di PPM Manajemen itu pulang ke kampung halamannya pada 2003. Ketika itu dia dipromosi menjadi kepala Kantor Bank Mandiri Wilayah X/Makassar. Jabatan itu dipegangnya selama dua tahun. Memasuki 2005, pendekar karateka itu kembali ke Jakarta dan ditunjuk menjadi Group Head Small Business Sales.

Namun tugas itu hanya dipegang selama enam bulan, yaitu sejak Januari hingga Juni. Setelah itu langsung dipindah ke Bandung untuk memimpin Kantor Bank Mandiri Wilayah IV selama dua tahun hingga 2007. Tahun itulah dia pensiun. Keluar dari Bank Mandiri, Ellong menjadi advisor pada BPR KS yang ada di Bandung. Dua tahun kemudian, datanglah pinangan dari Bank Sulselbar.

Dia mengaku senang kembali lagi ke Makassar, karena bisa dekat dengan sosok idolanya, yang juga teman kuliah di Unhas, yaitu Syahrul Yasin Limpo. Sang idola itu dulu kuliah di Fakultas Hukum. “Kini dia menjadi gubernur saya,” ujarnya.

Mengapa mengidolakan temannya sendiri? Ellong pun berterus terang, Syahrul orangnya tegas dan pintar. Selama menjabat sebagai dirut Bank Sulselbar, dia beberapa lagi diminta memimpin delegasi Sulsel menuju Pekan Olah Raga Nasional (PON). Cabang olah raga yang dipimpinnya, yaitu Forki, berhasil mempersembahkan beberapa medali emas. (saksono)