BPS: Inflasi Kalsel 0,04%

Gorontalo Alami Deflasi

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Banjarmasin - Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan mengungkapkan, Kota Banjarmasin pada April 2013 mengalami inflasi sebesar 0,04%. “Inflasi di Banjarmasin, karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,51%,” ungkap Kepala BPS Kalsel Iskandar Zulkarnain, Rabu (1/5). Selain itu, naiknya indeks kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,75%, lanjutnya dalam jumpa pers di Kantor BPS Kalsel, Jalan KS Tubun (Pekauman) Banjarmasin. Kemudian kelompok kesehatan naik sebesar 0,01% dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,4%.

Sementara kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,55%, kelompok sandang 1,13%, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,1%. Sepuluh komoditas utama yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi selama April 2013, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, gula pasir, pepaya, jeruk, pepes, cabe merah, cabe rawit, rokok kretek filter, terong panjang.

Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi, bawang putih, ikan gabus, emas perhiasan, daging ayam ras, ikan asin telang, bayam, selar, sawi hijau, bensin, dan pisang. Ibu kota Kalsel tersebut sampai April 2013 mengalami inflasi sebesar 1,81%, sedangkan dilihat dari inflasi y-o-y (bulan April 2012 terhadap bulan April 2013), secara umum Banjarmasin mengalami inflasi sebesar5,31%.

Jika dilihat dari kelompok pengeluarannya, inflasi y-o-y tertinggi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yaitu sebesar 8,17% dan terendah pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,66%. Menurut komponennya, barang-barang yang harganya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (administered goods inflation) secara umum mengalami inflasi sebesar 0,89%. Harga yang bergejolak (volatile goods inflation) deflasi sebesar 0,6% dan komponen inti (core inflation) mengalami inflasi sebesar 0,1%.

Di tempat terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo pada April 2013, terjadi deflasi sebesar 0,16%, atau penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 141,62 pada Maret 2013 menjadi 141,39 pada April 2013. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Hermanto, Rabu, mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada April 2013 secara umum menunjukkan adanya penurunan. Laju inflasi tahun kalender 2013 sebesar 1,49% dan inflasi "year on year" (April 2013 terhadap April 2012) sebesar 3,63%.

Dia mengatakan deflasi di Kota Gorontalo terjadi karena adanya penurunan harga, yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 0,5%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,22%. Kelompok sandang 0,21%, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,01%. Sedangkan kenaikan indeks terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,04%, kelompok kesehatan 0,95%, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,11%.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga selama bulan April 2013 antara lain ayam hidup, susu untuk balita, susu untuk bayi,mesin cuci, pembersih lantai, pengharum cucian/pelembut, sabun cream detergen, dan sabun detergen bubuk. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga selama bulan April 2013 diantaranya beras, daging ayam ras, ikan asin belah, telur ayam ras, bayam, bawang putih, gula merah, cabe merah, cabe rawit, minyak goreng, gula pasir, semen dan bensin.

Sementara itu, masing-masing kelompok komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah bahan makanan minus 0,1627%, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar minus 0,0363%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,0104%. Sedangkan kelompok sandang memberi andil -0,0116%, kelompok kesehatan 0,0321%, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,0050%, dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan -0,0007%. "Dari 66 kota inflasi, 28 kota mengalami inflasi dan 38 kota mengalami deflasi. Inflasi bulanan tertinggi pada April 2013 terjadi di Padang Sidempuan sebesar 0,81% dan inflasi terendah terjadi di Kendari 0,01%. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Maumere sebesar 1,2%,” jelasnya.[ardi/ant]