Pertumbuhan di Pasar Modal

Kamis, 02/05/2013

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Di saat belum adanya kepastian pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak bergeming dan sebaliknya terus tumbuh hingga di level 5000. Padahal, sebagian pelaku ekonom sangat gelisah karena ketidakpastian ini harga BBM ini telah mengganggu roda bisnis dan terlebih sudah mulai marak aksi spekulan memanfaatkan kondisi tersebut.

Keyakinan industri pasar modal masih tetap positif terhadap sentimen negatif dari kenaikan harga BBM menjadi alasan, jika investor asing terus melakukan aksi beli. Apalagi, kinerja keuangan emiten cukup gemilang dengan pertumbuhan laba dan penjualan.

Tidak hanya itu, sepanjang kuartal pertama tahun ini likuiditas di pasar modal telah melampaui negara Malaysia. Data World Federation of Exchange menyebutkan, sepanjang kuartal pertama 2013, kapitalisasi pasar BEI sudah mencapai US$ 495,27 miliar atau telah melampaui kapitalisasi pasar bursa Malaysia di level US$ 462,53 miliar. Meski demikian, jumlah tersebut masih di bawah kapitalisasi pasar bursa Singapura di US$ 800,32 miliar.

Capaian tersebut, tentunya menjadi nilai lebih bagi industri pasar modal untuk terus meraih prestasi dengan didukung pertumbuhan ekonomi yang positif, kondisi politik yang stabil dan inflasi yang terjaga. Ambisi industri pasar modal mengungguli bursa Asia seperti Malaysia dan Singapura dalam nilai transaksi, jumlah emiten dan investor serta kapitalisasi saham masih merupakan perjuangan panjang.

Karena sejauh ini, tingkat jumlah investor lokal pun masih sedikit dibandingkan jumlah populasi masyarakat Indonesia yang sudah mencapai 230 juta. Bahkan dalam persentase jumlah investor dalam negeri masih kalah dibandingkan dengan investor asing yang mayoritas capai 60%.

Masalah klasik minimnya jumlah investor lokal di pasar saham karena minimnya edukasi dan penegakan hukum yang belum tegas. Alhasil, sebagian orang melihat investasi pasar modal dinilai belum menjadi prioritas ketimbang simpanan berjangka (deposito) di bank.

Kini sudah saatnya, peningkatan transaksi saham di pasar modal didongkrak dari transaksi investor lokal ketimbang asing. Bagaimanapun juga, investor lokal akan tetap setia menempatkan dananya di pasar saham dalam negeri, dibandingkan investor asing hanya bersifat sementara untuk mencari keuntungan.

Merupakan sebuah kebanggaan, jika dari populasi penduduk Indonesia sudah terbuka soal investasi di pasar modal. Pasalnya, meningkatkan jumlah investor domestik akan memberikan keuntungan adanya pertumbuhan industri pasar modal yang terjaga, stabil dan tidak mudah digoyang dengan berbagai sentimen dari luar.

Pentingnya investor lokal dalam menjaga pertumbuhan industri pasar modal, kini menjadi fokus utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Hanya saja, sejauhmana otoritas pasar modal dan termasuk BEI memberikan keyakinan bila investasi saham di pasar modal menguntungkan dan aman.

Hal ini menjadi masalah yang patut diperhatikan dengan memberikan fasiltas infrastruktur yang memadai, regulasi yang berpihak kepada investor, pengawasan yang ketat dan penegakan hukum yang tegas terhadap kejahatan di pasar modal. Jangan sampai, mengundang investor masuk ke pasar modal hanya dianggap seperti "anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu".