Bahan Makanan Jadi Pendorong Utama

April Deflasi 0,1%

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,1% pada Maret 2013. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di kantornya, Rabu (1/5). Dari 66 kota IHK (indeks harga konsumen), tercatat 38 kota mengalami deflasi dan 28 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Maumere sebesar 1,20%, sedangkan Inflasi tertinggi terjadi di Padang Sidempuan sebesar 0,81%.

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks 2 kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 0,80% dan kelompok sandang 1,13%. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,30%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,41%, kelompok kesehatan 0,22 %, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,15%, dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,10%.

“Penyebab utama deflasi adalah bawang putih yang harganya turun drastis sebesar 25,6% dan andil terhadap deflasi adalah sebesar 0,18%. Ini karena stok bawang putih sudah cukup di pasar,” kata Suryamin. Penurunan terjadi di 66 kota IHK alias seluruh wilayah yang disurvey BPS. Sumenep dan Probolinggo adalah yang mengalami penurunan harga paling besar, yaitu 61%. Disusul penurunan tertinggi berikutnya adalah di Jember sebesar 58%. Sedangkan di kota-kota lain, penurunan harga bawang putih bervariasi antara 10% sampai 55%.

Penurunan harga cukup signifikan juga terjadi pada emas perhiasan, yaitu turun 4,13% dibanding Maret 2013. Kontribusi emas perhiasan terhadap deflasi adalah sebesar 0,1%. Penurunan harga juga terjadi di seluruh wilayah survey BPS. “Ini karena terjadi penurunan harga emas internasional,” kata Suryamin. Jakarta, Ternate, Kediri, Serang, Lhokseumawe, adalah beberapa kota yang mengalami penurunan harga emas perhiasan paling tinggi, yaitu 6%, Sementara Banda Aceh, Jember, Tegal, Maumere, Tangerang, Pare-Pare, Balikpapan, dan Depok turun 5%.

Komoditas yang juga cukup besar andilnya terhadap deflasi adalah beras dengan andil sebesar 0,06%. “Penurunan harga terjadi sebesar 0,93% karena sentra-sentra produksi beras memasuki masa panen. Penurunan harga terjadi di 47 kota IHK dengan penurunan terbesar di Bandar Lampung sebesar 6%, disusul Cirebon 5%,” jelas Suryamin. Tomat sayur ikut berkontribusi terhadap deflasi dengan andil 0,03%. Penurunan harga terjadi sebesar 13,90%. Menurut Suryamin, penurunan terjadi karena pasokan yang berlimpah seiring curah hujan yang meningkat. Tercatat, 34 kota IHK mengalami penurunan harga tomat sayur dengan penurunan terbesar terjadi di Jayapura sebesar 53%. Bogor berada di tempat kedua dengan penurunan harga sebesar 44%. Namun begitu, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti apel yang harganya naik 14,62%. Jeruk naik 4,32%. Biaya sewa rumah, upah pembantu, dan ongkos angkutan udara juga naik masing-masing 0,59%, 1,31%, dan 2,15%.

Keanehan Bawang Merah

Menurut Suryamin, terjadi keanehan pada komoditas bawang merah karena harga di level petani sudah turun, tetapi harga di pasaran masih naik. “Untuk bawang merah, pada level produsen atau petani sudah terjadi penurunan 1,91%. Ini terjadi di beberapa provinsi, misalnya yang terbesar adalah di Jawa Barat turun 9,27%, Jawa Tengah turun 5,06%, dan Jawa Timur turun 3,88%,” jelas dia. Tetapi di sisi lain, harga bawang merah di pasaran naik 0,37% dan ikut mendorong inflasi dengan andil sebesar 0,07%. Kenaikan harga terjadi di 57 IHK dengan kenaikan tertinggi di Kupang sebesar 51% dan Padang Sidempuan 45%. “Kalau di pasar masih naik, ada apa? Kenaikan ini terjadi pada level pedagang,” ujar Suryamin. [iqbal]