Neraca Perdagangan Kembali Surplus - Triwulan I 2013

NERACA

Jakarta – Setelah lima bulan mengalami defisit neraca perdagangan, akhirnya, pada Maret 2013 Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sebesar US$304,9 juta. Namun, jika diakumulasikan sepanjang tahun 2013 ini, neraca perdagangan masih terhitung defisit sebesar US$67,5 juta. Surplus bulanan terakhir yang dialami Indonesia sebelumnya adalah pada September 2012, yaitu surplus US$ 552,9 juta. “Ekspor Maret 2013 adalah senilai US$15 miliar, turun 13,03% dibanding Maret 2012. Juga turun 0,08% dibanding Februari 2013. Sementara impor Maret 2013 senilai US$14,7 miliar dolar, atau turun 9,97% dibanding Maret 2012. Dan turun 4,01% dibanding Februari 2013,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Rabu (1/5).

Menurut Suryamin, penurunan ekspor Maret 2013 ini adalah karena menurunnya ekspor nonmigas sebesar 2,77%, yaitu dari US$12,45 miliar pada Februari 2013 menjadi US$12,10 miliar pada Maret 2013. Sedangkan ekspor migas naik sebesar 12,94% dari US$2,57 miliar menjadi US$2,90 miliar. Penurunan terbesar ekspor nonmigas Maret 2013 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$421,0 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$232,6 juta.

Sedangkan peningkatan ekspor migas lebih disebabkan karena meningkatnya ekspor minyak mentah sebesar 5,29% dari US$841,3 juta menjadi US$885,8 juta. Ekspor hasil minyak juga meningkat sebesar 10,23% dari US$324,4 juta menjadi US$357,5 juta. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari−Maret 2013 mencapai US$45,39 miliar atau menurun 6,44% dibanding periode yang sama tahun 2012, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$37,27 miliar atau menurun 3,27%.

Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari−Maret 2013 turun sebesar 2,95% dibanding periode yang sama tahun 2012, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 1,30%, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun sebesar 4,71%. Sedangkan mnurut negara tujuan, ekspor nonmigas ke Cina Maret 2013 mencapai angka terbesar, yaitu US$1,80 miliar, disusul Jepang US$1,34 miliar dan Amerika Serikat US$1,32 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,81%. Sementara ekspor ke 27 negara ke Uni Eropa adalah senilai US$1,25 miliar.

Waspadai Thailand

Indonesia cukup baik dalam neraca perdagangan non-migas-nya ke seluruh negara di Asean, meskipun secara akumulasi, pada Maret 2013 ini Indonesia mengalami defisit perdagangan nonmigas sebesar US$85,1 juta terhadap Asean. Ini karena Indonesia mengalami defisit yang cukup dalam terhadap Thailand, yaitu US$519,8 juta. Ekspor Indonesia ke Thailand pada Maret 2013 adalah senilai US$441,2 juta, sementara impornya dari Thailand pada periode yang sama senilai US$961,0 juta.

Dalam triwulan pertama 2013, akumulasi defisit perdagangan nonmigas Indonesia terhadap Thailand tercatat US$1.381,6 juta. “Harus hati-hati (impor) dari Thailand, salah satunya yang terbesar kendaraan roda empat. Avanza dan sebagainya,” kata Suryamin. Deputi Bidang Statistik, BPS, Adi Lumaksono mengatakan bahwa semakin banyak orang Indonesia yang menggunakan sedan, sementara produsen mobil sedan adalah Thailand, jadi Indonesia banyak mengimpornya.

“Honda City, Toyota Vios, Baleno, itu dari Thailand. Tapi Toyota Kijang, Daihatsu Xenia, Toyota Avanza, itu kita produksi. Permintaan mobil antara sedan dengan kendaraan niaga, orang Indonesia lebih banyak ke sedan. Istilahnya kalau minibus itu kan niaga,” kata Adi. Menurut dia, dengan fenomena ini maka bisa diperhatikan bahwa orang Indonesia semakin mencari privasi, mencari aman, yaitu dengan konsumsi mobil dengan penumpang yang lebih sedikit seperti sedan. [iqbal]

Related posts