DPK BII Tumbuh 24%

NERACA

Jakarta - PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) berhasil membukukan perolehan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp89,3 triliun pada triwulan I 2013. Hal ini meningkat 24% dari perolehan di periode sama di 2012 yang sebesar Rp72 triliun. Giro tumbuh sebesar 13% menjadi Rp14 triliun, tabungan tumbuh sebesar 20% menjadi Rp19,3 triliun dan deposito tumbuh 28% menjadi Rp56 triliun.

“Kompetisi pasar dan pembatasan suku bunga simpanan mengharuskan kami untuk menetapkan strategi baru bagi pertumbuhan simpanan nasabah. Strategi kami dalam meningkatkan basis nasabah yang ada di ritel, UKM dan global wholesale, dengan mengoptimalkan cross sell dan referral bersama dengan pendekatan konsep komunitas telah menghasilkan pertumbuhan simpanan nasabah sebesar 24% pada triwulan I 2013,” ungkap Dato’ Khairussaleh Ramli, Direktur Utama BII di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut dia mengatakan, penyaluran kredit tumbuh 14% selama triwulan I 2013, dari Rp69,8 triliun di 2012 menjadi Rp79,7 triliun pada tahun ini. Kredit UKM tumbuh signifikan dari Rp17,1 triliun menjadi Rp23,7 triliun atau naik 39%. Kredit ritel naik 13% dari Rp25,9 triliun menjadi Rp29,3 triliun. Kredit global wholesale, termasuk kredit komersial, terjaga pada Rp26,7 triliun sejalan dengan kebijakan BII untuk menyesuaikan kembali portofolio korporasi secara konsisten dengan aktivitas manajemen risiko kredit yang lebih proaktif.

“Pertumbuhan kredit ritel selama triwulan I 2013, terutama didukung oleh pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan pertumbuhan signifikan pada portofolio pembiayaan kendaraan roda empat. Kami memang terus menyeimbangkan portofolio pinjaman kendaraan roda empat dan roda dua,” kata Ramli. Portofolio kredit pembelian kendaraan roda dua yang terkena dampak peraturan baru LTV, secara ritel tumbuh 30%. Portofolio pembiayaan kendaraan roda empat naik 38% dari Rp5,1 triliun pada triwulan I tahun lalu, menjadi Rp7,0 triliun pada tahun ini. KPR tumbuh signifikan 32% menjadi Rp10,5 triliun pada triwulan I tahun ini dari Rp7,9 triliun pada periode sama tahun lalu. Sedangkan NPL Nett sebesar 0,62%.

“Untuk Rasio Kredit terhadap Simpanan Nasabah (LDR) konsolidasian membaik dari 96,30% pada Maret 2012 menjadi 88,00% pada Maret 2013. LDR BII saja (tidak termasuk entitas anak) terjaga pada tingkat yang sehat sebesar 82,55%, sementara modified LDR konsolidasian yang memperhitungkan obligasi, pinjaman jangka panjang dan simpanan nasabah tercatat sebesar 76,17% pada 31 Maret 2013,” jelasnya.

Gelar rights issue

Sementara, laba setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) Rp309 miliar untuk triwulan I yang berakhir 31 Maret 2013, meningkat 16% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak BII meningkat 15% menjadi Rp438 miliar dibandingkan Rp379 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Kami dengan gembira melihat hasil positif dari program tranformasi IMPACT (Implement with Acceleration through Collaboration and Teamwork) seperti intisiatif transformasi di lini penjualan di cabang yang meningkatkan produktivitas cabang hingga dua kali lipat, mentransformasikan Syariah sebagai penghasil produktivitas bagi seluruh Grup BII serta Program Pengelolaan Biaya secara Bijaksana dan Strategic Cost Management Program (SCMP),” tuturnya.

Untuk rasio keuangan lainnya, yakni return on equity (ROE) tercatat sebesar 14,35%, rasio kecukupan modal (CAR) berada pada tingkat 13,29%, peningkatan bunga bersih sebesar 18% dari Rp1,2 triliun pada triwulan pertama tahun lalu menjadi Rp1,4 triliun di periode sama tahun ini, marjin bunga bersih (NIM) berada di angka 5,32% pada Maret 2013 dibandingkan 5,51% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan, BII berencana meningkatkan modal dasar melalui rights issue pada semester I 2013. Rencana ini sejalan dengan rencana permodalan dan telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Maret 2013. “Saat ini kami masih menunggu persetujuan OJK atas penerbitan saham ini. Total modal dasar yang dapat diperoleh dari rights issue adalah Rp1,5 triliun. Kami tetap optimis dengan tahun keuangan 2013, karena kami lebih fokus untuk menumbuhkan pembiayaan,” tutupnya. [ria]

Related posts