Eksploitasi Energi Sambut Baik Rencana Semen Indonesia

Pasok Batubara Kebutuhan Produksi

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta- Rencana PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menggandeng perusahaan berskala menengah untuk memenuhi kebutuhan batubara sebagai penunjang bahan bakar produksi dan pembangkit listrik (power plant) perseroan disambut positif oleh PT Eksploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO). “Saat ini belum ada pembicaraan ke arah sana dengan PT Semen Indonesia Tbk, namun kami siap memasok asal harganya sesuai,” kata Public Relation Manager CNKO, Vivien Damarsasi di Jakarta, Rabu (5/1).

Menurutnya, harga batubara yang ditawarkan oleh perusahaan kelas menengah saat ini terbilang lebih murah. Maka dengan adanya minat SMGR untuk melirik batubara dari perusahaan kelas menengah diharapkan akan dapat memberikan angin segar bagi kinerja beberapa perusahaan produsen batubara tersebut ke depan.

Disebutkan, pada tahun ini CNKO menargetkan volume penjualan sekitar 3,6 juta ton. Untuk memenuhi target tersebut, selain mengincar pasar domestik, CNKO juga akan mengekspor batu bara ke beberapa negara, seperti Malaysia dan Korea Selatan. Selain menggenjot penjualan, CNKO juga berencana untuk menggarap lima dari tujuh konsensi pertambangan batubara yang dibeli beberapa waktu lalu. Rencananya, kegiatan produksi tambang batubara CNKO sendiri baru akan dimulai paling cepat pada Juni 2013. Apabila tambang ini telah berproduksi, CNKO menargetkan akan memproduksi sekitar 1,2 juta ton batubara per tahun.

Di lain pihak, Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya akan menggandeng perusahaan-perusahaan produsen batubara kelas menengah atau yang dapat memberikan harga yang lebih rendah sebagai penunjang bahan bakar produksi dan pembangkit listriknya. Pasalnya, saat ini harga batubara dari beberapa perusahaan besar seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dinilai sudah cukup mahal. “Saat ini kita punya kontrak jangka panjang dengan Adaro, dan harganya jauh lebih tinggi dari perusahaan yang berskala menengah sehingga kami juga akan mencari perusahaan yang harganya lebih murah,” jelasnya.

Konsumsi Batubara

Menurutnya, pada tahun ini secara group perseroan membutuhkan pasokan batubara sebanyak 4- 5 juta ton, di mana saat ini sebagian besar dipenuhi di wilayah Kalimantan. “Konstribusi pasokan batubara Kalimantan yaitu sebesar 70%,” ujarnya.

Langkah yang diambil perseroan untuk menyiasati kebutuhan batubaranya tersebut sejalan dengan upaya perseroan untuk melakukan efisiensi dan peningkatan kinerja ke depan. “Cara agar kita tumbuh yaitu bagaimana menindaklanjuti hal-hal yang bersifat risiko, salah satunya aspek energi harus kita amankan dan melakukan inovasi.” jelasnya.

Strategi lainnya yang akan dilakukan perseroan sebagai langkah meningkatkan kinerja, yaitu melakukan pengembangan usaha di dalam negeri dan kawasan regional. Rencananya, perseroan akan melanjutkan pembangunan pabrik baru setelah pembangunan dua pabrik di Rembang dan Indarung, Padang. “Kita sedang melakukan pengkajian dan langkah persiapan pembangunan pabrik baru yang ditargetkan di 2017. Diharapkan 2014 sudah akan dimulai, tinggal dimintakan izin dari pemegang saham.” paparnya.

Kuarta Pertama

Sementara dari sisi pangsa pasar, pada kuartal pertama tahun ini SMGR memiliki pangsa pasar domestik sebesar 43,8%. Komposisinya yaitu 39,5% di pulau Jawa, 45,8% di Sumatera, 48,1% di Kalimantan, 65,9% di Sulawesi, 40,4% di Nusa Tenggara, dan 54,3% di Indonesia Timur. Ke depan, pihaknya akan menyiapkan daya saingnya di wilayah Sumatera Selatan.

Untuk informasi, sepanjang kuartal pertama 2013, perseroan mencatatkan laba bersih senilai Rp1,24 triliun atau naik sebesar 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,01 triliun. Adapun pendapatan naik 29,4% menjadi Rp5,58 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp4,28 triliun. “Pertumbuhan kinerja ini dipicu peningkatan kapasitas produksi dari 22,5 juta ton pada 2012 menjadi 29,7 juta ton di tahun ini,” imbuhnya. (lia)