Industri Tekstil Diprediksi Tumbuh 4%

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta – Di tengah gelombang impor tekstil dari China dan lesunya pasar ekspor ke Amerika dan Eropa serta beberapa kendala yang dihadapi di dalam negeri, industri tekstil nasional tahun ini diprediksi masih bisa tumbuh sekitar 4%.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengungkap data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi tekstil mengalami penurunan hingga 17,86% pada kuartal I tahun ini.

Lebih jauh lagi Ade memproyeksikan pada kuartal II penurunan akan ditekan hingga 11% dan sampai akhir tahun bisa ditekan hingga 5% - 8%. "Secara keseluruhan pertumbuhan industri tekstil tetap menunjukkan pertumbuhan positif meski hanya 4%.

Data BPS menunjukkan pertumbuhan produksi industri manufaktur kuartal I 2013 mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. "Pertumbuhan kuartal I tahun ini mengalami kenaikan sekitar 8,94% dari kuartal I-2012. Sementara itu pada kuartal I-2012 mengalami kenaikan sebesar 11,10% bila dibandingkan dengan kuartal I-2011," ujar Ade di Jakarta, Rabu (1/5).

Adapun pada kuartal I-2013 produksi industri tekstil tercatat mengalami penurunan hingga 17,86% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kemudian, tercatat juga turun 7,09% dibandingkan dengan kuartal IV-2012.

Akan tetapi Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menuturkan pihaknya cenderung pesimistis melihat target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas atau manufaktur yang dicanangkan pemerintah sebesar 7,13% pada 2013.

Kendati demikian, target yang dinilai terlalu ambisius itu diharapkan mampu memicu dunia usaha untuk lebih produktif. Menurut Sofjan, sejumlah hambatan siap menggempur sektor industri manufaktur dalam negeri, mulai dari penaikan upah buruh, pengadaan bahan baku, membanjirnya produk impor, hingga tingginya biaya energi. "Sejumlah faktor tersebut berpengaruh signifikan terhadap kinerja industri dalam negeri," ujarnya.

Aneka tantangan tersebut dipastikan akan mengganggu dan menunda rencana ekspansi yang telah direncanakan sejumlah perusahaan. Sofjan menegaskan investor akan ragu-ragu menambah investasi di Indonesia karena pemerintah tidak memberikan kepastian terhadap sektor industri.

Di tengah tantangan itu, sejumlah sektor industri dinilai mampu menjadi kontributor utama pertumbuhan manufaktur, seperti industri otomotif dan makanan serta minuman. Sofjan menilai persaingan produk lokal dengan produk asing masih menjadi pekerjaan rumah yang harus digarap pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah harus mampu mendorong kualitas produk dalam negeri dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan bagi industri dalam negeri.

Perbaikan Kinerja

Pemerintah menargetkan pertumbuhan industri manufaktur pada 2013 mencapai 7,13% karena ditopang oleh peningkatan investasi. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menyatakan pertumbuhan industri nonmigas pada 2013 diperkirakan 6,8% seiring terus membaiknya kinerja sektor industri tersebut dalam 3 tahun terakhir.

Jika upaya maksimal dikerahkan, industri manufaktur diperkirakan tumbuh hingga 7,13%. Sejumlah sektor seperti pupuk, kimia dan barang dari karet, semen dan barang galian bukan logam, makanan dan minuman, serta otomotif berpotensi menjadi motor pertumbuhan industri manufaktur."Kinerja industri manufaktur diprediksi akan tetap berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun depan," ujar Hidayat.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan secara keseluruhan diperkirakan bisa mencapai sekitar 6,2%-6,5% pada tahun depan. Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mampu mencapai sekitar 6,2%-6,7%.

Hidayat mengungkapkan pada kuartal III/2012, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6,2% dan membuat Indonesia mencetak pertumbuhan tertinggi kedua di Asia setelah China. Dia menyatakan tingginya pertumbuhan pada triwulan III tahun ini terutama didukung oleh pertumbuhan yang relatif tinggi pada sektor industri pengolahan, khususnya subsektor industri nonmigas. Selama triwulan III, industri pengolahan mencatat pertumbuhan sekitar 6,4%, industri nonmigas mencapai pertumbuhan 7,3%, sedangkan industri migas mengalami kontraksi 5%.

Para pemain di industri manufaktur juga menyatakan optimismenya. Ketua Umum Federasi Gabungan Elektronik Indonesia Ali Soebroto Oentaryo, misalnya, memperkirakan permintaan produk elektronik dalam negeri akan tumbuh 15%-20% setiap tahun karena didorong kebutuhan konsumen yang terus meningkat.

Omzet penjualan produk tersebut diprediksi tumbuh dari Rp29 triliun pada tahun lalu menjadi Rp35 triliun pada tahun ini. Pada 2013, penjualan elektronik diprediksi meningkat menjadi Rp40 triliun.