Kemendag Berharap Ekspor Mamin Meningkat

Gelar Pameran Di AS dan Kanada

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah Indonesia berencana mengadakan pameran di Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Dengan diselenggarakannya pameran di kedua negara tersebut, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami berharap dapat meningkatkan volume ekspor produk makanan dan minuman (mamin) Hal ini dipercaya bisa mengurangi tingkat defisit neraca perdagangan.

"Kita akan mempromosikan 11 produsen makanan dan minuman Tanah Air di beberapa pameran strategis. Para pengusaha Indonesia itu akan dipertemukan dengan mitra, importir, dan distributor berpengaruh di kawasan Amerika Utara supaya membangun kerja sama jangka panjang," ungkapnya dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (1/5).

Dengan rasa makanan dan minuman yang khas, Gusmardi yakin bahwa makanan-minuman Indonesia bisa diterima karena populasi imigran Asia yang relatif berselera mirip, jumlahnya sangat besar di Amerika dan Kanada.

"Sektor makanan dan minuman memiliki potensi besar di dua negara itu yang merupakan tempat berbaur kaum imigran terbesar, termasuk yang berasal dari benua Asia di kawasan Amerika Utara. Diperkirakan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang kaum imigran di dua negara tersebut akan mencapai sepertiga dari jumlah total populasi penduduk asli," ujarnya.

Pameran yang diikuti rombongan Kemendag adalah Salon International L'Alimentation di Kota Ottawa, Kanada sejak dua hari lalu hingga besok. Pameran bisnis ini merupakan salah satu yang terbesar di wilayah Amerika utara, dengan dikunjungi 14.000 pembeli potensial dari 60 negara.

Beberapa komoditas makanan-minuman dari Indonesia yang dipasarkan meliputi nata de coco, mi instan, kelapa kering, rempah-rempah, bahan herbal, serta kopi dan teh. Gusmardi menyatakan produk yang dipamerkan adalah yang memiliki sertifikasi organik, karena konsumen di pasar Kanada dan Amerika relatif sadar lingkungan serta teliti menilai kandungan kesehatan sebuah produk.

"Produk yang diperkenalkan di pameran ini sudah disesuaikan dengan karakteristik pasar setempat. Hal ini terlihat dari meningkatnya kesadaran konsumen Amerika Utara akan produk alami dan organik," tuturnya.

Amerika masih menjadi tujuan ekspor utama produk makanan-minuman Indonesia. Tahun lalu, nilai ekspor untuk bahan makanan dari Tanah Air ke Negeri Paman Sam itu mencapai US$ 491 juta. Sementara Kanada, mengimpor komoditas konsumsi dari Indonesia sebesar US$ 20 juta.

Secara keseluruhan Indonesia berhasil memperoleh pemasukan US$ 4,49 miliar dari ekspor manakan dan minuman ke seluruh dunia, meningkat 15% selama kurun lima tahun terakhir. Kinerja sektor makanan dan minuman menunjukkan moncernya ekspor non-migas, yang mencapai US$ 15 miliar. Namun, neraca perdagangan selama triwulan pertama 2013 tercatat masih minus lantaran impor bahan bakar minyak.

Persulit Ekspor

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Siswaja Lukman menilai kebijakan yang terkait dengan pengamanan produk makanan (food safety) di sejumlah negara tujuan ekspor dinilai akan mempersulit ekspor makanan Indonesia. Peraturan food safety telah diterapkan di sejumlah negara seperti Afrika dan Amerika Latin. "Bea masuk ke negara-negara tersebut masih cukup tinggi antara 20-30% bahkan ada yang mencapai 405," ucapnya.

Dengan kebijakan food safety tersebut menjadikan produsen makana lokal sulit untuk mengembangkan ekspor ke negara-negara tersebut padahal Afrika dan Amerika Latin berpotensi menjadi pasar baru bagi ekspor produk makanan. Akibat aturan tersebut, lanjut Adhi, produsen makanan dan minuman harus puas bermain di pasar dalam negeri. "Selain itu juga akibatnya neraca perdagangan Indonesia khususnya perdagangan pangan masih defisit karena dibebani oleh impor," tuturnya.

Dia menambahkan pasar ekspor makanan bisa dimanfaatkan untuk keuntungan bagi industri dalam negeri, karena pertumbuhan penduduk global yang mencapai sekitar 1,5% per tahun adalah sebuah potensi yang harus dimaksimalkan. "Itu pasar yang cukup besar karena setiap tahunnya bertambah orang yang tentunya membutuhkan pangan," katanya.

Sekretaris Jenderal Gapmmi, Franky Sibarani memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) di 2013 akan stagnan seperti tahun ini yaitu sebesar 8%. "Dugaan kami pertumbuhannya di 2013 masih seperti tahun ini sebesar 8% karena kami pesimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas politik yang mempengaruhi produksi pengusaha," kata dia.

Dia mengatakan situasi di dalam negeri tahun 2013 akan sama dengan 2012 yaitu banyak agenda politis yang dijalankan pemerintah. Hal itu, kata dia, yang menyebabkan kebijakan yang diambil cenderung populis tanpa memperhatikan kepentingan pengusaha. "Angka moderatnya 8% di tahun depan, karena kami tidak percaya pemerintah bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan," ujarnya.

Menurut dia, pertumbuhan industri dalam negeri khususnya mamin dipengaruhi stabilitas keamanan dan jaminan stabilitas keputusan terkait industri. Dia menilai 2012 tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah sehingga mengganggu proses produksi. "Karena tahun depan apabila dilihat dari tahun 2012 akan lebih banyak diramaikan dengan peristiwa politik," katanya.