BPD Ternyata Lebih Efisien dari Bank Asing

Sabtu, 04/05/2013

BPD Ternyata Lebih Efisien dari Bank Asing

Ada kabar gembira bagi kalangan bank pembangunan daerah (BPD). Dari hasil riset yang dilakukan Muazaroh, dosen STIE Perbanas Surabaya untuk disertasi doktornya, disimpulkan bahwa BPB merupakan bank yang paling efisien berdasarkan efisiensi profit dengan return of assets (ROA) atau rasio antara laba bersih dengan seluruh aktiva yang menghasilkan laba. Bahkan dibandingkan dengan bank asing sekalipun.

Penelitian bertajuk “Model Pengkuran Efisiensi Bank Untuk Meningkatkan Daya Saing Bank“ itu dipaparkan dalam seminar Asbanda di sekretariatnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (30/4). Penelitian itu meliputi kinerja bank-bank pad akurun 2005-2009. “Efisiensi merupakan salah satu indicator kinerja perbankan,” tutur Muazaroh.

Menurut dia, efisiensi, terutama dalam hal konsolidasi dan inovasi teknologi, menjadi sangat penting untuk memenangkan persaingan di industri keuangan saat ini. Padahal, kata perempuan berkerudung itu, tingkat efisiensi bank asing itu sudah cukup tinggi, karena ditunjang permodalan yang kuat, keahlian, dan perangkat teknologi canggih. “Namun, kehadiran bank asing itu justru mendorong kompetisi hingga menyebabkan bank domestik untuk lebih efisien,” ujarnya lagi.

Dari hasil penelitiannya, Muazaroh menempatkan Bank Sulselbar sebagai bank yang paling efisien berdasrakan Stochastic Frontier Approach (SFA), disusul Bank Jateng, Bank Jatim, BPD Sultra, Bank Kaltim, Bank Kalteng, dan Bank Sulut. Sedangkan tingkat efisiensi dilihat dari sudut ROA, tertinggi ditempati BPD Sultra, lalu Bank Sulselbar, Bank NTT, dan BPD Bali.

Ekonom Muazaroh juga menegaskan, bank yang efisien dari sudut profit, mampu mengoptimalkan penggunaan dana dari pihak ketiga maupun biaya operasional lain di luar bunga yang dapat dimanfaatkan menjadi pinjaman kepada nasabah maupun penempatan di Bank Indonesia (BI) maupun bank lainnya.

Dari hasil penelitiannya, Muazaroh mengungkapkan, tingkat efisiensi BPD berapa pada posisi rata-rata 0,61 pada kurun waktu 2005-2009. Di posisi berikutnya, bank asing 0,58, bank campuran, 0,52, lalu, bank BUMN. Kalangan BPD berharap, penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk meneliti tingkat efisiensi perbankan nasional pada kurun waktu terakhir, yaitu setelah 2010 hingga 2013. Mereka berpendapat, kondisi 2005-2009 tentu sangat berbeda dengan kurun waktu 2010-2012.

Direktur Utama Bank DIY Supriyatno menambahkan, untuk mengingkatkan efisiensi dan profesionalitas dalam jangka panjang, bank daerah memang harus meningkatkan teknologi dan sumber daya manusianya melalaui standarisasi. “Dari sisi teknologi, saat ini BPD seluruh Indonesia melalui Asbanda sedang mematangkan konsep BPD Net Online yang mampu menyeragamkan kualitas dan sistem pelayanan BPD di seluruh Indonesia,” kata Supriyatno saat menjadi moderator seminar tersebut.

Supriyatno, yang juga bendahara Asbanda menjelaskan, BPD tidak khawatir dengan kehadiran bank asing di Indonesia. Sebab, mereka tidak boleh beroperasi hingga tingkat kecamatan. Namun demikian, kata dia, BPD terus berusaha melakukan ragam terobosan dalam berbagai bentuk. Antara lain mencanangkan BPD Regional Champion (BRC). BRC diyakini merupakan upaya untuk mewujudkan BPD yang efisien dengan tiga pilar, yaitu ketahanan, kelembagaan, dan kemampuan. “BRC juga diperlukan untuk menjadi agent of development yang mampu menghadirkan layanan terbaik kepada masyarakat,” kata Supriyatno lagi.

Sementara itu, Wakil Sekjen Asbanda Ellong Tjandra menambahkan, ketiga pilar tersebut berdiri di atas landasan yang kokoh, yaitu penerapan manajemen risiko yang sesuai best practices dan implementasi tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Ellong yang juga dirut Bank Sulselbar ini menjelaskan, visi BRC adalah untuk menjadikan BPD sebagai bank terkemuka di daerah. Langkah yang sudah dan sedang dilakukan adalah menawarkan berbagai produk dan layanan kompetitif dengan jaringan luas yang dikelola secara professional.

“Kami merupakan satu-satunya bank yang mengemban tugas untuk mengembangkan perekonomian di daerah, jadi BPD adalah garda terdepan pembangunan daerah,” ujarnya. Karenanya dia berharap, masyarakat di daerah agar turut bersama-sama bersama BPD mendukung program pemerintah menciptakan seluas-luasnya lapangan kerja dan produk unggulan daerah. Jika hal itu dilakukan, Ellon yakin bakal menurun tingkat kemiskinan di daerah dan naiklah tingkat kesejahteraannya.

Capaian BPD

Ellong menambahkan, saat ini, ada 12 BPD yang telah memiliki modal inti Rp 1 triliun, 15 BPD telah memiliki CAR di atas 15%, sebanyak 22 BPD telah memiliki ROA di atas 2,5%,. Lalu, 15 BPD telah memiliki BOPO di bawah 75%, 1 BPD telah berhasil mencapai NIM kurang dari 5,5%.

“Ini adalah kontribusi terbesar BPD guna memajukan daerah-daerah di Indonesia,” tegas Ellong. Tingginya kontribusi BPD terhadap daerah, antara lain ditunjukkan dalam bentuk setoran ke kasa daerah sebanyak 50% laba plus dana pembangunan sebesar 10% laba.

Menurut Ellong, saat ini ada sebanyak 19 BPD yang sudah berhasil mencapai pertumbuhan kredit minimum 20%, empat BPD berhasil mencapai proporsi kredit produktif minimum 40%. Sedangkan penyaluran kredit masih didominasi kredit konsumsi sehingga belum optimal dalam mendorong sektor riil di daerah. “Saat ini sebanyak 17 BPD telah berhasil mencapai LDR di atas 78% serta berhasil mencapai DPK di luar dana Pemda minimum 70%. (saksono)